Uban: Pemberi Cahaya Diatas Titian Jahannam

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya رضي الله عنهم.

Dalam bukunya yang menggetarkan hati ‘DI ATAS TITIAN JAHANNAM’, Syaikh Dr. Muhammad an-Nuaim pada bab III ‘Ujian Gelapnya Shirath’ setelah menjelaskan betapa gelap dan ngerinya titian (shirath), beliau menyebutkan ‘Amal-amal Pemberi Cahaya di Atas Shirath’ dan amalan yang ke-15 adalah ‘Tidak Mencabut Uban’, berikut kami salin dari buku tersebut:

TIDAK MENCABUT UBAN
Syaikh Dr. Muhammad an-Nuaim

Di antara manusia ada yang merasa malu saat uban tumbuh pertama kali di kepalanya serta tidak suka jika dilihat orang lain. Ia pun mencabutnya karena tak mengetahui bahwa pada hari kiamat uban merupakan cahaya bagi pemiliknya.

Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ شَابَ شَيْبَةُ فِي الْإِسْلاَمِ، كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ: فَإِنَّ رِجَالاً يَنْتِفُونَ الشَيْبَ، فَقَالَ النَّبِـيُّ صلي الله عليه وسلم: مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ

“Barangsiapa yang beruban rambutnya dalam Islam, niscaya uban itu akan menjadi cahayanya pada hari kiamat.” Ketika itu ada seseorang berkata kepada Nabi صلي الله عليه وسلم. “Sesungguhnya, ada orang-orang yang mencabut uban mereka.” Rasulullah صلي الله عليه وسلم pun bersabda: “Barangsiapa yang ingin melakukannya berarti hendak mencabut cahayanya.” [1]

Di antara keutamaan membiarkan uban dan tidak mencabutnya ialah pada hari kiamat kelak pemiliknya akan diberikan empat hal penting: cahaya di atas shirath, setiap rambut putih dibalas satu kebaikan, dihapus darinya satu keburukan, dan Allah mengangkat satu derajat dengan rambut itu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

لاَ تَنْتِفُوا الشَّيْبَ، فَإِنَّ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. مَنْ شَاءَ شَّيْبَةً، كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً، وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Janganlah kalian mencabut uban! Sesungguhnya uban itu adalah cahaya pada hari kiamat. Barangsiapa yang tumbuh ubannya ketika Islam, niscaya dicatatkan untuknya dengan uban itu satu kebaikan, dihapus dari orang itu satu kesalahan (dosa), dan ia ditinggikan satu derajat baginya dengan uban itu.” [2]

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa setiap perintah Nabi صلي الله عليه وسلم dan setiap amal saleh tidaklah diperintahkan secara sia-sia. Pada hari kiamat amal kebaikan tersebut akan memiliki faedah dan buah sebagai ganjaran bagi setiap orang yang taat kepada Allah dan menjadi pembeda antara orang yang taat dengan orang yang bermaksiat.

Uban merupakan suatu nikmat. Sebab, uban adalah pemberi peringatan dan pengingat bagi orang yang paham terhadap dekatnya ajal. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang salih berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS. Fathir: 37).

Abdul Aziz bin Abu Rawwad berkata kepada seseorang. “Barangsiapa yang tidak bisa mengambil nasihat dari tiga hal, berarti ia tidak akan bisa diperingatkan dengan apa pun, yaitu Islam, Al-Qur’an, dan uban.” [3]

Al-Mustanjid billah berkata (bersyair):[4]

Ia cela aku dengan uban, padahal ia adalah kewibawaan

Mengapa ia tidak mencelaku dengan sesuatu yang memang tercela

Jika memang rambutku beruban

Ketahuilah bahwa malam jadi indah karena bulan-bintang []


[1] HR Al-Bazzar, Ath-Thabrani, dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2092).
[2]
HR Ahmad dalam Al-Fath Ar-Rabbani: 17/315, At-Tirmidzi (2821), Ibnu Majah (3721), dan Ibnu Hibban. Sedangkan dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib Al-Albani berkata, “Hadits ini hasan shahih” (2096)
[3]
Shifatush Shafwah, Ibnu Al-Jauzi: 1/470.
[4]
Nuzhatul Fudhala’: Tahdzib Siyarul A’lam An-Nubala’, Muhammad bin Musa Asy-Syarif: 3/1441.

Sumber:
Di Atas Titian Jahannam oleh Syaikh Dr. Muhammad an-Nuaim, terbitan AQWAM-Solo Tahun 2007, hal 156-158. Sedangkan teks Hadits kami ambil dari Terjemah Shahih At-Targhib.

Iklan