Membayar Zakat Fithri Orangtua di Kampung

Soal:

Saya tinggal di perantaun dan alhamdulillah mempunyai kelebihan rezki mau bayarkan zakat fithri orang tua yang dikampung, apakah boleh ustadz ?

Jawab:

Sepertinya ada dua pertanyaan mungkin ada dua pembahasan dari pertanyaan beliau. Pertama: bolehkah memindahkan zakat fithri dari daerahnya ke daerah lain?

Kedua: dia ingin membayarkan zakat orang tuanya, tentunya orang tuanya di mataram, berarti di bayarkan di flores. Orang tua di mataram dan dia di flores berarti berarti berpindah pembayaran zakatnya. Dia ingin membayarkan zakat fitrah orang tuanya bolehkah atau tidak karena dia yang memiliki kelebihan rizki.

Membayarkan zakat orang tua termasuk salah satu bentuk bakti seorang anak pada orang tua.

Kemudian pembahasan pertama, apakah boleh pembayaran zakat fitrah dipindah dari daerah ke daerah yang lain?

Bila ada mashlahat yang sangat kuat, seperti umpamanya di daerah tempat pembayaran tersebut lebih membutuhkan, dia berada di daerah lain, kemudian dia membayarkan zakat fithrinya di daerah lain dengan pertimbangan tempat dibayarkan zakatnya lebih membutuhkan, lebih banyak fakir miskin kelaparan dibandingkan tempat dia berada. Atau di luar kota tersebut ada kerabatnya yang sangat membutuhkan dia ingin membantu dengan sedekah dia juga tidak mampu, dia ingin membantu dengan cara zakat maka dibolehkan.

Bila ada maslahat yang lebih kuat dalam hal itu, pak Ali tadi melihat bahwa di flores lebih membutuhkan, karena minoritas muslim atau pertimbangan yang lain dibandingkan di mataram maka tidak masalah dia bayarkan zakat orang tuanya yang berada di mataram di flores.

Kemudian membayarkan zakat orang tua adalah boleh, ini adalah suatu kebajikan dengan syarat di beritahu orang tuanya dan orang tua berniat pada waktu itu, ketika dibayarkan oleh anaknya ini zakat atas nama orang tuanya, karena zakat termasuk amal ibadah yang harus ada niat.

Begitu juga umpamanya ada anak melihat bahwa orang tua lalai dengan zakat harta, maka anak ini tidak ingin orang tuanya akan masuk api neraka, bahwa nanti muka, punggung, samping kiri kanannya akan diambilkan harta tersebut dan dipanaskan harta tersebut dan digosokkan pada tubuh orang tuanya, dia tidak mau orang tuanya disiksa, maka dia ingin untuk menghitung sendiri zakat orang tuanya dan dia membayar dengan hartanya, maka ini tidak dianggap zakat bila orang tua tidak berniat, karena “sesungguhnya segala sesuatu tergantung dari niat”, maka sampaikan pada orang tua, bahwa saya telah menghitung zakat dari harta bapak atau ibu dan biar saya yang mengeluarkan dan bapak atau ibu hanya untuk berniat saja, maka ketika itu sahlah zakat yang dibayarkan oleh anak ini, Allah ta’ala a’lam.

Disalin dari Blog ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, MA dengan judul Zakat 4 yang diposting tanggal 6 Agustus 2013.

Iklan