Apa Maksud Mashalih Mursalah

Soal:

Apa yang dimaksud dengan mashalih mursalah?

Jawab:

Syaikh Masyhur Hasan Salman خفظه الله menjawab :

Permasalahan usul lainnya yaitu tentang maslahat mursalah. Banyak orang mencampur adukkan antara masalahat mursalah dengan bidah. Bid’ah digolongkan menjadi dua: bid’ah hakikiyyah dan bid’ah idofiyyah. Jika sesuatu masalah mungkin berlaku dan terjadi di masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tetapi ditinggalkan Rasulullah dan tidak pernah diperbuat para sahabat setelah wafatnya, maka dia digolongkan kedalam bid’ah idofiyyah dan bukan maslahat mursalah;

Seperti zikir-zikir yang banyak kita dengar diucapkan di negeri ini [Indonesia] setelah atau sebelum Adzan dikumandangkan. Sebab Adzan sendiri dimulai dengan sesuatu lafazh tertentu dan diakhiri dengan sesuatu lafazh tertentu pula, dan tidak diperlukan adanya tambahan lagi.Karena jika memang zikir-zikir ini baik dan boleh dilaksanakan tentulah mereka dapat melaksanakannya.

Adapun maslahat mursalah maka harus memiliki beberapa Kriteria tertentu, diantaranya:

Pertama: kemaslahatan itu sendiri hendaklah maslahat hakikikiyyah (masalah yang sebenarnya) bukan kemaslahatan yang masih wahahamiyyah (diragukan).

Baca lebih lanjut

Karramallahu Wajhahu untuk Sahabat Ali

DO’A KARAMALLAHU WAJHAHU UNTUK
SAHABAT NABI ALI BIN ABI THALIB
رضي الله عنه

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, dalam beberapa buku sering kita dapati do’a Karramallahu wajhahu untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib, apakah ini dibenarkan ataukah ini adalah ajaran Syi’ah? Mohon penjelasan. Jazakumullahu khairan.

(Hamba Allah, o8ixxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Tidak boleh mengkhusus-kan Sahabat Ali bin Abi Thalib dengan do’a tersebut. Hendaknya beliau dido’akan dengan do’a yang umum untuk para sahabat yaitu radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah عزّوجلّ meridhainya).

Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i رحمه الله berkata, “Sering ditemukan dalam tulisan kitab ungkapan yang dikhususkan untuk Ali bin Abi Thalib ‘alaihi salam‘ atau ‘karramallahu wajhahu‘ tanpa sahabat lainnya. Hal ini sekalipun maknanya benar, namun hendaknya disamakan dengan para sahabat lainnya, karena hal ini termasuk pengagungan dan kemuliaan. Abu Bakar, Umar, dan Utsman lebih utama darinya. Semoga Allah meridhai mereka semua.” (Tafsir al-Qur’anil Azhim oleh Ibnu Katsir 6/478-479, tahqiq Sami Salamah, Daru Thaibah, KSA)

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid رحمه الله mengatakan, “Karena orang-orang Rafidhah, musuh-musuh Ali dan keluarganya, telah menjadikan do’a ini sebagai syi’ar mereka, hendaknya Ahlussunnah menyelisihi mereka. Benar, mereka memiliki beberapa alasan seperti karena Ali tidak pernah melihat aurat sedikit pun atau karena tidak pernah sujud kepada patung sekali pun, maka alasan-alasan ini tidak benar karena ini bukan hanya khusus Ali tetapi juga para sahabat lainnya yang lahir dalam masa Islam, apalagi berita seperti itu masih embutuhkan verifikasi tentang keautentikan  (keabsahan)nya.” (Mu’jamul Manahi Lafzhiyyah karya Syaikh Bakr Abu Zaid hl. 454, Darul Ashimah, KSA, cet. ketiga)

Baca lebih lanjut

Hipnotis, Sihir atau Bukan?

Soal:

Mohon dibahas tentang hipnotis. apa ia termasuk kezhaliman atau sihir ? Karena disinyalir ada orang-orang yang mpelajarinya karena suatu alasan misalnya untuk membela diri. Apa mempelajarinya selaras dengan manhaj kita ? Apa tidak lebih baik diarahkan pada ketaqwaan dan ketawakalan ? Syukran. Semoga Allah عزّوجلّ memberkahi dakwah majalah As-Sunnah.

+62813474XXXXXX

Jawab:

Untuk menjawab tentang hipnotis ini, kami membawakan jawaban Fatawa Lajnah Da’imah KSA ketika ditanya tentang beberapa masalah, satu diantaranya tentang hipnotis. Jawaban mereka adalah sebagai berikut:

Hipnotis merupakan salah satu jenis perdukunan (sihir) yang mempergunakan bantuan jin sehingga si pelaku dapat menguasai korban. Jin akan berbicara melalui lisan korban dan memberinya kemampuan untuk melakukan beberapa hal setelah ia menguasai korban. Ini jika jin percaya kepada pelaku hipnotis. Kepatuhan jin ini merupakan imbalan bagi para penghipnotis yang telah mempersembahkan sesuatu kepada jin tersebut.

