Hukum Jaket Kulit Untuk Sholat

Soal:

Bagaimana hukum memakai jaket kulit domba bahkan dipakai untuk sholat, apakah memakai jaket termasuk tasyabbuh dengan orang kafir? Ana mohon penjelasan.

Jawab:

Apabila kulit yang dimaksud adalah kulit dari binatang halal yang telah disembelih, maka hal ini tidak diperselisihkan kesucian, dan kebolehannya untuk digunakan. Akan tetapi, apabila kulit tersebut dari binatang halal yang mati tidak disembelih/bangkai seperti bangkai domba, sapi, atau onta, maka ada dua pendapat dalam hal ini:

1. Kulit binatang halal yang menjadi bangkai tidak bisa menjadi suci walaupun sudah dibersihkan dan dikeringkan (disamak), ini adalah riwayat dari Umar bin Khottob, Ibnu Umar, Imron bin Husain dan Aisyah رضي الله عنهم. Pendapat ini didasari oleh sebuah hadits:

فَلَا تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ

…Maka jangan dimanfaatkan bagian dari bangkai, jangan pula otot-ototnya (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

Baca lebih lanjut

Apakah Maksud at-Tamyi’ dan al-Mudarah?

Soal:

Apa yang dimaksud dengan at-tamyi’ bagaimana kriteria-kriteriannya, dan apakah perbedaannya dengan al-mudarah?

Jawab:

Syaikh Salim ‘id al-Hilali خفظه الله menjawab :

Maksud tamyi’ disini adalah keterikatan dalam hal wala’ dan baro’, yaitu sikap  sebagian orang yang mengaku Islam   yang menggambarkan seolah-olah boleh berwala dan bara’ terhadap orang-orang kafir. Sikap toleransi kebablasan ini terkadang membuat mereka  mengganggap sama antara agama Yahudi, Nasarani dan Islam. Misi mereka adalah menyeru orang kepada wihdatu al-adyan (penyatuan agama). Inilah sikap tamyi’ terhadap Islam. Terkadang mereka mengajak untuk mempersatukan agama, terkadang  dengan cara mengajak dialoq antar agama.

Sikap kedua adalah sikap toleransi kebablasan yang seolah-olah menggambarkan bahwa al-wala dan al-bara’ itu berlaku untuk seluruh umat Islam, baik antara yang Sunni dengan bukan Sunni, sebab keseluruhannya mengaku sebagai Islam dan mengaku sebagai pengikut Muhammad, maka tiada beda antara Ahlu Sunnah dengan Ahlu Bid’ah, antara Salafi dan Sufi, antara Ikhwanul Muslimin dan Hizbu at-Tahrir. Jenis tamyi’ dalam berdakwah seperti ini merupakan   tamyi’ dalam berda’wah dan didalam manhaj.

Adapun Mudarah yaitu metode taliful qulub (membujuk) orang-orang yang kita anggap mau masuk ke dalam Islam ataupun masuk kedalam salafiyyah.[]

Disalin dari Tanya Jawab bersama Masyaikh Markaz Imam Albani pertanyaan ke-6 yang eBooknya dari AbuSalma.

Download:
Apakah Maksud at-Tamyi’ dan al-Mudarah?
Download Word

Alat Musik Dalam Pandangan Ulama Syafi’i

Sebagian orang mengira alat musik itu haram karena klaim sebagian kalangan saja. Padahal sejak masa silam, ulama madzhab telah menyatakan haramnya. Musik yang dihasilkan haram didengar bahkan harus dijauhi. Alat musiknya pun haram dimanfaatkan. Jual beli dari alat musik itu pun tidak halal. Kali ini kami akan buktikan dari [ulama] madzhab Syafi’i secara khusus karena hal ini jarang disinggung oleh para Kyai dan Ulama di negeri kita. Padahal sudah ada di kitab-kitab pegangan mereka.

Terlebih dahulu kita lihat bahwa nyanyian yang dihasilkan dari alat musik itu haram. Al Bakriy Ad Dimyathi رحمه الله berkata dalam I’anatuth Tholibin (2: 280),

بخلاف الصوت الحاصل من آلات اللهو والطرب المحرمة – كالوتر – فهو حرام يجب كف النفس من سماعه

“Berbeda halnya dengan suara yang dihasilkan dari alat musik dan alat pukul yang haram – seperti ‘watr’ -, nyanyian seperti itu haram. Wajib menahan diri untuk tidak mendengarnya.”

