Shalat Maghrib Witirnya Shalat Fardhu?

Soal:

Assalamu’alaikum, saya pernah mendengar ceramah yang menyatakan “Shalat Maghrib merupakan witirnya shalat fardhu”. Saya mohon ditunjukkan dalilnya. Terima kasih.

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

صَلَاةُ الْمَغْرِبِ وِتْرُ النَّهَارِ

“Shalat Maghrib adalah witir siang.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam Musnad beliau 8/456 No. 4847 dari Abdullah ibn Umar رضي الله عنهما, dan dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu No. 6720.[]

Sumber: Majalah Al-Furqon No.149 Ed. 01 Th. Ke-14, hal.5 Rubrik Soal-Jawab Asuhan Ustadz Abdullah Roy, Lc, MA.

Sujud Tilawah Dalam Keadaan Suci?

Soal:

Assalamu’alaikum.

Barakallahu fika. Afwan, Ustadz, ana mau tanya apakah setiap sujud tilawah ketika membaca al-Qur’an harus dalam keadaan suci? Setelah sujud apakah ada salamnya? Mohon penjelasannya. Syukran, jazakallahu khairan. (Nur, Jateng)

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Wa fika barakallahu. Pendapat yang lebih kuat, sujud tilawah di luar shalat tidak disyaratkan dalam keadaan suci karena sujud tilawah bukan shalat, ia hanyalah satu ibadah yang menunjukkan ketundukan kepada Allah.

Al-Imam al-Bukhari رحمه الله membawakan atsar dari Abdullah ibn Umar رضي الله عنهما bahwa beliau dahulu sujud tanpa berwudhu. (Shahih al-Bukhari 2/32)

Sujud tilawah di luar shalat juga tidak ada salam setelahnya karena tidak adanya dalil. Perlu diketahui bahwa menyentuh mushhaf harus dalam keadaan suci menurut mayoritas ulama.[]

Sumber: Majalah Al-Furqon No.149 Ed. 01 Th. Ke-14, hal.4 Rubrik Soal-Jawab Asuhan Ustadz Abdullah Roy, Lc, MA.

Malas Shalat

Soal:

Bagaimana pandangan dalam Islam jika seorang isteri taat kepada Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Sedangkan suami dan anak-anaknya tidak. Mohon jawaban dimuat pada edisi Juni 2013. Syukran katsira.

08180363xxxx

Jawab:

Isteri mengetahui suami dan anak-anaknya malas atau bahkan meninggalkan shalat, berkewajiban untuk mengingkari mereka. Tentunya dengan cara-cara yang bijak dan lembut. Ingatkan tentang hukum shalat, pahala mendirikan shalat dan dosa orang yang meninggalkan shaiat dengan sengaja. Sebagaimana mendakwahi mereka juga dapat dilakukan dengan memberikan hadiah atau lainnya bila mereka mendirikan shaiat. Yang demikian itu karena setiap muslim -terlebih isteri atau ibu- berkewajiban untuk berperan aktif dalam mengingkari kemungkaran dan memerintahkan kebaikan. Baca lebih lanjut

Doa Khusus Dalam Shalat Dhuha

Soal:

Mohon dijelaskan tentang doa setelah shalat Dhuha, adakah yang dikhususkan?

08132707xxxx

Jawab:

Sebatas yang kami ketahui dan kami pelajari, tidak menemukan atau mengetahui ada doa khusus yang dibaca seusai mendirikan shalat Dhuha.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-Shawab.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah Th.ke-XVII_1434H/ 2013M, Rubrik Soal-Jawab hal. 6, asuhan Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله.

Imam Tuna Rungu

Soal:

Di desa kami ada imam shalat secara kriteria memenuhi syarat sebagai imam shalat tetapi tuna rungu.Apakah ia sah menjadi imam? Jazakallah.

08122264xxxx

Jawab:

Ahli fiqih telah menegaskan bahwa seorang yang tuna rungu boleh menjadi imam, asalkan memenuhi persyaratan, laki-laki, mampu membaca dengan benar dan mengetahui tata cara shalat yang benar, sebagaimana orang yang buta juga boleh menjadi imam. Telah tetap dalam riwayat yang shahih bahwa Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu anhu pernah memimpin shalat penduduk Madinah, yaitu ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang safar berjihad di jalan Allah.

Adapun bila imam yang tuli tersebut lupa maka jamahnya dapat saja mengingatkannya dengan isyarat atau lainnya, sehingga ia dapat mengambil tindakan yang tepat sesuai yang diajarkan dalam kondisi semacam ini.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-Shawab.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah Th.ke-XVII_1434H/ 2013M, Rubrik Soal-Jawab hal. 6, asuhan Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله.

Shalat Jum’at Tidak di Masjid

Soal:

Assalamu ‘alaikum, beberapa media massa memberitakan tentang sebagian kaum Muslimin yang melakukan shalat Jum’at bukan di masjid, tapi di lapangan atau jalan raya/umum. Misalnya mereka menggelar demo, kemudian mereka menggelar shalat Jum’at di tempat kejadian dengan khatib dan imam dari salah seorang mereka. Mohon penjelasan tentang masalah ini? Adakah dalil yang menjelaskan bahwa shalat Jum’at boleh dilakukan disetiap tempat? Jazokumullah khairan.

