Bila Suami dan Isteri Berbeda Pendapat

Soal:

Jika terjadi perbedaan pendapat antara seorang isteri dengan suaminya dalam masalah fiqih, sebagai contoh dalam masalah perjalanan seorang wanita tanpa mahram. Apakah suami berhak memaksa isterinya untuk berpegang teguh kepada pendapat fiqih yang bersifat umum?

Jawab:

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas, sebagian yang lain (wanita)… “. (QS. An-Nisaa’: 34)

Dalam permasalahan seperti ini, harus dilaksanakan satu dari dua pendapat mereka, baik pendapat isteri ataupun suami. Namun tidak diragukan lagi selama Allah عزّوجلّ mewajibkan bagi seorang isteri untuk ta’at kepada suaminya, dalam kondisi seperti ini pendapat isteri tidak dianggap, dan ia wajib menta’ati suaminya. Namun sebelum itu semestinya mereka telah berupaya untuk sepakat dan saling memahami. Urusan yang telah sampai pada apa yang ditanyakan tadi, maka jawabannya sang isteri wajib untuk mentaati suaminya, dan tidak boleh menyelisihinya. (al-Ashaalah 18, hal : 74).


Sumber:
Biografi Syaikh al-Albani, penyusun Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 252-253.

Iklan