Produk Dagang Diselipi Uang

Soal :
Saya seorang istri dari keluarga yang berkecukupan dalam ekonomi. Suami pedagang mainan yang sukses alhamdulillah. Setahun ini, dia menambah satu jenis dagangan lagi berupa makanan yang diselipi uang bagi yang beruntung. Apakah jenis ini diperbolehkan syariat? Mohon jawabannya.

Fulanah di Bumi Allah

Jawab:

Semoga Allah سبحانه و تعالي menaungi Ibu dan keluarga dengan rahmat dan keberkahan harta.

Allah  telah membuka pintu mencari ma’isyah (penghasilan) lebar-lebar. Siapapun boleh mengusahakan sesuatu demi mendapatkan penghasilan untuk mencukupi keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Di antara pintu rezeki yang dihalalkan ialah jual-beli. Allah سبحانه و تعالي berfirman:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah telah menghalalkan jual-beli serta mengharamkan riba (QS.al-Baqarah[2]: 275)

Jual-beli yang menjadi mata pencaharian banyak orang, bila dikaitkan dengan kaca mata Islam, masuk kategori pembahasan mu’amalah. Para Ulama telah memasukkan pembahasan itu dalam bab al-buyu’ (jual-beli) dalam kitab-kitab fiqih Islam. Artinya, sudah semestinya orang yang menekuni dunia perdagangan wajib -tidak bisa tidak- untuk mendalami hukum-hukum seputar jual-beli supaya tidak terjerumus dalam dusta, penipuan, riba, judi, khianat, kezhaliman, perdagangan barang-barang haram maupun melakukan sesuatu yang mengakibatkan terjadinya perbuatan haram dalam proses transaksinya.

Hukum asal hal-hal yang menyertainya adalah boleh, selama tidak ada ketentuan sya’iat yang dilanggar. Tentang masalah yang ditanyakan, menjual produk dengan diselipi hadiah tertentu, bisa berbentuk uang tunai, atau hadiah-hadih lain yang tertulis pada kemasan bagian dalam, hal itu biasanya dilakukan untuk melariskan dagangan.

Gambaran hadiah yang diberikan seperti diungkap penanya, hukumnya tidak boleh, karena mengandung unsur maisir (perjudian).[1] Pasalnya, hadiah uang cash tidak ada pada setiap produk yang dijual. Ini akan mengakibatkan orang (anak-anak) melakukan spekulasi yang diharamkan dengan sering membeli dengan harapan mendapatkan hadiah uang, padahal kemungkinannya kecil. Tentang larangan berjudi, Allah عزّوجلّ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban) untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat. Maka, tidakkah kamu mau berhenti? (QS. Al-Maidah[5]: 90-91)

Orang membeli tidak menginginkan produk itu sendiri, tapi hadiah yang dijanjikan. Padahal, biasanya, produk yang berisi hadiah tidak banyak, sehingga orang yang beruntung pun demikian. Orang akan lebih banyak mendapatkan kupon yang kosong, atau tulisan ‘anda belum beruntung’.

Yang ‘beruntung’ akan ketagihan dan ingin membeli lagi. Sementara yang belum ‘beruntung’ pun ingin membeli lagi juga karena rasa penasaran dan berharap mendapatkan hadiah uang. Jadi selain dilarang karena ada unsur perjudian, juga mengakibatkan perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan. Dan mereka semua telah melakukan hal-hal yang dapat mengancam keselamatan mereka di dunia dan akherat, sehingga tidak beruntung lagi.

Maka, pesan kami, urungkan niat untuk meluncurkan produk tersebut. Memang, mungkin saja omset penjualan terdongkrak naik dengan cara itu. Akan tetapi, marilah kita bersama mengingat, bahwa hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama dalam jual-beli hanya akan menjauhkan keberkahan. Naudzubillah min dzalik. Ketika keberkahan hilang dari harta kita, kekayaan yang melimpah pun tidak akan mendatangkan manfaat yang banyak, justru sebaliknya memunculkan kesulitan demi kesulitan, dan mungkin saja, keluarga menjadi pecah, tidak dinaungi ketentraman yang hakiki.

Karena itulah, Islam sangat menekankan agar sumber keuangan sudah pasti halal. Harta seperti inilah yang mendatangkan keberuntungan di dunia dan akherat, seperti diungkap dalam ayat di atas. Wallahu a’lam

Ustad Abu Minhal

Sumber:
Majalah As-Sunnah No 8/ Thn.XIV Muharram 1432 H, Suplemen Baituna hal 10-11, dengan judul: Meluncurkan Produk Baru Dengan Diselipi Uang Bagi yang ‘Beruntung’


[1] Lihat Fiqhul Nawazil 3/116, DR. Muhammad Husain al-Jizaani

 

Iklan