085374226xxxx

Jawab:

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم selalu melakukan shalat Jum’at di dalam masjid. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak pernah melakukannya di luar masjid sebagaimana beliau contohkan dalam shalat ‘led. Namun jika karena alasan tertentu shalat Jum’at di luar masjid, baik di lapangan maupun yang lain, maka hukumnya sah menurut sebagian besar Ulama. Tapi perlu diketahui bahwa menurut madzhab Malik, shalat Jum’at harus dilakukan di dalam masjid, dan jika dilakukan di luar maka tidak sah.[1]

Mempertimbangkan perbedaan pendapat ini, hendaklah seorang Muslim tidak melakukan shalat Jumat di luar masjid kecuali jika memang tidak ada masjid yang bisa dipakai; karena keluar dari perbedaan pendapat dianjurkan dalam agama. Sebagian Ulama kontemporer bahkan menjelaskan bahwa shalat Jum’at di luar masjid adalah bid’ah.[2]

Baca lebih lanjut

Sholat dan Wudhu Dengan Kuku Buatan

Soal:

Apakah dibolehkan shalat dan ibadah saat memakai kuku buatan, karena kuku selalu pecah akibat kekurangan kalsium dalam tubuh?

Jawab:

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid حفظه الله menjawab:

Alhamdulillah…

Tidak mengapa memasang kuku buatan yang permanen jika sebabnya adalah pecahnya kuku secara alami karena kekurangan kalsium dalam tubuh. Adapun memasangnya dengan tujuan sebagai perhiasan dan mempercantik diri, maka hal itu tidak dibolehkan. Lihat jawaban pada soal 21724. Tidak mengapa shalat dengan kuku tersebut, dengan syarat dicopot ketika berwudu dan mandi junub agar air  sampai ke bagian bawahnya.

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Da’imah, 5/218, “Jika pewarna kuku tersebut memiliki partikel di atas kuku, maka tidak sah berwudu sebelum menghilangkannya, jika tidak memiliki partikel dibolehkan berwudu seperti hina (pacar).”

Jika hal tersebut berlaku bagi pewarna kuku, maka kuku buatan lebih dari itu (tidak boleh dipakai saat berwudu).

Wallahu’alam .[]

Disalin dari IslamHouse.Com yang bersumber dari IslamQa.

Download:
Download Word

Duduk Raka’at Kedua

Soal:

Bagaimanakah posisi duduk tahiyyat pada shalat yang dua raka’at, seperti Shubuh, Jum’at, shalat sunnah, tarawih dan witir? Apakah seperti halnya tahiyyat awal atau tahiyyat akhir pada shalat empat raka’at?

0812251xxxx

Jawab:

Apabila shalat hanya dua raka’at, baik shalat fardhu (seperti halnya shalat Shubuh) maupun shalat sunnah yang hanya ada satu tasyahud (tahiyyat), maka duduk yang disunnahkan ialah duduk iftirasy. Yaitu seperti duduk pada tasyahud awal pada shalat yang lebih dari dua raka’at. Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah رضي الله عنها yang berbunyi:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Dahulu Rasulullah صلى الله عليه وسلم gmengucapkan at-tahiyyat pada setiap dua raka’at dan duduk iftirasy. (HR. Muslim).

Dalam kitab Sifat Shalat Nabi صلى الله عليه وسلم, halaman 156, Syaikh al-Albani menjelaskan: “Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم duduk untuk tasyahud setelah selesai dari raka’at kedua. Apabila shalatnya dua raka’at, seperti Shubuh, maka beliau صلى الله عليه وسلم duduk iftirasy sebagaimana duduk antara dua sujud”.

Baca lebih lanjut

Shalat di Atas Kapal Dengan Duduk?

Soal:

Apakah ada udzur untuk shalat duduk di kapal laut/penumpang yang berangkat sehari semalam? Kalau untuk lakik-laki mungkin bisa berusaha mencari tempat berdiri, tetapi untuk perempuan takut fitnah, apalagi kalau bercadar, tentu saat shalat dibuka. Akan tetapi ada yang bilang wajib berdiri selagi mampu/sehat, tak ada udzur walau di kapal. Jazakumullah.

08577141xxxx

Jawab:

Pada asalnya, shalat wajib yang dilakukan di mana saja harus dengan berdiri, kecuali jika tidak mampu karena sakit, atau karena pusing dan takut tenggelam bagi penumpang kapal, semacamnya, maka boleh dilakukan dengan duduk.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Dari ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه, dia berkata: “Aku dahulu berpenyakit bawasir, lalu aku bertanya kepada Nabi ss tentang shalat, maka beliau menjawab, ‘Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu, maka dengan duduk. Jika engkau tidak mampu, maka dengan berbaring’.”[1]

Baca lebih lanjut

Tempat-Tempat Mengangkat Tangan Dalam Shalat

Soal:

Apakah Nabi صلى الله عليه وسلم pada setiap perpindahan dari satu raka’at ke raka’at berikutnya selalu takbir dengan mengangkat tangan pada saat raka’at ke 2 ke raka’at 3 saja? Dan bagaimana pula bila makmum masbuk untuk menyempurnakan shalat, apakah juga harus mengangkat tangan?

Rohaeti, 0813144xxxx

Jawab:

Yang biasa dilakukan Nabi صلى الله عليه وسلم dalam masalah mengangkat tangan saat shalat, yaitu pada waktu takbiratul ihram, pada waktu akan ruku’ dan bangkit dari ruku’, dan pada waktu berdiri dari raka’at ke dua. ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah bertakbir untuk ruku’, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya dan mengatakan: sami’allahu liman hamidah Rabbana wa lakal hamdu.[1]

Baca lebih lanjut