Doa Khusus Dalam Shalat Dhuha

Soal:

Mohon dijelaskan tentang doa setelah shalat Dhuha, adakah yang dikhususkan?

08132707xxxx

Jawab:

Sebatas yang kami ketahui dan kami pelajari, tidak menemukan atau mengetahui ada doa khusus yang dibaca seusai mendirikan shalat Dhuha.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-Shawab.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah Th.ke-XVII_1434H/ 2013M, Rubrik Soal-Jawab hal. 6, asuhan Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله.

Doa Untuk Orang Pulang Haji

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, ada tidak ucapan untuk orang yang baru pulang haji?

Abu Hammam Pekalongan 08586922xxxx

Jawab:

  • Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada lafadz doa atau ucapan tertentu dari Nabi untuk orang yang baru pulang haji, namun tidak mengapa seseorang mendoakan untuk mereka dengan doa-doa yang baik dan sesuai, seperti “Semoga Allah menerima amal shalihmu”, “Semoga Allah menjadikan hajimu sebagai haji yang mabrur” dan lafadz-lafadz sejenisnya yang tidak menyimpan makna terlarang, sebab ucapan selamat dan doa kebaikan merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam syari’at Islam, baik di hari raya maupun selainnya.
  • Oleh karena itu, banyak beberapa dalil yang menunjukkan adanya ucapan selamat pada selain hari raya, seperti ucapan para sahabat kepada Rasulullah: “Selamat untukmu atas apa yang diberikan oleh Allah kepadamu”. (Bukhori: 3939 Muslim: 1786), dan ucapan selamat dari Nabi berserta para sahabat kepada Ka’ab bin Malik tatkala Allah menerima taubatnya. (HR. Bukhori: 4156 Muslim 2769) Baca lebih lanjut

DOA MARYAM ?

Soal:

Ustadz! Mohon dicek, apakah ada dalil do’a Siti Maryam ketika mengandung: RABBIIHABUIMIN LANDUNKA DZURRIYYATAN THAYYIBAH, INNAKA SAMII’UD DU’AA. Terimakasih.

08121896xxxx

Jawab:

Itu adalah doa Nabi Zakaria عليه السلام kepada Allah عزّوجلّ yang memohon agar dikaruniai anak yang baik. Jadi bukan doa Maryam ketika hamil. Allah عزّوجلّ menyebutkan do’a ini dalam firman-Nya:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS. Ali Imran/3:38).[]


Disalin dari Majalah As-Sunnah No.08/Thn.XIV 1432H/2010M, Rubrik Soal-Jawab hal.5

Download:  Download Word

Malas Berdoa = Orang Paling Lemah

Allah عزّوجلّ telah memerintahkan hamba-Nya untuk memanjatkan doa kepada-Nya, karena memuat kemaslahatan besar bagi mereka

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Allah عزّوجلّ berfirman: “Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir/40:60).

Syaikh as-Sa’di رحمه الله berkata “Ini, diantara bukti kelembutan Allah terhadap عزّوجلّ para hamba dan nikmat-nikmat-Nya yang agung, yaitu Allah menyeru mereka untuk melakukan hal-hal yang memuat kemaslahatan bagi agama dan dunia mereka. Dia عزّوجلّ memerintahkan mereka untuk berdoa kepada-Nya, doa ibadah dan doa permintaan, dan memberikanjanji kepada mereka akan mengabulkan permohonan mereka”.[1]

Orang yang senantiasa memanjatkan doa pada Allah عزّوجلّ memuji dan menyanjung-Nya, sebenarnya ia sedang berada dalam kebaikan dan ibadah yang besar. Diantara yang menguak aspek kebaikan doa, hadits Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

Tidaklah seorang Muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan, (yaitu): doanya akan segera dikabulkan, atau akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad no. 10709 dengan sanad hasan).

Imam Ibnul-Mubarak رحمه الله mengatakan:

الرَّحْمَنْ إِذَاسُئِلَ أَعْطَى وَالرَّحِيْمُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ يَغْضَبْ

Ar-Rahman maksudnya bila dimintai akan memberi. Dan Allah itu (ar-Rahim) bila tidak diminta, Dia akan murka.

Atas dasar itu, sungguh rugi orang yang enggan dan bermalas-malasan dalam berdoa pada Allah عزّوجلّ, padahal Dia عزّوجلّ Maha Kuasa atas segala sesuatu, Mengatur alam semesta, dan segala perkara ada di Tangan-Nya. Sementara itu, manusia adalah makhluk lemah; lemah fisik, jiwa dan hati, penuh kekurangan, memiliki permasalahan di dunia, dan harapan selamat di dunia dan akhirat. Dan yang tak boleh dilupakan juga, setan selalu mengintai untuk menjerumuskannya ke lembah kenistaan, memalingkannya dari setiap kebaikan dan dzikrullah. Maka, sangat mengherankan, makhluk dengan keadaan seperti ini, mengapa tidak menyadari keadaannya dan kemudian memohon kekuatan, kemudahan, dan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Kuat?!

