Cerai atau Bukan?

Soal:

Memberi peringatan istri dengan kata-kata “Kita pisah dulu saja”, apakah sudah termasuk cerai?

081336933xxx

Jawab:

Perlu diketahui bahwa tentang lafazh talak (cerai), para Ulama membagi menjadi dua:

1. Lafazh sharih (nyata; tegas) yaitu: lafazh yang ketika diucapkan dipahami sebaga talak dan tidak ada makna lain Contoh: “Engkau saya talak” “Engkau ditalak (dicerai)” dan semacamnya yang menggunakan kata “talak”. Jika seorang suami mengucapkan lafazh sharih talak ini, maka talak pun terjadi, baik dia bersendau-gurau, main-main, atau tidak berniat. Dalilnya adalah hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tiga (perkara), bersungguh-sungguh pada tiga (perkara itu) berarti sungguh-sungguh, dan main-main pada tiga (perkara itu) berarti sungguh-sungguh, yaitu nikah, talak, dan rujuk.[1]

2. Lafazh kinayah (sindiran; tidak tegas), yaitu lafazh yang bermakna talak dan bermakna bukan talak. Contoh, “Pulanglah ke rumah orang tuarmu”, “Engkau bebas”, “Engkau kulepaskan”, dan lainnya. Lafazh kinayah (sindiran) talak ini, jika diucapkan seorang suami kepada istrinya, maka tidak jatuh talak, kecuali dengan niat talak.[2]

Tentang perkataan seorang suami kepada istrinya “kita pisah dulu saja”, menurut kami ini termasuk lafazh kinayah (sindiran). Jika sang suami tidak berniat mentalak istri dengan ucapan itu, maka tidakjatuh talak. Namun jika sang suami meniatkan talak dengan ucapannya itu, maka talak terjadi. Allah عزّوجلّ Maha mengetahui isi hati hamba-Nya. Maka, kami nasehatkan kepada para suami yang sedang menasehati atau memperingatkan istrinya untuk tidak mudah mengucapkan kalimat yang bermakna cerai terhadap istri, baik dengan lafazh yang sharih maupun kinayah, karena hal itu pasti akan menyusahkan istrinya dan membawa kepada permasalahan. Wallahu a’lam.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah No.11/Thn. XIII_1431 H/ 2010 M, rubrik Soal-Jawab, hal. 5


[1] HR Abu Dawud, no 2194; at-Tirmidzi, no 1184; Ibnu Majah, no 2039; dihasankan oleh Syaikh al-Albani
[2]
Diambil dari kitab At-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aiz, hlm. 322, karya Syaikh `Abdul ‘Azhim al-Badawi

Download:
Cerai atau Bukan?
Download Word

Iklan