Kapan Tambahan Adzan Subuh Diucapkan

Adzan Saat Shalat JUM’AT
dan Tatswib Saat SUBUH

Soal:

Assalamu’alaikum. Kami mendapati pada sebagian masjid ada yang menjadikan adzan untuk shalat Jum’at sekali dan ada yang dua kali, sebagaimana ada juga yang menjadikan tatswib pada adzan pertama sebelum subuh dan ada yang saat adzan subuh. Kami mohon penjelasan tentang perbedaan ini. Manakah yang benar dan bagaimana menyikapinya?! Jazakumullahu khairan. (Hamba Allah, via sms)

Jawab:

Masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan ulama sejak dahulu hingga sekarang. Sebab itu, sebelum kami mengetengahkan jawaban atas pertanyaan ini, perlu kiranya kami menghimbau kepada saudara-saudara kami untuk menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah seperti ini dengan bijak, yaitu sikap lapang dada. Masalah ini juga hendaknya menjadikan kita untuk lebih memperluas wacana tentang perselisihan ulama, karena sebagaimana kata Imam Qatadah, “Barangsiapa yang tidak mengetahui perselisihan ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih.”[1]

Adapun mengenai pertanyaan Saudara, terdapat dua permasalahan yang perlu dijelaskan:

MASALAH PERTAMA: TATSWIB[2]

Tatswib adalah ucapan seorang muadzin اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ (artinya: “Shalat lebih baik dari-pada tidur”). Tatswib hukumnya sunnah pada adzan shalat Subuh saja[3], selain shalat Subuh tidak disyari’atkan. Hanya, kapankah tatswib diucapkan? Apakah pada adzan pertama sebelum subuh ataukah adzan subuh setelah terbit-nya fajar? Masalah ini diperselisihkan ulama:

Pendapat Pertama

Tatswib disyari’atkan pada adzan pertama sebelum subuh. Ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Hanbali[4] dan dipilih oleh ash-Shan’ani[5] dan Syaikh Albani[6]. Dalil mereka adalah sebagai berikut:

1. Dalil hadits

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ كُنْتُ أُؤَذِّنُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكُنْتُ أَقُولُ فِي أَذَانِ الْفَجْرِ الْأَوَّلِ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Dari Abu Mahdzurah عزّوجلّ berkata, “Saya adzan untuk Rasulullah s§g dan saya mengatakan pada adzan fajar pertama ‘Hayya ‘alal Falah: Ash-shalatu khairun minan naum.’”[7]

Mereka mengatakan, hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa tatswib itu hanya khusus pada adzan pertama dari shalat Subuh.

2. Dalil akal

Mereka mengatakan, tujuan utama adzan pertama adalah membangunkan orang tidur, sedangkan adzan kedua adalah pemberitahuan masuknya waktu.

Pendapat Kedua

Tatswib disyari’atkan pada adzan kedua setelah subuh. Inilah madzhab Hanabilah[8] dan dipilih oleh Syaikh Ibnu Baz[9], Syaikh Ibnu Utsaimin[10], dll. Dalil mereka adalah:

1. Semua riwayat hadits yang menyebutkan disyari’atkannya tatswib menegaskannya dengan adzan untuk shalat Subuh atau shalat Fajar. Hal ini tidak mungkin dipahami kecuali untuk shalat Subuh setelah masuknya waktu shalat. Adapun adzan pertama bukanlah panggilan untuk shalat.

2. Hadits Nu’aim bin Nahham رضي الله عنه sebagai berikut:

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ النَّحَّامِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ امْرَأَتِيْ فِي مِرْطِهَا فِي غَدَاةٍ بَارِدَةٍ فَنَادَى مُنَادِى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى صَلاَةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا سَمِعْتُ قُلْتُ لَوْ قَالَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ، فَلَمَّاقَالَ الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ، قَالَ: وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ

Dari Nu’aim bin Nahham رضي الله عنه berkata, “Pada suatu malam aku bersama istriku dalam selimutnya pada subuh yang sangat dingin, lalu muadzin Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil untuk shalat Subuh. Tatkala aku mendengar maka aku berkata, ‘Seandainya dia mengatakan: Barangsiapa yang duduk maka tidak apa-apa.’ Tatkala dia mengatakan: ‘Ashshalatu khairun minan naum‘ dia mengatakan, ‘Barangsiapa yang duduk maka tidak apa-apa.’”[11]