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan hadits, ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُهُمْ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

Manusia paling lemah adalah orang yang paling malas berdoa (kepada Allah). Dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil memberi salam. (HR Abu Ya’la, ath-Thabrani, Ibnu Hibban dan ‘Abdul-Ghani al-Maqdisi).[2]

Untuk itu, Syaikh Bakr Abu Zaid رحمه الله mengungkapkan rasa keprihatinannya, “Kasihan, kasihan, orang yang malas untuk berdoa. Sungguh orang itu sudah menutup banyak akses menuju kebaikan dan karunia (dari Allah) bagi dirinyanya”.[3] Wallahu a’lam. (Abu Minhal, Lc.)[]

Disalin dari Majalah as-Sunnah_Baituna no.12/ Thn. XVI, Jumadil ‘Awwal 1434H/ April 2013, hal.5


[1] Taisiru al-Karimi ar-Rahman, hlm. 810.
[2] Syaikh al-Albani رحمه الله menilainya berderajat shahih. Lihat ash-Shahihah, no. 601 dan Shahihul-Jami’, no.1044.
[3] Tash-hihu ad-Du’a, hlm. 61.

Download:
Download Word

Karramallahu Wajhahu untuk Sahabat Ali

DO’A KARAMALLAHU WAJHAHU UNTUK
SAHABAT NABI ALI BIN ABI THALIB
رضي الله عنه

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, dalam beberapa buku sering kita dapati do’a Karramallahu wajhahu untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib, apakah ini dibenarkan ataukah ini adalah ajaran Syi’ah? Mohon penjelasan. Jazakumullahu khairan.

(Hamba Allah, o8ixxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Tidak boleh mengkhusus-kan Sahabat Ali bin Abi Thalib dengan do’a tersebut. Hendaknya beliau dido’akan dengan do’a yang umum untuk para sahabat yaitu radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah عزّوجلّ meridhainya).

Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i رحمه الله berkata, “Sering ditemukan dalam tulisan kitab ungkapan yang dikhususkan untuk Ali bin Abi Thalib ‘alaihi salam‘ atau ‘karramallahu wajhahu‘ tanpa sahabat lainnya. Hal ini sekalipun maknanya benar, namun hendaknya disamakan dengan para sahabat lainnya, karena hal ini termasuk pengagungan dan kemuliaan. Abu Bakar, Umar, dan Utsman lebih utama darinya. Semoga Allah meridhai mereka semua.” (Tafsir al-Qur’anil Azhim oleh Ibnu Katsir 6/478-479, tahqiq Sami Salamah, Daru Thaibah, KSA)

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid رحمه الله mengatakan, “Karena orang-orang Rafidhah, musuh-musuh Ali dan keluarganya, telah menjadikan do’a ini sebagai syi’ar mereka, hendaknya Ahlussunnah menyelisihi mereka. Benar, mereka memiliki beberapa alasan seperti karena Ali tidak pernah melihat aurat sedikit pun atau karena tidak pernah sujud kepada patung sekali pun, maka alasan-alasan ini tidak benar karena ini bukan hanya khusus Ali tetapi juga para sahabat lainnya yang lahir dalam masa Islam, apalagi berita seperti itu masih embutuhkan verifikasi tentang keautentikan  (keabsahan)nya.” (Mu’jamul Manahi Lafzhiyyah karya Syaikh Bakr Abu Zaid hl. 454, Darul Ashimah, KSA, cet. ketiga)

Baca lebih lanjut

Variasi Doa dan Dzikir

Soal:

Mengapa sebagian ulama lebih mengutamakan doa istifta yang berbunyi:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

dan doa sujud yang berbunyi:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ *

dibandingkan dengan doa yang lain?

Jawab:

Pertama, karena ‘Umar bin Khaththab  رضي الله عنه memerintahkan kaum Muslimin di zamannya untuk membaca dua doa tersebut, dan beliau termasuk Khulafa’ Rasyidin yang kita diperintahkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk mengikuti sunnah-sunnah mereka.

Baca lebih lanjut

Mendoakan Orang yang Berzakat

Soal:

Adakah doa khusus saat menerima zakat? Jika tidak ada, bolehkah kita membuat-buatnya?

