Makna Ayat 187 Surat Al-Baqarah

Soal:

Apakah makna ayat “… tetapi janganlah kamu campuri para istri itu sedang kamu beri’tikaf.” (Al-Baqarah: 187)?


J
awab:

Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab:

Allah melarang mencampuri istri dalam keadaan i’tikaf di masjid setelah membolehkan mencampurinya pada bulan Ramadhan. Orang-orang yang beri’tikaf tidak boleh mencampuri istri-istrinya, baik dengan jimak maupun mubasyarah (bercumbu), baik pada malam atau siang hari jika orang yang beri’tikaf itu tidak beipuasa. Karena makna i’tikaf secara bahasa ialah meninggalkan perkara-perkara yang banyak dan meluangkan waktu untuk beribadah. Apabila seseorang mencampuri istrinya maka batallah i’tikafnya. Demikian pula bila ia keluar masjid tanpa ada kebutuhan mendesak juga membatalkan i’tikaf. Seperti pergi ke pasar dan lainnya.

Ayat di atas menunjukkan bahwa i’tikaf itu harus diadakan di masjid yang dipakai untuk shalat berjama’ah dan memiliki imam rawatib. Tidak boleh i’tikaf menyendiri di mushalla, rumah atau tanah lapang atau masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah. Orang yang beri’tikaf di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah di dalamnya berada di antara dua keadaan yaitu antara i’tikaf dan meninggalkan shalat jama’ah. Bila ia tetap di dalam masjid berarti ia meninggalkan shalat berjama’ah padahal shalat berjama’ah wajib hukumnya. Atau ia keluar dari masjid untuk shalat berjama’ah di masjid yang didirikan shalat jama’ah tiap shalat 5 waktu yang hal ini menghilangkan makna i’tikaf. Maka i’tikaf harus diadakan di masjid-masjid yang dipakai shalat jama’ah karena lafal ayat menyebutkan fil masajid (di masjid-masjid).

I’tikaf disebutkan pada akhir-akhir ayat puasa, seharusnya dan lebih baik dilakukan ketika seorang dalam keadaan berpuasa dan Nabi tidak i’tikaf selain bulan Ramadhan yakni ketika puasa.[]

Disalin dari Majalah Fatawa Vol III/ No.10_1428 H/2007 M, hal. 50.

Iklan