Segi perdalilan dari hadits ini dari beberapa segi:[12]

a. Lafazh “Pada ghadah yang dingin dia memanggil”, ini merupakan dalil bahwa panggilan ini terjadi pada waktu ghadah yaitu subuh/fajar shadiq, bukan akhir malam, karena ghadah dalam bahasa Arab adalah semenjak terbitnya fajar hingga terbitnya matahari.[13]

b. Lafazh “Memanggil untuk shalat Subuh”, ini merupakan dalil bahwa panggilan tersebut untuk shalat, tentu saja ini tidak bisa dipahami kecuali adzan setelah masuknya waktu shalat Subuh.

c. Lafazh “Barangsiapa yang duduk maka tidak apa-apa”, ini juga merupakan dalil bahwa panggilan tersebut mewajibkan pergi kemasjid untuk melakukan shalat bagi orang yang mendengarnya.

3. Ucapan Sahabat Anas رضي الله عنه:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ التَّثْوِيْبُ فِي صَلاَةِ الْغَدَاةِ إِذَ قَالَ الْمُؤَذِّنُ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ

Dari Anas رضي الله عنه berkata, “Adalah tatswib pada shalat Subuh apabila muadzin mengatakan: ‘Hayya ‘alal Fatah’ dia mengatakan: ‘Ash-shalatu khairun minan naum.’”[14]

Tidak ragu lagi bahwa pendapat kedua ini adalah pendapat yang sangat kuat, karena beberapa segi:

Pertama: Dalil pendapat pertama dengan hadits Abu Mahdzurah bisa dijawab bahwa maksud adzan pertama dari shalat Subuh adalah adzan subuh setelah masuknya waktu, sedangkan adzan keduanya adalah iqamat, se-bab iqamat juga disebut dengan adzan sebagai-mana dalam hadits:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَة

“Antara dua adzan disunnahkan shalat.”[15]

Demikian juga dalam hadits Saib bin Yazid رضي الله عنه:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ الَّذِي زَادَ التَّأْذِينَ الثَّالِثَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ كَثُرَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ

“Sesungguhnya yang menambahkan adzan ke-tiga pada hari Jum’at adalah Utsman setelah ma-nusia banyak. “[16]

Padahal tidak ada dalam Jum’at kecuali dua adzan dan iqamat. Lebih jelas lagi, mari kita perhatikan hadits Aisyah رضي الله عنها sebagai berikut:

أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ بِالْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ بَعْدَ أَنْ يَسْتَبِينَ الْفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ

Dan Aisyah رضي الله عنها berkata, “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila muadzin selesai dari adzan pertama shalat Subuh beliau berdiri lalu shalat dua raka’at ringan sebelum shalat Fajar setelah jelas fajar kemudian beliau berbaring pada bagian kanannya sehingga muadzin datang kepada beliau untuk iqamat. “[17]

Al-Hafizh Ibnu Hajar asy-Syafi’i رحمه الله berkata: “Maksud beliau dengan pertama adalah adzan setelah masuknya waktu, dia disebut awal dibanding dengan iqamat, dan juga disebut kedua dibanding dengan adzan sebelum fajar”.[18] Jadi, dalam hadits ini Aisyah menggunakan lafazh yang sama dengan maksud untuk adzan subuh setelah masuknya waktu.

Kedua: Dalam hadits Abu Mahdzurah رضي الله عنه dikatakan “Adzan pertama dari subuh” atau “dari fajar” menunjukkan untuk shalat Subuh, sedangkan adzan pertama itu belum masuk waktu subuh atau fajar, tetapi masih malam. Lebih-lebih lagi terdapat riwayat “Apabila pada shalat Subuh” sedangkan shalat Subuh itu jelas setelah masuknya waktu.

Ketiga: Dalam sebagian riwayat Abu Mahdzurah رضي الله عنه tatswib diiringi dengan iqamat, ini adalah indikasi yang sangat kuat bahwa maksudnya adalah adzan yang setelah itu adalah iqamat yaitu adzan subuh bukan sebelum subuh.

Keempat: Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan tatswib kepada Abu Mahdzurah رضي الله عنه, hal ini bisa dipahami bahwa maksudnya adalah adzan setelah masuknya waktu sebagaimana zhahirnya hadits.[19]

Kelima: Tidak dinukil bahwa Abu Mahdzurah رضي الله عنه kadang-kadang melakukan adzan sebelum subuh dan kadang setelah subuh.[20] Adanya dua adzan tersebut hanya ada ketika di Madinah.

