Qadha atau Fidyah?

الحامل والمرضع، فإن الحامل والمرضع من أهل الأعذار إذا كان صومها يشق مع الحمل أو مع الإرضاع بحيث لا تستطيع أن ترضع ولدها أو أنها تتعب تعباً شديداً مع الصيام وإرضاع ولدها فإن لها أن تفطر

Syaikh Dr Abdul Aziz ar Rais mengatakan, “Wanita hamil dan menyusui itu termasuk orang yang mendapat keringanan dalam hal puasa.

Jika puasa dalam kondisi hamil atau menyusui itu memberatkannya. Yang dimaksud dengan memberatkannya adalah tidak bisa menyusui atau merasa capek luar biasa jika berpuasa sambil tetap menyusui anak. Dalam kondisi demikian, boleh bagi wanita hami dan menyusui untuk tidak berpuasa.

وأصح أقوال أهل العلم كما ذهب إلى هذا القاسم بن محمد وإسحاق بن راهويه وجمعٌ من أهل العلم وأفتى به اثنان من صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم أنها تُفطر ولا تقضي وتُطعم عن كل يوم مسكيناً هذا أصح أقوال أهل العلم

Baca lebih lanjut

Qadha' Puasa Setelah Ramadhan Berikutnya

Soal:

Seorang wanita mempunyai hutang puasa Ramadhan yang ditinggalkannya karena haid, sekarang ini ia sedang hamil dan belum mengqadha’/ membayar puasa tersebut, sementara bulan Ramadhan yang akan datang sudah dekat, sehingga ia tidak dapat meng-qadha’nya kecuali sesudah bulan Ramadhan berikutnya, apakah yang harus ia lakukan?

Jawab :

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Jika ia mampu mengqadha’ puasa Ramadhan yang wajib baginya seusai Ramadhan tersebut, itulah yang semestinya ia lakukan. Yang jelas ia segera melepaskan dirinya dari kewajiban itu. Namun jika ia wafat sebelum sempat melaksanakan dan membebaskan dirinya dari kewajiban itu, maka wajib baginya mewasiat-kan (kepada walinya~pent) untuk membayar kaffarah[1] sebagai pengganti puasanya.

Adapun jika ia tidak hamil dan tidak pula menyusukan anak, sedang ia mempunyai kewajiban mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena haid, maka wajib baginya untuk mengqadha’. Jika belum sempat mengqadha’nya lalu ia hamil dan menyusui anak, maka diperbolehkan baginya untuk menunda mengqadha’-nya (walapun sesudah Ramadhan berikutnya) tanpa membayar fidyah dan kaffarah. (al-Ashaalah : 15/16, hal: 119-120)

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 245-246.


[1] Kaffarahnya adalah membayar fidyah kepada seorang faqir sebanyak jumlah hari yang ditinggalkannya.