Berqurban untuk Orang Tua yang Telah Meninggal

Soal:

Assalamualaikum. Ustadz, bapak saya sudah meninggal, dan kini tinggal ibu dan saudara-saudara saya. Saat ini suami saya ingin berqurban, apakah saya bisa memasukkan ayah yang sudah meninggal juga ibu dan saudara-saudara saya?

(Fulan, Bumi Alloh, +62411546xxxx)

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin pernah memfatwakan: “Tidak termasuk sunnah berqurban untuk orang yang sudah meninggal karena tidak ada contohnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya. Namun, jika orang yang meninggal tersebut pernah berwasiat agar ia disembelihkan hewan qurban maka dituruti wasiatnya. Begitu pula jika orang yang telah meninggal digabungkan dengan orang yang masih hidup, misalnya seseorang menyembelih untuk dirinya dan keluarganya serta meniatkan sembelihannya untuk orang yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, maka diperbolehkan. Adapun kalau menyendirikan mayit (orang yang telah meninggal) saja dalam berqurban maka bukan termasuk sunnah.”[] (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il, Juz 25 hlm. 11)


Disalin dari: Majalah Al-Mawaddah Edisi 12 Th. Ke-2 Rojab 1430 H, Rubrik Ulama Berfatwa asuhan Ustadz Abu Bakar al-Atsari خفظه الله, hal.48

Download:
Berqurban untuk Orang Tua yang Telah Meninggal: DOC atau CHM

Fatwa terkait:
1. Wajibkah Melaksanakan Ibadah Kurban
2. Lihat semua fatwa di bawah kategori QURBAN

Ayah Tidak Mengakui Anaknya

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, ayahku memutus silaturahmi denganku sejak aku bayi. 17 tahun kemudian aku menyambungnya, tapi ayahku menghindar dengan banyak alasan. Bahkan, membohongiku dengan janji-janji dusta. Apakah aku tetap menyambungnya? Hatiku sakit Ustadz. (Hamba Allah, bumi-Nya, +6285648xxxxxx)

Jawab:

Jika benar masalahannya demikian, hendaknya anak tetap menyambungnya, sekalipun ayah masih belum mau menerima atau menjauh. Karena silaturahmi banyak manfaatnya. Sebaliknya, memutus kerabat, besar musibahnya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْ خَلْقِهِ قَالَتْ الرَّحِمُ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَهُوَ لَكِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

“Setelah Allah menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berkata, ‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturahmi (menyambung silaturahmi?’ Allah menjawab, ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwa Aku yang akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutus yang memutuskanmu?’ Rahim menjawab, ‘Tentu, wahai Rabb’ Allah berfirman, ‘Itulah yang kamu miliki.’ Setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Jika kamu mau, maka bacalah ayat berikut ini, ‘Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?'” (QS. Muhammad ayat: 22) (HR. al-Bukhari: 5528) Baca lebih lanjut