Perbedaan Antara Tazkiyah dan Tafa’ul

Soal:

Barakallah. Apa beda larangan tazkiyah dalam pemberian nama dengan tafa’ul (nama-nama yang baik, optimis)? Misalnya ada nama ‘Abdul-Muhsin, apakah boleh? Bukankah Muhsin merupakan nama Allah ? Jazakallahu khairan katsira.

Jawab:

Tentang larangan nama yang merupakan tazkiyah (menyucikan diri sendiri) antara lain disebutkan di dalam hadits di bawah ini:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمَّيْتُ ابْنَتِي بَرَّةَ فَقَالَتْ لِي زَيْنَبُ بِنْتُ أَبِي سَلَمَةَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ هَذَا الِاسْمِ وَسُمِّيتُ بَرَّةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ فَقَالُوا بِمَ نُسَمِّيهَا قَالَ سَمُّوهَا زَيْنَبَ

Dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’, dia berkata: Aku menamai anak perempuanku dengan Bar rah, lalu Zainab bintu Abi Salamah berkata kepadaku: “Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang nama ini. Dahulu aku diberi nama Barrah (artinya, wanita yang berbakti, Red.),” lalu Rasulullah bersabda: “Janganlah engkau menyucikan dirimu sendiri. Allah lebih mengetahui terhadap orang yang berbakti di antaramu!” Para sahabat bertanya: “Dengan apa kita menamainya?” Beliau menjawab: “Namailah dia Zainab”. (HR Muslim, no. 2142).

Larangan ini hukumnya makruh, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnul-Qayyim رحمه الله.[1] Adapun perbedaan nama sebagai “tazkiyah” (pujian untuk diri sendiri) dengan tafa’ul (optimisme, harapan), maka kami belum mendapati keterangan ulama tentang hal ini. Namun yang jelas, nama-nama nabi atau orang-orang shalih boleh digunakan sebagai nama, dan ini termasuk tafa’ul.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

Sesungguhnya mereka (Bani Israil) biasa memberi nama dengan nabi-nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka. (HR Muslim, no. 2135; dari Mughirah bin Syu’bah).

Sedangkan nama seperti halnya ‘Abdul-Muhsin, ini dibolehkan, karena Muhsin termasuk di antara nama-nama Allah Ta’ala. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَإِذَ قَتَلَتْمُ فَأَحْسِنُوْا فَإِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Jika engkau menghukumi, maka berlakulah adil, dan jika engkau membunuh,[2] maka lakukanlah sebaik-baiknya, karena sesungguhnya Allah itu Muhsin, menyukai ihsan (kebaikan).[3]

Adapun makna ihsan, meliputi dua perkara, yaitu berbuat kebaikan kepada orang lain, dan melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah No.08/Thn.XI 1428H/2007M, Rubrik Soal-Jawab hal.6


[1]   Tuhfatul-Maudud, Darut-Tibyan, Dimasyq, Tahun 1414 H, hlm. 73-74.
[2]
  Seperti penguasa yang menghukum qishash, Red.
[3]
  HR Ibnu Abi ‘Ashim dalam ad-Diyat, Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, dan ath-Thabrani dalam al-Ausath. Lihat Silsilah ash-Shahihah, Syaikh al-Albani, no. 469.

Download:
Download Word

Iklan