Nur Muhammad صلي الله عليه وسلم

Soal:

Assalamu’alaikum Warohmatulloh. Apakah dibenarkan kita mengatakan bahwa Rosululloh صلي الله عليه وسلم itu adalah manusia biasa seperti kita, dia makan dan minum seperti kita, dia tidur seperti kita dan dia pernah lupa seperti kita, untuk menepis anggapan bahwa Rosululloh صلي الله عليه وسلم adalah nur yang mana segala sesuatu diciptakan karena nur-nya? Terima kasih atas penjelasannya. (H.A-Sidoarjo)

Jawab:

Wa’alaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh. Perkataan di atas bahwa Rosululloh صلي الله عليه وسلم adalah manusia biasa adalah masih global, di dalamnya masih mengandung makna yang benar dan makna yang bathil. Oleh karena itu sebaiknya perkataan di atas dilengkapi supaya tidak mengandung makna bathil dengan semisal perkataan bahwa ‘Rosululloh adalah manusia biasa seperti kita, beliau makan, minum, tidur, sehat, sakit, akan mengalami kematian seperti kita. Demikian pula sifat-sifat manusia biasa juga dimilikinya seperti kita, akan tetapi beliau dikhususkan oleh Alloh عزّوجلّ dengan kenabian, wahyu dan risalah. Beliau diutus untuk semua manusia sebagai rohmatan lil ‘alamin, pemberi peringatan dan kabar gembira bagi manusia, demikianlah yang diwahyukan oleh Alloh عزّوجلّ sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ

“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Robb kamu itu adalah Robb yang Esa. Barang-siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Robbnya.” (QS. al-Kahfi [18]: 110)

Adapun anggapan bahwa Rosululloh صلي الله عليه وسلم adalah nur, maka ini pun perlu diperinci. Jika Rosululloh صلي الله عليه وسلم dianggap sebagai nur dalam artian cahaya petunjuk yang menerangi dan menunjukkan kepada jalan Alloh عزّوجلّ dan membedakan antara yang haq dengan yang bathil, maka ini adalah benar. Sebagaimana firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيراً مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ. يَهْدِي بِهِ اللّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rosul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu nur/ cahaya dari Alloh, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab Itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Alloh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (QS. al-Maidah [5]: 15-16)

Tetapi jika dianggap bahwa badan Nabi صلي الله عليه وسلم adalah nur (cahaya) atau Nabi صلي الله عليه وسلم adalah nur yang merupakan sifat Alloh عزّوجلّ (bukan makhluk-Nya), maka ini adalah bathil. Karena jasad Nabi صلي الله عليه وسلم, adalah sama dengan manusia biasa, terbentuk dari daging, tulang dan semisalnya. Beliau صلي الله عليه وسلم diciptakan dari air ayah dan ibunya seperti halnya kita. Beliau صلي الله عليه وسلم makan, minum dan melakukan segala aktivitas yang kita lakukan, bahkan beliau mempunyai bayangan seperti kita jika berada di bawah matahari (berbeda dengan orang yang menganggap jasadnya adalah nur yang tidak mempunyai bayangan), hal ini didasari oleh hadits:

خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, iblis diciptakan dari bara api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan buat kalian.” (HR. Muslim dan lainnya)

Syaikh al-Albani berkata: Hadits ini memberi isyarat tentang bathil-nya hadits yang terkenal (yang sering) diucapkan orang, seperti hadits:

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ نُورُ نَبِيِّكَ يَا جَابِرُ

“Pertama kali yang diciptakan Alloh adalah nur Nabimu wahai Jabir.”

Beliau (Syaikh al-Albani ) menambahkan bahwa demikian pula hadits-hadits semisal yang di dalamnya ada ucapan bahwa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم diciptakan dari nur. Maka sungguh (hadits di atas, tentang penciptaan malaikat) menjadi dalil yang sangat gamblang bahwasanya hanya para malaikat yang diciptakan dari nur. Sedangkan Nabi Adam عليه السلام beserta anak-cucunya tidak diciptakan dari nur.” (Silsilah Ahadits Shohihah: 1/820) [] (Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM خفظه الله)


Sumber:
Majalah Al-Furqon, No.96 Ed.4 Th. Ke-9 Dzulqo’adah 1430/2009, Rubrik Soal-Jawab hal.4-5

Iklan