Hukum Menghirup Minyak Wangi Saat Berpuasa

Menghirup minyak wangi tidak membatalkan puasa, karena ia dibutuhkan oleh banyak orang. Seandainya membatalkan puasa, pastilah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya, sebagaimana beliau menjelaskan hukum yang dibutuhkan masyarakat secara umum lainnya. Tidak ada satu hadispun yang disandarkan pada beliau dalam masalah ini, menunjukkan bolehnya menghirup minyak wangi bagi orang puasa.

Asal hukum segala sesuatu adalah boleh. Sebagaimana mencium bau tidak bisa di hindari setiap orang, dan juga tidak masuk ke kerongkongan. Mencium parfum tidak menghilangkan hakikat puasa, karena bukan makan dan minum, menghirupnya bukan berarti memasukkan makanan atau minuman, tetapi ia seperti bernafas, telah dimaklumi bahwa bernafas bukanlah hal yang membatalkan puasa.

Baca lebih lanjut

Tidak ada Riwayat dari Rasulullah

Soal:

Apa alasannya bahwa tidak ada hadits yang diriwayatkan dari Rusulullah صلى الله عليه وسلم yang menunjukkan batalnya wudhu karena cairan [yang keluar dari rahim] tersebut, padahal para sahabat wanita senantiasa berusaha meminta fatwa dalam urusan agama?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Karena cairan ini tidak menimpa semua wanita.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 31 pertanyaan ke-35.

Batalkah Wudhu Karena Menyentuh Lawan Jenis?

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, apakah bila suami istri yang telah berwudhu bersentuhan wudhunya batal? Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan banyak terimakasih. (Rilla, Bumi Alloh, +62811750xxxx)

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله pernah ditanya apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu? Beliau menjawab: “Pendapat yang benar menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu kecuali jika keluar sesuatu dan kemaluannya. Hal ini berdasarkan hadits shohih (yang artinya): ‘Rosululloh mencium salah seorang isrrinya lalu melaksanakan sholat tanpa mengulang wudhunya.

Pada dasarnya tidak ada yang membatalkan wudhu kecuali terdapat dalil yang jelas lagi shohih yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu. Dan seseorang pada dasarnya dianggap telah menyempurnakan wudhunya sesuai dengan dalil syar’i. Dan sesuatu yang telah ditetapkan dalil syar’i tidak bisa digugurkan kecuali dengan dalil syar’i pula. Jika ada yang bertanya, bagaimana dengan firman Alloh عزّوجلّ: Baca lebih lanjut