Baca lebih lanjut

Ibadah Harus dengan Tuntunan

Soal:

Membaca satu huruf al-Qur’an berpahala sepuluh kebaikan, baik si pembaca paham atau tidak. Apakah hal ini juga berlaku bagi orang yang membacanya dengan metode yang menyelisihi syariat, contohnya seperti mengkhatamkan al-Qur’an dalam satu hari?

Jawab:

Pahala yang dijanjikan dalam hadits tersebut tergantung pada dua syarat, yaitu: ikhlas dan mutaba’ah. Maka, apabila seseorang membaca/ mengkhatamkan al-Qur’an agar dipuji atau demi imbalan duniawi, ia tidak memperoleh pahala.

Pada hari Kiamat kelak akan dihadapkan kepada Allah  عزّوجلّ seorang yang rajin membaca al-Qur’an, Allah  عزّوجلّ  bertanya: “Apakah yang telah engkau kerjakan di dunia?”. Ia menjawab, “Aku telah mempelajari ilmu agama-Mu dan membaca al-Qur’an (demi mengharap) ridha-Mu. Allah membantahnya, “Dusta, sesungguhnya engkau membaca al-Qur’an hanya agar disebut Qari (pandai baca al-Qur’an)”. Maka, orang tersebut diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya dan kemudian dilempar ke dalam neraka. (HR. Muslim no.1905, at-Tirmidzi no.2489, an-Nasa’i no. 3137).

Baca lebih lanjut

Benarkah Dukun, Penyihir & Peramal Mengetahui Ilmu Ghaib

Soal:

Benarkah tukang sihir, dukun, peramal, dan ahli perbintangan banyak mengetahui ilmu ghaib? Bagaimana kita membantah berita mereka terhadap kejadian-kejadian yang akan datang dan ternyata benar terjadi setelah itu?

Jawab:

Syaikh Shalih al-Fauzan خفظه الله menjawab:

Mereka itu mengkhabarkan manusia sesuai dengan apa yang mereka terima dari para setan yang mencuri berita dari langit. Atau perkara ghaib yang tidak diketahui manusia, akan tetapi setan melihatnya. Dengan cara itu, akhirnya setan mengkhabarkan kepada setan pembantu mereka dari golongan manusia. Hal ini tidak dianggap perkara ghaib, karena setan dapat mendengar dan melihatnya.

Akan tetapi, setan itu membumbuinya dengan seratus kedustaan dalam satu kalimat yang mereka dengar dari langit. Hingga akhirnya, manusia membenarkan terhadap semua ucapan mereka hanya karena satu kalimat yang mereka dengar dari langit. Alloh عزّوجلّ berfirman: Baca lebih lanjut

Hukum Meminta Bantuan Jin

Soal:

Apa hukum orang yang meminta bantuan jin untuk mengetahui perkara ghaib?

Jawab:

Ilmu mengetahui perkara yang ghaib termasuk kekhususan Alloh. Tidak ada seorang pun dari makhluk ini -tidak jin maupun selainnya- yang mengetahui ilmu ghaib, kecuali orang yang Alloh kehendaki dari para malaikat dan rasul dengan memberi wahyu kepada mereka. Alloh عزّوجلّ berfirman,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh.” (QS. an-Naml[27]: 65)

Alloh سبحانه و تعالى pernah mengisahkan tentang Nabi Sulaiman عليه السلام: Baca lebih lanjut

Hukum Pergi Ke Dukun

Soal:

Bolehkah manusia pergi ke dukun agar dukun tersebut membunuh atau mengeluarkan jin yang ada pada dirinya?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Semua ini tidak boleh! Karena dukun bekerja sama dengan setan. Seorang dukun biasanya punya teman dari bangsa jin yang selalu datang dan mengkhabarkan bahwa di tempat si fulan akan ada ini, akan terjadi hal yang demikian, dan lain-lain. Demikianlah setan itu saling memberi berita satu sama lain, hingga orang jahil menyangka bahwa si dukun ini tahu perkara yang ghaib. Padahal hakikatnya yang memberi kabar adalah setan, yang dengan demikian ia bisa pura-pura di hadapan manusia bahwa ia tahu perkara ghaib. Ada kalanya seorang dukun menggunakan setan lain yang lebih kuat dari kalangan pembesar dan raja setan. Maka si dukun bisa saja mendatangi setan yang ada di dalam tubuh orang yang sakit atau gila. Kemudian bila yang sakit setuju dengan syarat yang mereka berikan berupa ibadah kepada selain Alloh, bernadzar, dan menyembelih untuk setan, sebagai imbalannya para raja dan pembesar setan ini akan mendatangi dan mengancam setan bawahannya dengan berkata, “Kamu berbuat demikian dan demikian atau kami akan membunuh dan memenjarakanmu!” Akhirnya setan bawahan ini pun meninggalkan amalannya yang jelek karena takut dan taat kepada tuannya dari para raja dan pembesar setan. Manusia meraih manfaat dengan cara yang jelek lagi syirik serta berbahaya. Semua ini tidak bisa dijadikan alasan. Tidak boleh mendatangi para dukun selama-lamanya. Tidak boleh bertanya kepada mereka apalagi sampai membenarkan ucapannya, karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah melarang hal itu. Baca lebih lanjut

Hukum Mengaku Tahu Ilmu Ghaib

Soal:

Apa hukum orang yang mengaku tahu ilmu ghaib?

