Bagimana Imam Memendekkan Sholat

Soal:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Kami mendengar hadits yang berisi perintah bahwa jika kita sedang menjadi imam sholat, maka kita harus memendekkan sholat tersebut. Apakah yang dimaksud memendekkan sholat di sini, dan bagaimana praktiknya yang benar? Apakah harus membaca surat-surat pendek saja seperti al-Ikhlash, an-Nas, dan semisalnya? Kami mohon jawaban beserta dalil serta penerapan yang benar menurut pemahaman yang benar pula, karena sebagian kami menjadi imam sholat lima waktu di masjid. Terima kasih atas penjelasannya. (ZA, 08xxx0849xxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Dalam hal panjang dan pendeknya bacaan, telah dibedakan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم antara sholat sendirian dan sholat berjama’ah. Beliau bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Jika di antara kamu sholat mengimami manusia, maka hendaklah meringkas, karena di antara mereka ada yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Akan tetapi, jika sholat sendirian, maka hendaklah memanjangkan semaunya.” (HR. Bukhori: 662)

Akan tetapi, bukanlah yang dimaksudkan meringkas sholat adalah membaca setiap roka’atnya dengan surat-surat pendek seperti al-Ikhlash dan an-Naas atau semisalnya. Kita harus mema-hami maksud hadits di atas sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat syari’at yang mulia ini, dan jika penafsiran suatu hadits dikembalikan (dipasrahkan) kepada semua manusia, niscaya mereka akan berbeda penafsiran dan akan terus berselisih. Suatu misal tentang penafsiran hadits ini, seorang penghafal al-Qur’an akan menga-takan bahwa Surat al-Anfal, Surat Yusuf, Surat Yunus, dan semisalnya adalah surat-surat yang pendek (karena dia telah menghafalnya di luar kepala), sementara orang yang tidak mempunyai hafalan al-Qur’an akan mengatakan bahwa Surat al-Ghosyiyah, al-’Alaq, al-Balad, adh-Dhuha, dan semisalnya adalah surat- surat yang panjang. Maka mustahil terjadi kesamaan persepsi dari setiap manusia.

Baca lebih lanjut

Hukum Wanita Memotong Rambut

Soal:

Apa hukum seorang wanita memotong rambutnya?

Jawab:

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Seorang wanita yang memotong rambutnya harus dilihat dari faktor pendorongnya, jika ia memotongnya dengan tujuan menyerupai wanita-wanita kafir atau fasik, maka tidak boleh ia memotongnya dengan niat tersebut.

Adapun jika ia menyenangkan suaminya, maka saya tidak melihat adanya larangan atas perbuatan memotongnya dengan maksud meringankan beban rambutnya atau untuk menyenangkan suaminya, maka saya tidak melihat adanya larangan atas perbutan tersebut. Di dalam shohih Muslim:

أَنَّ نِسَاءَ النَّبِـيِّ صلى الله عليه وسلم كُنَّ يَأْخُذْنَ مِنْ شُعُوْرِهِنَّ حَتَّى تَكُوْنَ كَالْوَفْرَةِ

“Bahwasanya isteri-isteri Nabi صلي الله عليه وسلم mengambil (memotong) rambut-rambut mereka hingga seperti wafroh.” (Majalah al-Ashaalah: I : 47-48)

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 224.