Hukum Jaket Kulit Untuk Sholat

Soal:

Bagaimana hukum memakai jaket kulit domba bahkan dipakai untuk sholat, apakah memakai jaket termasuk tasyabbuh dengan orang kafir? Ana mohon penjelasan.

Jawab:

Apabila kulit yang dimaksud adalah kulit dari binatang halal yang telah disembelih, maka hal ini tidak diperselisihkan kesucian, dan kebolehannya untuk digunakan. Akan tetapi, apabila kulit tersebut dari binatang halal yang mati tidak disembelih/bangkai seperti bangkai domba, sapi, atau onta, maka ada dua pendapat dalam hal ini:

1. Kulit binatang halal yang menjadi bangkai tidak bisa menjadi suci walaupun sudah dibersihkan dan dikeringkan (disamak), ini adalah riwayat dari Umar bin Khottob, Ibnu Umar, Imron bin Husain dan Aisyah رضي الله عنهم. Pendapat ini didasari oleh sebuah hadits:

فَلَا تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ

…Maka jangan dimanfaatkan bagian dari bangkai, jangan pula otot-ototnya (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

2. Pendapat kedua mengatakan bahwa kulit tersebut menjadi suci dan boleh digunakan, apabila telah dibersihkan dan dikeringkan (disamak), ini adalah riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Atho’, Hasan al-Bashri, as-Sya’bi, an-Nakho’i, Qotadah, Said bin Jubair, Abu Hanifah, Syafi’i, Malik, al-Auza’i, al-Laits, Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarok, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.[1]

Pendapat terakhir inilah yang rojih/kuat, sebab banyak sekali hadits shohih yang menerangkan bahwa kulit bangkai dapat menjadi suci apabila telah disamak, sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم:

دِبَاغُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ طُهُورُهاَ

Sucinya kulit bangkai adalah dengan disamak. (HR. Ibnu Majah 2/291, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله dalam Shohih wa Dho’if al-Jami’ no.3360)

Adapun pendapat pertama lemah, karena hadits yang dijadikan dalil tidak shohih, karena hadits tersebut goncang sanadnya, dan hadits mursal (ada perowi yang gugur setelah sahabat), karena Abdulloh bin Ukaim tidak pernah mendengar hadits dari Nabi صلى الله عليه وسلم.[2]

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa sholat dengan menggunakan jaket kulit tidak dilarang. Adapun masalah tasyabbuh, maka ini bukan termasuk tasyabbuh, karena jaket bukan termasuk ciri khusus tandanya orang kafir.

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله: “Tasyabbuh dengan setan atau orang kafir adalah apabila seseorang melakukan suatu perbuatan, atau memakai pakaian yang mana (perbuatan atau pakaian) itu merupakan ciri khusus mereka, sama saja hukumnya apakah ada niatan atau tidak ada niatan meniru mereka.”

Ukuran tasyabbuh dalam berpakaian adalah apabila suatu pakaian bila manusia mengatakan itu adalah pakaiannya orang kafir, maka haram hukumnya bagi orang Islam untuk memakainya (karena ini termasuk tasyabbuh), apabila orang mengatakan ini adalah seragam khusus orang kafir, maka haram bagi seorang muslim meniru-niru mereka. Allohu a’lam.[]

Disalin dari Majalah al-Furqon no.78 Ed.8 Th. ke-7 1429/2008 rubrik Soal Jawab hal.6 asuhan Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله.


[1] Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Ibrohim رحمه الله, Syaikh Abdur Rohman as-Sa’di رحمه الله, Syaikh Ibnu Baz رحمه الله, Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله dan lainnya

[2] Diringkas dari Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram 1/160-161

Download:
Hukum Jaket Kulit Untuk Sholat
Download Word

Iklan