Syarat Khulu’ (Minta Cerai)

Soal:

Kapankah seorang wanita diperbolehkan khulu’?

08527141xxxx

Jawab:

Khulu’ ialah perceraian antara pasangan suami istri dengan keridhaan keduanya, dan dengan imbalan yang diserahkan istri kepada suaminya. Allah عزّوجلّ menjelaskan permasalahan ini dalam firmanNya:

وَلا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلا أَنْ يَخَافَا أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka ituiah orang-orang yang zhalim. (QS. al-Baqarah/2:229).

Baca lebih lanjut

Iklan

Apakah Lafadz 'Aku Akan Menceraikannya' Jatuh Talaq?

Soal:

Perkataan seseorang -yang telah beristri- kepada saudaranya, sahabatnya ataupun, bapaknya: ”Aku akan menceraikan istriku”. Perkataan ini diucapkan dihadapan istrinya dalam kondisi sangat marah. Apakah perkataan ini dianggap tholaq sebenarnya dan berlaku ?

Jawab:

Syaikh Masyhur Hasan Salman خفظه الله menjawab :

Ungkapan yang diucapkannya ini —baik dalam kondisi stabil ataupun marah— tidak masuk kedalam kategori tholaq. Sebab ungkapannya “akan kuceraikan” masih dalam bentuk fi’il mustaqbal (kata kerja untuk waktu yang akan datang). Oleh karena itu tidak ada konsekwensi dari ucapannya itu selama dia tidak mentholaqnya dengan sebenarnya.[]

Disalin dari Tanya Jawab bersama Masyaikh Markaz Imam Albani pertanyaan ke-17 yang eBooknya dari AbuSalma.

Download:
Apakah Lafadz ‘Aku Akan Menceraikannya’ Jatuh Talaq?
Download Word

Cerai atau Bukan?

Soal:

Memberi peringatan istri dengan kata-kata “Kita pisah dulu saja”, apakah sudah termasuk cerai?

081336933xxx

Jawab:

Perlu diketahui bahwa tentang lafazh talak (cerai), para Ulama membagi menjadi dua:

1. Lafazh sharih (nyata; tegas) yaitu: lafazh yang ketika diucapkan dipahami sebaga talak dan tidak ada makna lain Contoh: “Engkau saya talak” “Engkau ditalak (dicerai)” dan semacamnya yang menggunakan kata “talak”. Jika seorang suami mengucapkan lafazh sharih talak ini, maka talak pun terjadi, baik dia bersendau-gurau, main-main, atau tidak berniat. Dalilnya adalah hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tiga (perkara), bersungguh-sungguh pada tiga (perkara itu) berarti sungguh-sungguh, dan main-main pada tiga (perkara itu) berarti sungguh-sungguh, yaitu nikah, talak, dan rujuk.[1]

Baca lebih lanjut

Lebih Baik Cerai Daripada Dimadu

Soal:

Ada seorang lelaki yang sudah  berkeluarga, namun dia masih berkeinginan menikah dengan wanita lain, karena dia merasa tidak cukup dengan satu istri dan dia masih mengkhawatirkan dirinya akan terjatuh dalam perbuatan haram. Sementara istri pertamanya menolak keras keinglnan suaminya itu dan dia minta diceraikan jika si suami nekat menikah lagi, padahal wanita ini mengetahui syari’at Allah عزّوجلّ tentang poligami. Apa nasehat syaikh kepada si lelaki ini? Haruskah dia mengikuti penolakan istrinya dan menyerah terhadap ancaman permintaan talak ataukah dia tetap menikah dengan wanita berikutnya dan menceraikan istri pertamanya, karena dia merasa mampu untuk memberikan nafkah dan memperlakukan keduanya dengan adil?

Jawab:

Kami menasehati Saudara untuk menikah karena pernikahan itu akan lebih menjaga kehormatan dan juga mengikuti sunnah. Kami juga manasehatkan saudara untuk tidak menceraikan istri pertama. Untuk istri pertama, kami wasiatkan kepadanya agar bertakwa kepada Allah عزّوجلّ, bersabar dan tidak meminta cerai, insya Allah, Allah عزّوجلّ akan memberikan jalan keluar bagi kalian dari permasalahan ini, sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan membirinya rezki dan arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. ath-Thalaq/65:2-3)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. ath-Thalaq/65:4)

Semoga Allah  عزّوجلّ  memberikan taufiq-Nya untuk kita semua.[] (Fatawa Ulama Baladil Haram, hlm.434)


Disalin dari Majalah As-Sunnah_Baituna No. 05/ Thn. XVI_1433H/2012M rubrik Sakinah, hal.9

Download:
Lebih Baik Cerai Daripada Dimadu
Download Word

Berprasangka Buruk Pada Istri

Soal:

Aku menikahi seorang gadis perawan, akan tetapi, aku tidak melihat tanda pecahnya selaput dara sebagaimana yang didapati oleh seorang suami saat pertama kali menyetubuhi istrinya. Peristiwa ini menimbulkan praduga kurang baik kepada istriku? Mohon berikan nasehat kepadaku!

Jawab:

Syaikh Abdullah bin Hamid menjawab:

Tidak sepantasnya prasangka buruk itu muncul pada diri Saudara. Pada asalnya, ia seorang yang afifah dan salimah (wanita baik-baik) insya Allah. Masalah selaput dara, bisa saja pecah karena loncatan, atau karena jari yang pernah dimasukkan ke dalamnya atau sebab-sebab lain yang serupa dengan itu.

Baca lebih lanjut