Syaikh Ibn Utsaimin_Hukum Cincin Pekawinan

Soal:

Apakah hukumnya memakai dublah (cincin perkawinan) dari perak untuk laki-laki, maksudnya hukum memakainya di jari?

Jawab:

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله menjawab:

Memakai cincin perkawinan bagi laki-laki atau wanita termasuk perkara-perkara bid’ah, bisa jadi termasuk perkara yang diharamkan, alasannya adalah bahwa sebagian orang meyakini bahwa dublah adalah penyebab awetnya/langgengnya kasih sayang di antara suami istri. Karena inilah, diceritakan kepada kami bahwa sebagian mereka menulis di cincin kawinnya nama istrinya dan dicincin istrinya ditulis nama suaminya. Dengan hal itu seolah-olah keduanya ingin tetapnya hubungan di antara keduanya. Ini termasuk jenis syirik karena keduanya meyakini penyebab yang Allah سبحانه و تعالى tidak menjadikannya sebagai sebab, tidak secara qadar dan tidak pula secara syara’. Maka apakah hubungannya cincin kawin ini dengan kasih sayang atau cinta kasih? Berapa banyak suami istri tanpa cincin kawin dan keduanya tetap di atas kekuatan kasih sayang dan cinta kasih, dan sebaliknya berapa banyak pasangan suami istri yang memakai cincin kawin sedangkan keduanya berada dalam kecelakaan dan kesusahan.

Dengan keyakinan ini maka ia termasuk jenis syirik dan tanpa keyakinan ini, ia menyerupai orang kafir karena cincin perkawinan ini diambil dari kaum Nashrani. Atas dasar ini, seorang mukmin harus menjauhkan diri dari sesuatu yang mencemari agamanya.

Adapun memakai cincin dari perak untuk laki-laki –dari sisi sebagai cincin tanpa keyakinan bahwa ia merupakan cincin perkawinan yang mengikatkan di antara suami dan istrinya- maka sesungguhnya hal ini tidak mengapa, karena cincin dari perak untuk laki-laki hukumnya boleh dan cincin dari emas diharamkan terhadap laki-laki, karena Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم melihat cincin di tangan seorang sahabat, lalu beliau melemparkannya dan berkata:

يَعْمَدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَيَضَعُهَا فِى يَدِهِ

“Seseorang darimu sengaja (menuju) bara api lalu meletakkannya di tangannya.” (HR. Muslim: 2090)


Sumber: Majmu’ Fatawa wa Rasail (18/100) via IslamHouse.Com dengan penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.

Download:
Hukum Cincin Pekawinan
Download Word

Iklan