Adakah Sholat Sunnah Sebelum Jima’

Soal:

Apakah shalat sunnah berjamaah dengan istri sebelum berjima’ itu bacaannya dibaca dengan jahar atau sir?

Jawab:

Sepengetahuan kami tidak ada dalil yang menyebutkan adanya shalat sunnah setiap sebelum jima’. Karena tidak ada dalilnya, maka kita tidak boleh melakukannya sampai ada dalil yang menjelaskannya. Yang ada diantara adab sebelum berhubungan suami istri adalah membaca doa. Sedangkan jika yang dimaksudkan oleh penanya adalah shalat sunat bagi dua mempelai yang baru usai melaksanakan akad pernikahan, sebagaimana atsar dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه ketika beliau memerintahkan Abu Hariz, “Jika gadis yang engkau nikahi itu datang kepadamu maka suruh dia shalat dua rakaat di belakangmu.”[1] Maka itu tidak ada hubungannya dengan jima’.

Adapun terkait bacaan-bacaan dalam shalat-shalat sunnat, apakah dibaca jahr (dengan suara keras) atau sir (tidak terdengar jelas)? Dalam masalah ini ada keterangan sebagai berikut: Dalam hadits A’isyah رضي الله عنها ketika beliau ditanya oleh Gudhaif bin Harits رضي الله عنه:

عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَكَانَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْهَرُ بِالْقُرْآنِ أَمْ يَخْفُتُ بِهِ قَالَتْ رُبَّمَا جَهَرَ بِهِ وَرُبَّمَا خَفَتَ قُلْتُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

Dari Ghudhaifbin al-Harits رضي الله عنه dia mengatakan, “Aku mendatangi ‘Aisyah رضي الله عنها, lalu aku bertanya, ‘’Bagaimana bacaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, apakah suaranya dikeraskan atau dikecilkan ?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Beliau صلى الله عليه وسلم terkadang mengeraskan bacaannya dan terkadang dikecilkan.’ Aku berkata, ‘Allahu Akbar, Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah) yang telah memberikan kemudahan dalam masalah ini.[2]

Sebagian Ulama ada yang berpendapat bahwa shalat nafilah (shalat sunat) di siang hari lebih afdhal (lebih baik) bacaannya dibaca dengan suara lirih (sirr), sedangkan bacaan shalat nafilah di malam hari, bisa dibaca dengan suara keras (Jahr) atau lirih (sir), tergantung mana yang lebih besar manfaatnya dan mana yang lebih bisa mendatangkan kekhusyuan.[3]

Syaikh Ibnu Baz رحمه اللهketika ditanya tentang masalah ini, beliau رحمه الله menjawab, “Apabila seseorang melakukan shalat nafilah sendirian di malam hari maka dia boleh memilih vang paling baik antara jahr dan sirr untuk (kekhusyuan) hatinya, dengan syarat tidak mengganggu orang lain, kalau bacaannya dibaca jahr, adapun shalat sunnat di siang hari seperti shalat Dhuha, shalat sunnat rawatib, maka di syari’atkan untuk dibaca dengan sir (suara lirih)…”[4]

Wallahu ‘alam.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah Ed. Khusus No. 04-05/Thn.XV/Ramadhan-Syawwal 1432 H/ 2011 M, hal.6


[1]   Lihat kitab Adabuz Zifaf, Svaikh Al-Albani رحمه الله, hlm. 94-96
[2]   Sunan Abu Dawud,1/89. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud, no. 1354
[3]   Lihat, al-Majmu, Imam Nawawi   3/345
[4]   Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz

Download:
Download Word atau Download PDF

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s