Menunda Menikah Demi Kuliah

Soal:

Apa hukum menunda pernikahan dengan alasan kuliah, padahal dia sudah siap nikah -insya Alloh-. Aisyah-Solo

Jawab:

Pertanyaan semisal pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله, dan inilah jawabannya,[1] beliau رحمه الله mengatakan:

“Menunda pernikahan sebab menyelesaikan studi hukumnya adalah menyelisihi perintah Nabi صلى الله عليه وسلم, karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda:

إِذَا أَتَاكُمْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ

Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.

Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu mampu menikah, maka hendaklah menikah, karena (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.

Dan menolak untuk dinikahi adalah menyia-nyiakan banyak kemaslahatan pernikahan, maka aku nasehatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin di antaranya para wali/orang tua, supaya mereka (para wanita) tetap menyelesaikan studinya atau (tetap) mengajar, dan (bersedia dinikahi) sambil bersyarat kepada suaminya untuk terus menyelesaikan studinya, atau tetap mengajar selama satu atau dua tahun selagi belum disibukkan dengan (adanya) anak-anaknya, maka demikian ini tidak mengapa, akan tetapi (ungkapan) bahwa “wanita tidak perlu untuk melanjutkan studinya ke tingkat universitas” adalah ungkapan yang perlu ditinjau kembali.

Maka menurut saya, seorang wanita yang sudah menyelesaikan studi tingkat sekolah dasar, apabila dia sudah bisa baca tulis, sehingga dapat memanfaatkan kemampuan ini untuk membaca al-Qur’an dan tafsirnya serta membaca hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم, maka (kemampuan) itu sudah cukup (untuk menikah), kecuali apabila dia melanjutkan studi untuk mendapatkan ilmu yang harus di dapat untuk kebutuhan manusia, seperti ilmu kedokteran, dan semisalnya dengan syarat dalam studinya tidak ada perkara yang dilarang seperti bercampur baur antara laki-laki dengan perempuan, maka sebaiknya dia lanjutkan studinya.[]

Disalin dari Majalah al-Furqon no.78 Ed.8 Th. ke-7 1429/2008 rubrik Soal Jawab hal. 5 asuhan Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله.


[1] Jawaban ini kami terjemahkan dari Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah yang disusun oleh Asyrof ibnu Abdil Maqsud bab: Nikah

Download:
Menunda Menikah Demi Kuliah
Download Word

About these ads