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami رحمه الله disebutkan ,

ء(طُنْبُورٍ وَنَحْوِهِ ) مِنْ آلَاتِ اللَّهْوِ وَكُلِّ آلَةِ مَعْصِيَةٍ كَصَلِيبٍ وَكِتَابٍ لَا يَحِلُّ الِانْتِفَاعُ بِهِ

Thunbur dan alat musik semacamnya, begitu pula setiap alat maksiat seperti salib dan kitab (maksiat), tidak boleh diambil manfaatnya.” Jika dikatakan demikian, berarti alat musik tidak boleh dijualbelikan. Jual belinya berarti jual beli yang tidak halal.

Baca lebih lanjut

Syaikh Ibn Utsaimin_Hukum Cincin Pekawinan

Soal:

Apakah hukumnya memakai dublah (cincin perkawinan) dari perak untuk laki-laki, maksudnya hukum memakainya di jari?

Jawab:

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله menjawab:

Memakai cincin perkawinan bagi laki-laki atau wanita termasuk perkara-perkara bid’ah, bisa jadi termasuk perkara yang diharamkan, alasannya adalah bahwa sebagian orang meyakini bahwa dublah adalah penyebab awetnya/langgengnya kasih sayang di antara suami istri. Karena inilah, diceritakan kepada kami bahwa sebagian mereka menulis di cincin kawinnya nama istrinya dan dicincin istrinya ditulis nama suaminya. Dengan hal itu seolah-olah keduanya ingin tetapnya hubungan di antara keduanya. Ini termasuk jenis syirik karena keduanya meyakini penyebab yang Allah سبحانه و تعالى tidak menjadikannya sebagai sebab, tidak secara qadar dan tidak pula secara syara’. Maka apakah hubungannya cincin kawin ini dengan kasih sayang atau cinta kasih? Berapa banyak suami istri tanpa cincin kawin dan keduanya tetap di atas kekuatan kasih sayang dan cinta kasih, dan sebaliknya berapa banyak pasangan suami istri yang memakai cincin kawin sedangkan keduanya berada dalam kecelakaan dan kesusahan.

Baca lebih lanjut

Syaikh bin Baz_Hukum Cincin Pekawinan

Soal:

Apakah hukumnya memakai dublah (cincin perkawinan) di tangan kanan bagi yang melamar/meminang dan di tangan kiri bagi yang menikah, perlu diketahui bahwa dublah ini bukan dari emas?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Kami tidak mengetahui dasar perbuatan ini di dalam syara’, dan yang utama adalah meninggalkan hal itu. Sama saja dublah itu dari perak atau yang lainnya, akan tetapi bila dari emas maka hukumnya haram terhadap laki-laki, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang laki-laki memakai cincin dari emas.[1]

Sumber: Fatawa Islamiyah: (2/370) via IslamHouse.Com dengan penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.


[1] HR. Al-Bukhari 6235 dan Muslim 2066 dari al-Bara رضي الله عنه

Download:
Hukum Cincin Pekawinan
Download Word

Menghadiri Resepsi Non Muslim

Soal:

Ustadz saya mau bertanya, bagaimanakah hukumnya kita sebagai seorang Muslim menghadiri acara pernikahan orang non-Muslim ?

Jawab:

Menghadiri undangan pernikahan non-muslim hukumnya boleh, apabila dalam acara tersebut tidak ada unsur kemaksiatan atau perbuatan yang dilarang oleh syariat seperti syiar-syiar agama mereka, jika ada, maka hukum menghadirinya haram. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin رحمه الله mengatakan, “Apabila ada tetanggamu yang kafir mengadakan resepsi pernikahan dan dia mengundangmu maka kamu boleh memenuhi undangan itu tapi bukan sebuah kewajiban. Kecuali apabila dalam acara itu ada acara-acara keagamaan atau syiar-syiar agama mereka, maka hukum memenuhi undangan itu menjadi haram. Karena menghadiri undangan yang ada-ada syiar-syiar kekufurannya sama dengan ridha terhadap syiar-syiar tersebut, sementara ridha terhadap kekufuran adaiah suatu yang sangat berbahaya (bagi akidah seseorang). Oleh karena itu, para ulama sepakat mengharamkan pemberian ucapan selamat kepada orang kafir bertepatan dengan acara keagamaan mereka seperti memberikan ucapan selamat hari Natal. Sedangkan memberikan ucapan selamat dalam acara pernikahan atau kelahiran, para Ulama membolehkan dengan syarat ada maslahat (kebaikan) yang diharapkan atau dalam rangka membalas perbuatan baik mereka kepada kita.” (Syarhul Mumti’, 12/322, Bab Walimatil Ursy)