Jawab:

Kami tidak mengetahui doa tertentu dalam hal ini, hanya saja para Ulama menyebutkan doa berikut:

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ وَآجَرَكَ فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ ذُخْرًا

“Semoga Allah memberkahi harta yang engkau simpan. Semoga Allah memberimu pahala dengan harta yang engkau berikan, dan menjadikannya simpanan bagimu (di akherat)”

Maka boleh bagi seorang Muslim untuk berdoa dengan doa di atas atau yang lainnya, sebagai bentuk realisasi dari firman Allah عزّوجلّ:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Baca lebih lanjut

Tentang Qunut Nazilah

Soal:

Bagaimana pendapat Syaikh mengenai qunut nazilah untuk kaum Muslimin Suriah yang tengah dilanda banyak cobaan seperti sekarang?

Jawab:

Qunut nazilah tergantung pada kebijakan ulil amri (pemerintah), apabila pemerintah memberi izin atau memerintahkan rakyatnya untuk melakukan qunut nazilah maka harus dipatuhi, dan jika tidak, maka tidak perlu dilaksanakan.

Tidak dilaksanakannya qunut nazilah bukan berarti tidak mendoakan mereka sama sekali, karena banyak waktu-waktu tertentu yang bisa jadi lebih mulia dan lebih dekat untuk terkabulnya doa, seperti berdoa ketika sujud, setelah shalat sunnah, doa di sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamat dan lain sebagainya. Maka, hendaknya setiap orang memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik untuk mendoakan kebaikan bagi diri sendiri dan kaum Muslimin.[]

_________

Disalin dari Majalah As-Sunnah No. 05/ Thn. XVI_1433H/2012M hal.9, yang dijawab oleh Dr. Mis’ad bin Musa’id al-Husaini, dosen Ulumul Qur’an Universitas Islam Madinah KSA dalam Daurah Syar’iyyah di Trawas Mojokerto yang diselenggarakan pada tanggal 2-8 Juli 2012.

Download:
Tentang Qunut Nasilah
Download Word

Dalam Sujud Berdoa dengan Ayat al-Qur’an

Soal :
Kami sudah mengetahui, bahwa membaca Al-Qur‘ân ketika sujud tidak dibolehkan, akan tetapi ada beberapa ayat dalam Al-Qur‘ân yang berisi doa.
Bagaimanakah hukum membaca doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur‘ân ketika sujud?

Jawab :
Itu tidak mengapa, apabila dia membawakannya sebagai doa bukan sebagai bacaan Al-Qur‘ân.

Al-Lajnatud-Dâ‘imah lil Buhûts al-Ilmiyyah wal-Iftâ‘

Ketua: Syaikh bin Bâz.
Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur-Razaq ‘Afifi.
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghadyan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ûd.

(Fatâwâ al-Lajnah, 6/441)


Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/ Tahun XII melalui www.majalahassunnah.com

Berdoa dengan Bahasa Indonesia?

Soal:

Assalamualaikum. Saya mau tanya. Kita diperintahkan untuk banyak berdoa terutama pada saat sujud dalam shalat; pertanyaannya, Bolehkah berdoa menggunakan doa yang tidak shahih..? Apakah itu termasuk bid’ah? Dan bagaimana hukum berdoa dengan bahasa Indonesia?. 8573629xxxx

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ اَلْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا  فَأَمَّا اَلرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ اَلرَّبَّ  وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي اَلدُّعَاءِ  فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ingatlah, sesungguhnya aku dilarang membaca al-Qur’an dalam keadaan ruku dan sujud. Adapun dalam ruku’ maka agungkanlah Rabb saat itu sedangkan saat sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa kalian sangat pantas untuk (dikabulkan).” (HR. Muslim no. 479)

Dalam hal ini para Ulama berbeda pendapat, apakah yang dimaksudkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah doa-doa yang ada contohnya dalam al-Qur’an dan Sunnah ? Dan apakah harus menggunakan bahasa Arab ataukah bebas ?

Sebatas yang saya ketahui, pendapat yang terkuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan doanya bebas asalkan kandungannya baik, tidak bertentangan dengan kandungan al-Qur’an dan Sunnah, walaupun tidak ada contohnya dalam al-Qur’an maupun Sunnah, bahkan sampaipun berdoa menggunakan bahasa Indonesia juga tidak masalah. Karena haditsnya tidak memberikan batasan atau kriteria doa model apa saja yang dibaca atau yang dianjurkan ketika sujud. Dalam hadits tersebut, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan perintah atau anjuran yang bersifat umum.

Baca lebih lanjut