Sarana Mensucikan Hati

Soal:

Apa saja yang dapat membersihkan hati?

Jawab:

Tidak asing lagi bahwa sebaik-baik yang mensucikan jiwa seseorang adalah ilmu syar’i, dan ilmu yang paling agung adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), memahami ayat-ayat al-Qur’an serta Asma’ dan Shifat yang terkandung di dalamnya. Hayatilah nama dan sifat Allah عزّوجلّ yang maha indah itu kemudian beribadahlah kepada Allah dengannya, karena hal itu dapat menumbuhkan khasyatullah (rasa takut kepada Allah عزّوجلّ) dalam jiwa seorang hamba. Allah عزّوجلّ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah Ulama. (QS. Fathir/35: 28)

Maka, barangsiapa lebih mengenal Allah عزّوجلّ, pastilah dia akan lebih merasa takut kepada-Nya.

Kemudian yang ke dua adalah banyak membaca serta mentadaburi al-Qur’an, karena ketekunan dalam membaca dan mentadaburinya dapat membukakan pintu-pintu kebaikan yang tak terhingga, menghilangkan kesedihan, dan menyingkirkan kesusahan.

Yang ke tiga adalah istighfar, memohon ampunan Allah عزّوجلّ. Karena segala ujian yang menimpa seorang hamba baik berupa rasa cemas, malas atau bahkan musibah, semua itu disebabkan oleh dosa-dosanya sendiri, dan peleburnya adalah istighfar. Karenanya, Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَ سْتَغْفِرُوهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah dan mohon ampunlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepadanya tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. al-Bukhari no. 5948, at-Tirmidzi no.3312, Ibnu Majah no.3816)

Dahulu para Sahabat menghitung lebih dari seratus kali dalam satu majlis beliau صلى الله عليه وسلم mengatakan:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَتُبْ عَلَىَّ

“Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan terimalah taubatku.”

Setiap hamba tidak mungkin luput dari kesalahan dan sifat kurang bersyukur, sehingga harus senantiasa memohon ampun atas segala kekhilafannya. Walaupun seandainya dia telah berusaha menjalankan segala ketaatan dan meninggalkan segala larangan, tetaplah dia tidak akan mampu mensyukuri segala nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Allah عزّوجلّ    berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak akan dapat menghitung, sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim/14: 34)

Bagaimana dia mensyukuri nikmat umur, penglihatan dan pendengaran, nikmat harta dan anak keturunan, nikmat rasa aman, Islam dan iman, serta nikmat mengenal sunnah Rasul, dan masih banyak lagi karunia-karunia Allah عزّوجلّ yang maha agung. Itu semua wajib ia syukuri, dan karena ia tidak mungkin sanggup mensyukuri semua nikmat tersebut maka hendaklah senantiasa beristighfar memohon ampun kepada Allah عزّوجلّ atas segala kekurangan.

Yang ke empat, memperbanyak dzikir, karena menyebut dan mengingat nama Allah عزّوجلّ akan melapangkan hati dan membuat segala urusan menjadi mudah. Dan lebih dari itu, sesungguhnya dzikir dapat menguatkan seorang hamba. Sebagaimana diriwayatkan kisah Fathimah yang mendatangi Rasulullah   – atas saran Ali – untuk meminta seorang pembantu guna meringankan pekerjaan rumahnya, karena setiap hari dia memasak dan memikul kayu bakar sendiri. Akan tetapi, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengabulkan permintaan tersebut. Beliau datang ke rumah mereka dan mengajarkan dzikir sebagai ganti daripada pembantu:

أَلَا أُخْبِرُكُمَا بِمَا خَيْرٌ لَكُمَا مَنْ خَادِمٍ؟! إِذَا أَوَيْتُُمَا إِلَى مَضَاجِعَكُمَا تُسَبِّحَانِ اللهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتَحْمَدَانِهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتُكَبِّرَانِهِ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَذَالِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Maukah kalian berdua aku tunjukkan pada sesuatu yang lebih baik dari seorang pembantu?! Apabila kalian hendak tidur, maka ucapkanlah subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 34 kali. Maka itu semua jauh lebih baik bagi kalian dari seorang pembantu” (HR. al-Bukhari no.3502, Muslim no.2727, Abu Dawud no. 2988)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “lebih baik” pada hadits di atas bukan hanya dalam masalah pahala, akan tetapi juga menunjukan bahwa barangsiapa tekun membaca dzikir-dzikir tersebut akan diberi oleh Allah عزّوجلّ kekuatan, semangat dan etos kerja yang membuatnya tidak butuh pembantu lagi. Oleh karenanya, Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengkisahkan bahwa Ibnu Taimiyah (gurunya) apabila selesai menunaikan shalat Subuh, beliau tetap duduk di tempatnya, beliau terus berdzikir hingga terbit matahari kemudian shalat sunnah dua rakaat. Lalu beliau berkata: “Inilah asupan giziku, kalaulah aku tidak mengkonsumsinya pastilah kekuatanku akan sirna”.

Cobalah amalkan hal ini wahai saudaraku, tetaplah duduk di tempat setelah shalat Subuh dan sibukkan diri dengan mengingat dan menyebut nama Allah عزّوجلّ, kemudian shalatlah dua rakaat setelah matahari terbit sepenggalan naik, niscaya akan engkau dapatkan kekuatan baru dan semangat yang tak terduga. Bandingkan dengan orang yang tidur setelah shalat Subuh, tidurnya lebih banyak dari tidurmu, akan tetapi semangatnya tidak akan mengalahkan semangatmu

Kemudian hal penting ke lima yang dapat membuat hati lapang adalah memperbanyak salawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, sebagaimana kisah seorang shahabatyang mengisi sebagian doanya dengan memohon kebaikan untuk dirinya sendiri, dan sebagian lagi untuk shalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa banyakkah shalawat yang harus aku haturkan untukmu dari doa ku?”. Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Terserah engkau!”. Ia bertanya lagi, “Sepertiganya, wahai Nabi?”. Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Terserah engkau, tapi jika engkau menambahnya, maka lebih afdhal”. Ia bertanya lagi, “Setengahnya wahai Nabi?”. Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Terserah engkau, tapi jika engkau menambahnya maka lebih afdhal”. Ia bertanya, “Seluruhnya wahai Nabi?”. Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika benar demikian, maka akan hilang rasa gundahmu, dan diampuni dosamu”.[]

_________

Disalin dari Majalah As-Sunnah No. 05/ Thn. XVI_1433H/2012M hal.6-8, yang dijawab oleh Dr. Mis’ad bin Musa’id al-Husaini, dosen Ulumul Qur’an Universitas Islam Madinah KSA dalam Daurah Syar’iyyah di Trawas Mojokerto yang diselenggarakan pada tanggal 2-8 Juli 2012.

Download:
Sarana Mensucikan Hati
Download Word

Iklan