Jawab:

Syaikh ibnu Utsaimin رحمه الله menjawab:

Hukum orang yang mengaku tahu ilmu ghaib adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Alloh. Alloh berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh. Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. an-Naml[27]: 65)

Apabila Alloh saja memerintahkan Nabi-Nya mengumumkan kepada manusia bahwa tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Alloh, maka orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib sungguh telah mendustakan Alloh terhadap berita ini. Kita katakan kepada mereka, “Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib sedangkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengetahui yang ghaib? Apakah kalian lebih mulia daripada Rasulullah صلى الله عليه وسلم?” Apabila mereka menjawab “Kami lebih mulia dari Rasulullah”, sungguh mereka telah kafir dengan perkataan ini. Dan bila mereka mengatakan “Rasulullah lebih mulia”, maka kita katakan kepada mereka, “Mengapa Alloh menutupi perkara ghaib dari diri Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sedangkan kalian mengaku mengetahuinya? Padahal Alloh berfirman: Baca lebih lanjut

Apakah Wali Mengetahui Hal Ghaib?

Soal:

Alloh berfirman, “Dialah Alloh yang mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” (QS. al-Jin: 26-27). Apakah seorang wali, yang dia termasuk umat Rasulullah, mengikutinya dalam mengetahui ilmu ghaib?

Jawab:

Sesungguhnya Alloh telah menghukumi bahwa perkara ghaib termasuk kekhususan-Nya. Alloh عزّوجلّ berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh.” (QS. an-Naml[27]: 65)

Dan Alloh tidak mengecualikan hal itu melainkan bagi orang yang diridhai dari para rasul. Alloh mampu memperlihatkan kepada mereka perkara ghaib sesuai kehendak-Nya. Alloh سبحانه و تعالى berfirman: Baca lebih lanjut

Keutamaan Wali Alloh?

Soal:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh.

Ustadz saya mau bertanya, apakah benar ‘wali Alloh’ itu lebih utama dari para Nabi dan Rosul, dengan dalil bahwa Khidhir lebih utama dari Nabi Musa عليه السلام. x(08193103xxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh.

Keyakinan yang disebutkan di atas termasuk keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam. Aqidah Islam yang benar adalah para Nabi dan Rosul lebih utama dari pada hamba Alloh عزّوجلّ yang sholih, demikian juga aqidah yang benar adalah Nabi Musa عليه السلام lebih utama dan lebih mulia daripada Khidhir hal ini dikuatkan dengan beberapa hal, di antaranya:

  1. Musa عليه السلام adalah seorang Nabi dan Rosul utusan Alloh, bahkan termasuk ulul azmi dari para Rosul, hal ini disepakati oleh semua ulama. Sedangkan Khidhir, maka masih diperselisihkan keberadaannya sebagai Nabi ataukah bukan, kemudian telah disepakati oleh ulama bahwa Khidhir bukan termasuk Rosul
  2. Nabi Musa عليه السلام memiliki banyak mukjizat yang tidak dimiliki oleh Khidhir, di antara yang terbesar adalah Alloh عزّوجلّ menurunkannya kitab Taurot kepada Nabi Musa, cukuplah keutamaan Musa atas Khidhir dari firman-Nya:

قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ

“Alloh عزّوجلّ berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyu-kur.” (QS. al-A’rof[7]: 144).

Kisah Khidhir bersama Nabi Musa tidak dapat dijadikan dalil bahwa Khidhir lebih utama dan lebih mulia dari Nabi Musa, sebab kisah itu terjadi sebagai ujian Alloh terhadap Nabi Musa عليه السلام, dan sebagai teguran Alloh kepada Nabi Musa عليه السلام, tatkala dia mengatakan dirinyalah yang paling pandai di dunia ini (ketika ditanya siapakah manusia yang paling pandai di dunia ini). Lalu Alloh mengujinya dengan dipertemukan kepada Khidhir supaya Nabi Musa menyadari bahwa tidak selayaknya mengatakan demikian. Lihat kisah yang sangat menarik ini dalam QS. al-Kahfi 60-82, dan dalam HR. Bukhori 121, lihat pula keterangan kisah ini oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/ 287-293.[]


Sumber:
Majalah Al-Furqon, No.80 Ed.10 Th. Ke-7 Jumada ula 1429/2008, Rubrik Soal-Jawab hal.4