Shalat Jum’at Musafir

Soal:

Apakah orang yang musafir dibolehkan tidak melakukan shalat Jum’at?

Abdullah

Jawab:

Telah dimaklumi, shalat Jum’at hukumnya wajib atas setiap muslim kecuali wanita, hamba sahaya, anak kecil, orang sakit dan musafir. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau berkata: “Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali empat; hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit”.[1]

Dan hadits Jabir yang berbunyi:

مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الأَخِرِ فَعَلَيْهِ الْجُمْعَةُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ إِلاَّ مَرِيْضٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ مَمْلُوكٌ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajib baginya shaiat Jum’at pada hari Jum’at kecuali orang sakit, wanita, anak-anak, dan hamba sahaya.”[2]

Sedangkan tentang Musafir, telah dibahas pada rubrik Mabhats, “Shalat Jum’at Dalam Pandangan Fiqih” edisi 02/VIII/1425H/ 2004M. Kesimpulan mayoritas ulama menjadikan Musafir termasuk yang tidak diwajibkan shalat Jum’at.

Dengan demikian seorang musafir mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak shaiat Jum’at. Dan bila seorang musafir tetap melakukan shalat Jum’at dan tidak mengambil rukhshah tersebut, maka ia diperbolehkan.

Wallahu a’lam.[]

Disalin dari Majalah as-Sunnah Ed.09, Th. XI_1428/2007, Rubrik Soal-Jawab hal. 9.


[1]   HR Abu Dawud, dan dihasankan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa’ut-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manarul-Sabil (3/57)
[2]
  HR ad-Daraquthni, dan dihasankan Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manarul-Sabil (3/57)

Download:
Download Word

Iklan