Tepuk Anak Shaleh

Soal:

Ustadz! Bolehkah kita mengajarkan macam-macam tepuk tangan kepada anak-anak. Misalnya tepuk wudhu, tepuk malaikat, tepuk anak shaleh dan lain-lain. Syukran.

0283915xxxx

Jawab:

Sesungguhnya cukup bagi kita untuk mengajari anak-anak kebaikan-kebaikan yang mereka butuhkan. Seperti, membaca al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek atau ayat-ayat pilihan, hafalan hadits, adab-adab, doa dan dzikir sehari-hari dan lain sebagainya. Demikian juga kita boleh mengajarkan permainan yang mendidik dan bermanfaat untuk hiburan sebagai selingan dari kejenuhan.

Adapun menyibukkan anak-anak dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat, apalagi dengan syubhat dan maksiat, sepantasnya tidak dilakukan. Seperti mengajari dan menyibukkan anak-anak dengan macam-macam tepuk tangan, nyanyian atau nasyid yang diajarkan di sebagian TK, TPA atau lembaga pendidikan lainnya. Terlebih lagi, tepuk tangan itu termasuk kebiasaan dan cara ibadah orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:

وَمَا كَانَ صَلاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Shalat mereka (orang-orang musyrik) di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. al-Anfal/8:35)

Imam Ibnu Abi Hatim رحمه الله meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, beliau mengatakan, “Dahulu suku Quraisy mengelilingi (thawaf) Ka’bah dengan telanjang sambil bersiul dan bertepuk tangan.”

Mujahid رحمه الله berkata, “Mereka melakukannya hanyalah untuk mengacaukan shalat Nabi صلى الله عليه وسلم.”

Sedangkan az-Zuhri رحمه الله mengatakan, bahwa mereka melakukannya untuk mengejek orang-orang yang beriman. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam sebuah kitab yang membahas tentang metode pengajaran anak-anak, penyusunnya yaitu syaikh Muhammad bin Jamil Zainu رحمه الله menyeru kepada para guru dengan mengatakan, “Waspadailah bersiul dan bertepuk tangan, karena itu menyerupai para wanita, orang-orang fasik dan orang-orang musyrik. Jika ada suatu yang menakjubkanmu maka ucapkanlah ‘Maa syaa Allaahu’ atau ‘Subhaanallaahu’“. (Nida’ ilaa Murabbiyyin wal Murabbiyyat)

Dengan keterangan ini maka seharusnya macam-macam tepuk tangan itu dihilangkan, apalagi berkaitan dengan ibadah atau agama, dikhawatirkan hal itu termasuk bid’ah atau perbuatan yang memperolok-olok agama dengan tanpa disadari.

Wallahu a’lam.[]


Disalin dari Majalah As-Sunnah No.08/Thn.XIV 1432H/2010M, Rubrik Soal-Jawab hal.5

Download: Download Word

Iklan