Zakat Investasi untuk Dakwah

Soal:

Kalau seandainya saya mempunyai investasi di suatu usaha tapi dijalankan orang lain nah tentang kewajiban zakatnya siapa yang harus mengeluarkannya? kalaupun hasilnya full memang ada pada kami yang menerima setiap bulannya atau per tiga bulan, yang mana kami gunakan untuk menutupi usaha-usaha pengembangan untuk dakwah dan segala macamnya yang mana menghasilkan suatu perputaran di perdagangan yang hasilnya kami gunakan untuk dakwah, khususnya untuk dakwah sunnah, kebetulan saya dari jawa timur, saya mengembangkan disana untuk kepentingan dakwah saya ingin memerangi aliran-aliran yang sesat yang mereka mempunyai kekuatan finansial yang sangat kuat ustadz, saya mengembangkan tempat-tempat dakwah yang mana kami wadah segala macam itu bagaimana ustadz?

Jawab:

Semoga Allah membalas kebaikan  pada Abu Riza yang telah menginfakkan sebagian dari hartanya pada jalan Allah, memperjuangkan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, ini termasuk jihad fi sabilillah, jihad sebagaimana dengan pedang juga dengan lisan, ilmu, dan dakwah dalam mengembangkan agama Allah Subhanahu wata’ala ini. Masalah bagaimana mengeluarkan zakatnya, apakah pengelola atau pemilik modal, maka ini yang dinamakan dengan zakat harta dalam usaha bagi hasil, siapakah yang harus mengeluarkan, apakah pengelola atau pemilik modal atau masing-masing mengeluarkan. Harta tersebut statusnya adalah milik si pemilik modal walaupun kepemikannya tidak bisa ditentukan karena disana ada hak pengelola tapi secara keseluruhan harta adalah harta milik dia, maka ditaksir harta milik dia yang dulu modal sekian sekarang telah menjadi sekian ditaksir dan dikeluarkan dikurangi dengan persentase dari kepemilikan pengelola, berapa persen umpamanya dari laba keluarkan labanya. Kemudian keluarkan 1/40 nya.

Disalin dari Blog ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, MA dengan judul Zakat 4 yang diposting tanggal 6 Agustus 2013.

Maksud Perkataan Ali رضي الله عنه

Soal:

Apa maksud ucapan Ali رضي الله عنه, “Hendaklah berkata kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Apakah kamu mau Allah dan Rasul-Nya didustakan?” Terkadang saya takut kalau kebenaran yang saya sampaikan kepada orang tua itu, mereka dustakan sehingga saya sering menunda dakwah. Syukron.

Abu Salim, Pemangkat
08215393xxxx

Jawab:

Maksud dari ucapan Sahabat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه di atas ialah, hendaklah Saudara memperhatikan kemampuan berpikir dan kesiapannya dalam memahami topik pembicaraan yang sauadara sampaikan. Demikian pula dengan metodologi pendekatan yang saudara gunakan dalam menyampaikan pesan-pesan saudara. Karena itu tidak ada alasan menunda dakwah karena alasan ucapan Sahabat Ali رضي الله عنه di atas. Namun ucapan di atas adalah anjuran agar kita mengikuti skala prioritas dalam berdakwah, dimulai dari tema yang.ringan untuk dipahami dan mendasar yaitu tauhid kewajiban memurnikan ibadah kepada Allah عزّوجلّ, dan meneladani Sunnah Nabi dalam menjalankan ibadah kepada Allah عزّوجلّ. Adapun urusan menerima atau tidak maka itu sepenuhnya kuasa Allah:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Baca lebih lanjut

Apakah Maksud at-Tamyi’ dan al-Mudarah?

Soal:

Apa yang dimaksud dengan at-tamyi’ bagaimana kriteria-kriteriannya, dan apakah perbedaannya dengan al-mudarah?

Jawab:

Syaikh Salim ‘id al-Hilali خفظه الله menjawab :

Maksud tamyi’ disini adalah keterikatan dalam hal wala’ dan baro’, yaitu sikap  sebagian orang yang mengaku Islam   yang menggambarkan seolah-olah boleh berwala dan bara’ terhadap orang-orang kafir. Sikap toleransi kebablasan ini terkadang membuat mereka  mengganggap sama antara agama Yahudi, Nasarani dan Islam. Misi mereka adalah menyeru orang kepada wihdatu al-adyan (penyatuan agama). Inilah sikap tamyi’ terhadap Islam. Terkadang mereka mengajak untuk mempersatukan agama, terkadang  dengan cara mengajak dialoq antar agama.

Sikap kedua adalah sikap toleransi kebablasan yang seolah-olah menggambarkan bahwa al-wala dan al-bara’ itu berlaku untuk seluruh umat Islam, baik antara yang Sunni dengan bukan Sunni, sebab keseluruhannya mengaku sebagai Islam dan mengaku sebagai pengikut Muhammad, maka tiada beda antara Ahlu Sunnah dengan Ahlu Bid’ah, antara Salafi dan Sufi, antara Ikhwanul Muslimin dan Hizbu at-Tahrir. Jenis tamyi’ dalam berdakwah seperti ini merupakan   tamyi’ dalam berda’wah dan didalam manhaj.

Adapun Mudarah yaitu metode taliful qulub (membujuk) orang-orang yang kita anggap mau masuk ke dalam Islam ataupun masuk kedalam salafiyyah.[]

Disalin dari Tanya Jawab bersama Masyaikh Markaz Imam Albani pertanyaan ke-6 yang eBooknya dari AbuSalma.

Download:
Apakah Maksud at-Tamyi’ dan al-Mudarah?
Download Word

Apa Maksud Maslahat Dakwah

Soal:

Apa yang dimaksud dengan Maslahat Dakwah?

Jawab:

Syaikh Masyhur Hasan Salman خفظه الله menjawab :

Adapun maslahat dakwah, banyak orang yang menggunakannya sebagai pembenaran atas berbagai kepentingan dan keingginan mereka, padahal maslahat dakwah harus dipandang dengan kacamata maslahat yang syar’i. Di dalam menyikapi berbagai masalah baru dan problematika besar yang berkembang, seseorang harus meruju’ kepada alim ulama. Jika terdapat sesuatu hal yang dianggap dapat dijadikan sebagai kemaslahatan dakwah, maka harus ditanyakan terlebih dahulu kepada para ulama agar mereka yang dapat menghukuminya.

Baca lebih lanjut