Keenam: Adzan subuh sangat tepat dengan tatswib, yaitu dengan menjelaskan kepada manusia bahwa shalat yang diwajibkan oleh Allah kepada para hamba-Nya lebih baik bagi mereka daripada tidur pada saat itu, maka sewajibnya bagi hamba untuk segera bangkit dari tidur untuk menuju masjid.[21]

Ketujuh: Adapun dalil akal mereka bahwa tujuan adzan pertama adalah untuk membangunkan orang, kita putar dalil ini bahwa justru dalil ini menguatkan pendapat kami, karena sebagaimana diakui bersama bahwa tujuan adzan ini bukan untuk shalat Subuh melainkan untuk membangunkan, padahal tatswib itu disyari’atkan untuk adzan shalat Subuh sebagaimana dalam hadits “Adzan pertama dari subuh”.[22]

Sengaja kami sedikit memperluas masalah ini dengan tujuan untuk mengingatkan saudara-saudara kami tercinta agar tidak tergesa-gesa dalam mengingkari ibadah yang sudah berjalan di masyarakat, kecuali apabila kita memiliki dalil yang sangat jelas — sejelas matahari di siang bolong. Alangkah bagusnya nasihat Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله tatkala mengatakan, “Tidak boleh kita tergesa-gesa menyelisihi masyarakat, kecuali setelah sangat jelas kebenaran bagi kita, maka saat itu kita harus menjelaskan kebenaran.”[23]

Setelah itu, tinggal kami ingatkan bahwa letak ucapan “Ash-shalatu khairun minan naum” adalah setelah “Hayya ‘alal falah” sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Sementara itu, bagi pendengarnya hendaknya menjawab seperti ucapan muadzin tersebut.[]

Disalin dari Majalah Al-Furqon, No.128 Ed.3 Th.ke-12_1433H/2012M Rubrik Soal-Jawab asuhan Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi خفظه الله.


[1] Jami’ Baiyanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr 2/814-815
[2]
Pada kesempatan ini kami hanya memposting jawaban atas masalah pertama dan Insya Allah akan kami posting jawaban atas masalah kedua serta eBooknya dalam format .doc_Ibnu Majjah
[3] Imam Ibnu Hubairah berkata dalam al-Ifshah (1/234), “Mereka bersepakat bahwa tatswib dalam adzan hanya dalam shalat Fajar saja.”
[4]
Syarh Muntahal Iradat 1/134 oleh al-Buhuti
[5]
Subulus Salam 1/231
[6]
Ats-Tsamarul Mustathab 1/131-132, Tamamul Minnah hlm. 147.
[7]
HR. Nasa’i: 1611 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan Nasa’i 1/215.
[8]
Syarh Muntahal Iradat 1/134
[9]
Fatawa Lajnah Da’imah 6/58-60
[10]
Asy-Syarh al-Mumti’ 2/61, Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 12/186.
[11]
HR. Abdurrazzaq ‘dalam al-Mushannaf 1/502, Ahmad no. 18099, al-Baihaqi dalam Sunan Kubra 1/398 dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/117.
[12]
Al-Adzan hlm. 71-72 oleh Usamah al-Qushi
[13]
Lihat ash-Shihah 6/442 oleh al-Jauhari dan Lisanul Arab 10/26 oleh Ibnul Mandhur.
[14]
Dikeluarkan ath-Thahawi 1/137, ad-Daraquthni 1/243, al-Baihaqi 1/423 dan beliau menshahihkannya.
[15]
HR. Bukhari: 601 dan Muslim: 838
[16]
HR. Bukhari: 912
[17]
HR. Bukhari: 626
[18]
Fathul Bari 2/109
[19]
Lihat at-Tarjih fi Masail Thaharah wash Shalah hlm. 148-149 oleh Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazimul.
[20]
Fatawa Ibnu Utsaimin 12/176
[21]
Minhatul Alam 2/245 oleh Abdullah al-Fauzan. Lihat pula asy-Syarh al-Mumti’ 2/63-64 oleh Ibnu Utsaimin.
[22]
Ahkamul Adzan hlm. 91 oleh Sami al-Farraj. Lihat pula Buhuts Ilmiyyah Nadirah: 127-134 oleh Syaikh Fahd bin Abdullah ash-Shaq’abi.
[23]
Fathu Dzil Jalali wal Ikram 2/137 oleh Ibnu Utsaimin

Tulisan terkait:
Tambahan Adzan Subuh Kapan di Ucapkan? oleh Syaikh al-Albani