Hukum Pegadaian

Soal:

Bagaimana hukum pegadaian dalam Islam? Mohon penjelasan.

(Hamba Alloh, Polman-Sulbar, +628524201xxxx)

Jawab:

Pegadaian disyari’atkan dalam Islam, sebagaimana firman Alloh Ta’ala dalam surat al-Baqoroh ayat 283 dan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم tatkala beliau menggadaikan baju besi kepada seorang Yahudi. Namun yang menjadi per-masalahan adalah pegadaian yang ada saat ini menerapkan sistem “bunga” dan sistem “hangus” jika sudah lewat tempo, atau mensyaratkan akan memanfaatkan barang gadai tersebut, dan hal ini tidaklah sesuai dengan syari’at.

Berikut Fatwa Syaikh Jibrin tentang tata cara yang dilakukan oleh pihak pegadaian atau orang yang menggadai jika telah lewat masa temponya. Beliau menjawab: “Tidak dilarang menjual barang gadai tersebut karena pegadaian (tempat menggadai) menahan barang tersebut sebagai jaminan piutangnya (uang atau barang yang diambil orang yang menggadai). Jika telah lewat masa temponya dan barang itu masih dipegangnya sedangkan orang yang menggadai belum menebusnya maka boleh baginya untuk menjual barang gadaian tersebut dan mengambil piutangnya saja. Bagi orang yang menggadai bisa menjualnya kepada pihak pegadaian atau yang lainnya dan memberikan hak pihak pegadaian (berupa uang atau barang yang telah ia ambil).” (Fatawa Syaikh Jibrin 7/14)

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa juga menjelaskan: “Barangsiapa memberikan pinjaman maka tidak boleh mensyaratkan kepada orang yang dipinjami suatu kemanfaatan sebagai balasan dari pinjaman tersebut sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم (at-Tirmidzi 2951, Ahmad 1/233). Semua pinjaman atau hutang yang ada kemanfaatannya termasuk riba. Para ulama telah sepakat tentang hal itu. Masuk dalam permasalahan ini adalah sebagaimana yang disebut dalam soal, yaitu orang yang meminjam menggadaikan kepada pihak peminjam sebidang tanah dan dimanfaatkan (dikelola) sampai pinjaman tersebut lunas. Pemilik hutang atau pinjaman (penghutang/peminjam) tidak boleh mengambil hasil dari tanah tersebut? atau mengelolanya dalam rangka menunggu lunasnya hutang itu. Sebab, maksud dari menggadai adalah meminta kepercayaan untuk mendapatkan pinjaman atau hutang, bukan untuk meninggikan harga barang gadai tersebut atau melepaskannya untuk membayar hutang. Wabillahit taufiq.[] (Fatawa Lajnah Da’imah 1/219)


Disalin dari: Majalah Al-Mawaddah Edisi 12 Th. Ke-2 Rojab 1430 H, Rubrik Ulama Berfatwa asuhan Ustadz Abu Bakar al-Atsari خفظه الله, hal.47

Download:
Hukum Pegadaian: DOC atau CHM

Iklan