Baca lebih lanjut

Sebutan Bunda

Soal:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Ustadz, Apakah ada larangan seorang anak memanggil ibunya dengan sebutan bunda? Apakah sebutan bunda hanya untuk orang non muslim tertentu saja? Wassalamu ‘alaikum. (Wantita|via email)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Hukum asal segala sesuatu yang tidak ada kaitan dengan ibadah adalah boleh. Dan kami tidak mengetahui adanya larangan dalam hal ini. Adapun perkataan bahwa panggilan tersebut merupakan kekhususan orang non muslim tertentu, maka perlu ditinjau lagi. Menurut pengetahuan kami, hal itu bukan kekhususan bagi non muslim. Kesimpulannya, hukum tersebut dikembalikan kepada hukum asal yaitu boleh. Wallohu a’lam. (Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM خفظه الله)

Sumber:
Majalah Al-Furqon ed 11 th ke-9 Jumadil Tsani 1432, Rubrik Soal-Jawab

Hukum Penggunaan Kalender Hijriah

Soal:
Soal pertama:
Sebagian orang mengatakan bahwa mereka tidaklah mengedepankan kalender Masehi atas kalender Hijriyyah karena loyal terhadap orang kafir, tetapi karena kalender Masehi lebih valid dan akurat daripada kalender Hijriyyah. Selain itu mereka juga mengatakan bahwa kebanyakan negara menggunakan kalender Masehi, maka mengapa kita harus menyelislhi mereka?

Soal kedua: Beberapa perusahaan atau instansi mengatakan, mereka tidaklah menggunaka kalender Masehi ini karena loyal terhadap orang kafir. Tapi karena perusahaan atau instansi mitra kerja mereka pun harus ikut menggunakannya. Jika mereka tidak menggunakannya maka akan memudhoratkan dari segi perjanjian-perjanjian, ekspor impor dan sebagainya. Maka bagaimana hukumnya?

Jawab:

Pertama, pada dasarnya penentuan waktu dengan hilal (bulan sabit) merupakan pokok bagi semua manusia. Bacalah firman Alloh سبحانه و تعالي:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji” (QS. Al-Baqarah[2]: 189)

Ini berlaku bagi semua manusia, baik yang muslim mapun yang kafir.

Baca lebih lanjut

Valentine’s Day Dalam Islam

Soal:
Setiap tahunnya, pada tanggal 14 Februari, sebagian orang merayakan valentin’s day. Mereka saling betukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat Syaikh tentang: Pertama: Merayakan hari tersebut? Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu? Ketiga: Transaksi jual beli di toko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut, kepada orang yang hendak merayakannya? Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan.

Jawaban:
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyah wal Ifta’ menjawab:

Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha, selain itu, semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya, karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah ber-tasyabbuh (menyerupai) mereka di samping merupakan keloyalan terhadap mereka, padahal Allah سبحانه و تعالى telah melarang kaum mukminin ber-tasyabbuh dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam KitabNya yang mulia, dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi صلی الله عليه وسلم, bahwa beliau bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka.”(HR. Abu Dawud dalam Al-Libas 4031, Ahmad 5093, 5094, 5634)

Valentin’s day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nashrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat, bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan RasulNya serta untuk menjauhi sebab-sebab yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah dan siksaNya. Lain dari itu, diharamkan atas setiap muslim untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan, baik itu berupa makanan, minuman, penjualan, pembelian, produk, hadiah, surat, iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan RasulNya, sementara Allah سبحانه و تعالى telah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Dari itu, hendaknya setiap muslim berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam semua kondisi, lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang fasik yang tidak mengharapkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjukNya dan keteguhan didalam petunjukNya. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjukNya selain Allah سبحانه و تعالى. Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad صلی الله عليه وسلم, kelaurga dan para sahabatnya.

Sumber dan bacaan selanjutnya:
Hukum Merayakan Valentine’s Day

Hukum Perayaan Valentine’s Day

Soal:
Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day ‘terutama di kalangan para pelajar putri’, padahal ini merupakan hari raya kaum Nashrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dan saling bertukar bunga berwarna merah … Kami mohon perkenan Syaikh untuk menerangkan hukum perayaan semacam ini, dan apa saran Syaikh untuk kaum muslimin sehubungan dengan masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga dan memelihara Syaikh.

Jawab:
Syaikh ibn Utsaimin menjawab:

Tidak boleh merayakan valentin’s day karena sebab-sebab berikut:
Pertama
: Bahwa itu adalah hari raya bid’ah, tidak ada dasar-nya dalam syari’at.
Kedua
: Bahwa itu akan menimbulkan kecengengen dan kecemburuan.
Ketiga
: Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf رضى الله عنهم.
Karena itu, pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah, ataupun lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa mulia dengan agamanya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah سبحانه و تعالى  melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjukNya.

Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Hukum Merayakan Velntine’s Day