Cara Menghitung Zakat Niaga Kredit

Soal:

Seumpamanya kita berjualan dengan cara mengkreditkan. Misalnya modal 1 juta terus dijual 1,5 juta dan diberikan cara penjualannya umpama 50 ribu per minggu. Jadi untuk cara menghitung zakatnya bagaimana?

Jawab:

Jual beli kredit yang lebih mahal dari jual beli tunai diperbolehkan. Bahkan sebagian ulama seperti Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz rahimahullah, mengatakan ijma’ para ulama zaman dahulu bahwasanya jual beli kredit yang lebih mahal harganya dari tunai adalah diperbolehkan dengan persyaratan jelas harganya, kemudian tidak ada unsur riba seperti bila terlambat dikenakan denda, dll yang rinciannya sangat panjang untuk dirincikan. Alhasil jual belinya adalah jual beli yang sah dan boleh. Sedangkan cara mengeluarkan zakatnya adalah, hitung barang yang dikreditkan, yang sudah terjual berarti adalah uang yang sebagian berbentuk piutang dan sebagian sudah di tangan, maka dilihat barang yang ada yang belum terjual, kemudian uang yang sudah ditangan dan masih berbentuk piutang yang diperkirakan lancar pembayarannya, bila orang yang lancar maka satu tahun kedepan masih milik dia, maka dijumlahkan semuanya dan hitung apakah sampai satu nisab atau tidak, bila sampai satu nisab yaitu 85 gram emas 24 karat baru dimulai menghitung haulnya sampai haul tahun berikutnya 354 hari atau satu tahun Qamariah, kemudian dihitung lagi keseluruhan harta tadi, maka bila sampai satu nisab maka keluarkanlah 1/40 dari harta tersebut, bila mempunyai hutang maka hutang yang jatuh tempo pada tahun itu hendaklah dibayarkan dulu, maka otomatis akan mengurangi nisab zakatnya, bila masih sampai satu nisab maka di keluarkan zakatnya, bila tidak sampai satu nisab maka tidak terkena zakat, Wallahu a’lam.

* * *

Soal:

Apakah yang dihitung dari zakat niaga keuntungan saja atau bagaimana?

Jawab:

Insya Allah lebih akan rincikan pada zakat perniagaan, tapi tidak mengapa kita jelaskan, zakat perniagaan adalah apapun yang anda niagakan, selagi bukan harta yang diharamkan atau najis, misalkan herbal, buku, tas, rumah, tanah, termasuk sesuatu yang dibeli dengan niat untuk dijual, bukan dijual untuk mencari gantinya, kalau anda menjual rumah dengan niat menggantikannya dengan rumah yang lebih dekat dengan tempat kerja atau sekolah anak, ini memang menjual tapi bukan untuk mencari keuntungan akan tetapi untuk mencari gantinya untuk ditempati, maka ini tidak terkena zakat, kecuali uang hasil penjualan rumah itu tersimpan selama satu tahun.

Tapi bila anda jual beli rumah untuk investasi bila harganya naik akan dijual dan mendapatkan laba dari perniagaan dari perniagaan itu maka inilah yang dinamakan zakat perniagaan. Jenis barang niaga itu adalah yang suci dan tidak yang diharamkan dan berlaba dan yang dihitung bukan labanya saja akan tetapi laba dan pokok barang dagangan tersebut. Seperti orang yang menjual makanan, bakso dll yang perlu modal umpamanya sampai satu nisab, umpanya kita katakanlah 70 juta, 20 juta untuk tempat dan sebagian untuk inventaris seperti kursi, meja dll dan yang diputar untuk beli bahan mungkin hanya 30 juta maka 30 juta itu kurang dari satu nisab maka tidak ada zakatnya, jadi yang dihitung adalah barang bukan modal keseluruhan.

Disalin dari Blog ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, MA dengan judul Zakat 2 yang diposting tanggal 30 Juli 2013.

Iklan