Cara Takbir di Hari Raya

Soal:

Penanya bertanya tentang lafazh takbir ketika hari raya, Allahu akbar 3x la ilaha illallah Allahu akbar 2x walillahi al-hamd, apakah astar tentang hal ini shahih?

Jawab:

Syaikh Ali Hasan al-Halabi خفظه الله menjawab :

Inilah Atsar yang paling sahih yang berasal dari para sahabat ketika bertakbir, inilah yang paling benar dari Ibn Mas’ud dan para sahabat dan pengikutnya yang diwarisi umat Islam dari generasi kegenerasi, adapun melagu-lagukannya dan memanjang-manjangkannya secara berlebihan atau mengkhususkannya pada waktu dan tempat tertentu keseluruhan hal ini adalah bid’ah. Wallohu al-Hadi ila sawai as-sabil.[]

Disalin dari Tanya Jawab bersama Masyaikh Markaz Imam Albani pertanyaan ke-14 yang eBooknya dari AbuSalma.

Download:
Cara Takbir di Hari Raya
Download Word

Orang yang Melihat Hilal

Soal:

As-Salamu ‘alaikum. Dalam ilmu fiqih dijelaskan bahwa rakyat harus turut ikut berhari-raya dengan pemerintah. Bagaimana hukumnya apabila kita yakin ada yang melihat bulan sabit (hilal) Syawal pada malam setelah tanggal 29 Ramadhan atau malam ke-30, padahal pemerintah telah menetapkan bahwa Ramadhan diikmal (digenapkan) menjadi 30 hari karena menuruti pemerintah hilal Syawal tidak terlihat? Apakah kita tetap ikut pemerintah atau kita berhari raya besoknya (puasa 29 hari) karena telah melihat hilal dengan yakin? Bagaimana hukumnya seorang Ustadz yang menjadi imam dan atau khatib shalat ‘led bersama orang yang puasa 29 hari padahal dia berkeyakinan hari raya jatuh setelah ikmal Ramadhan 30 hari, dan ketika shalat atau khutbah ‘id itu dia berpuasa? Bagaimana juga hukumnya seorang ustadz yang jadi khatib dan atau imam ‘id 2 kali pada 2 hari yang berbeda karena kebetulan ada perbedaan hari raya pada saat itu? Syukran, jazaakumullaahu khairan. Was-Salaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 62813742xxxxx

Jawab:

Baca lebih lanjut

Bagaimana Muqoddimah Khutbah

Soal:

Edisi Ramadhan kemarin pada khutbah led kok dimulai dengan takbir ? Mohon penjelasan. Jazakallah. Abu Haya Yogja

Jawab:

Masalah khutbah, baik khutbah ‘led maupun khutbah Jum’at, tidak ada tuntunan secara khusus yang mengikat yang mengharuskan khutbah dengan model tertentu. Berdasarkan ini, maka tidak ada masalah jika ada yang memulai khutbahnya dengan hamdalah, takbir atau lain sebagainya, selama itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang disunnahkan apalagi diharuskan. Namun dianggap sekedar sebagai variasi saja maka itu tidak terlarang insya Allah  عزّوجلّ. Karena sebatas yang saya ketahui tidak ada dalil yang mengharuskan bahwa khutbah iedul fithri, idul adha atau khutbah Jum’at harus dengan model tertentu.

Yang terpenting sebenarnya dalam khutbah adalah memberikan mau’izhah baik yang berkenaan dengan hukum maupun yang lainnya. Selama isinya tidak keluar dari ajaran Islam, maka itu tidak masalah.

Walau demikian, andai khathib membuka khutbahnya dengan khutbah hajah tentu lebih utama, mengingat demikianlah dahulu kebiasaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.[]


Disalin dari Majalah as-Sunnah, Ed. Khusus No. 03-04 Thn XVI 1433H/2012M, Rubrik Soal-Jawab hal.8-9 Asuhan Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri خفظه الله.

Download:
Download Word atau Download PDF

Baca pula:
Khutbah Hajah
Mutiara Khutbah Hajah
Sifat Khutbah Jum’at
Khutbah Idul Fithri
Khutbah Idul Adha
Khutbah Jum’at

Menyikapi Perbedaan ‘Iedul Fithri

Soal:

Assalamu’alaikum. Kalau di tempat saya, ‘Iedul fithri besok, sedangkan saya ikut pemerintah yang lebaran besoknya lagi. Bagaimana puasa dan shalat ‘led saya?. 628569369xxxx

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Kalau memang saudara ikut pemerintah, maka saudara tetap berpuasa sebagaimana biasa, walaupun masyarakat sekitar saudara sudah berbuka dan melaksanakan shalat ‘led. Sementara untuk shalat led, saudara ikut kaum Muslimin di tempat terdekat yang shalat lednya mengikuti pemerintah.

الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ اَلنَّاسُ, وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي اَلنَّاسُ

“Hari raya ‘iedul fithri adalah hari yang padanya masyarakat luas berhenti dari puasanya, dan hari raya ‘iedul adhha adalah hari yang padanya masyarakat luas menyembelih kurban.” (HR. at-Tirmizi, no 802)[]


Disalin dari Majalah as-Sunnah, Ed. Khusus No. 03-04 Thn XVI 1433H/2012M, Rubrik Soal-Jawab hal.6 Asuhan Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri خفظه الله.

Download:
Download Word atau Download PDF

Bolehkah Berhutang Untuk Berkorban ?

Soal:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله ditanya, “Apa hukum ibadah kurban ? Bolehkah bagi seseorang berhutang untuk melaksanakan ibadah kurban ?”

Jawab:

Beliau  رحمه الله  menjawab :

Ibadah kurban itu hukumnya sunnah mu’akkadah (ibadah sunat yang sangat ditekankan) bagi orang yang mampu melaksanakannya. Bahkan sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa ibadah kurban itu hukumnya wajib. Diantara yang berpendapat wajib adalah imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau رحمهم الله. Ini juga riwayat dari Imam Ahmad رحمه الله dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله.

Berdasarkan keterangan ini maka tidak seyogyanya bagi orang yang mampu meninggalkan ibadah ini. Sedangkan orang yang tidak memiliki uang, maka tidak seharusnya dia mencari hutangan untuk melaksanakan ibadah kurban. Karena (kalau dia berhutang), dia akan tersibukkan dengan tanggungan hutang, sementara dia tidak tahu, apakah dia akan mampu melunasinya ataukah tidak ? Namun bagi yang mampu, maka janganlah dia meninggalkan ibadah ini karena itu sunnah. Dan sebenarnya ibadah kurban itu satu untuk seseorang dan keluarganya. Inilah yang sunnah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم . Beliau berkorban dengan seekor kambing atas nama diri beliau صلي الله عليه وسلم dan semua keluarganya. Jika ada orang yang berkorban seekor kambing atas nama diri dan semua keluarganya, maka itu sudah cukup untuk semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia tanpa perlu mengkhususkan ibadah korban atas nama orang yang sudah meninggal dunia, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Mereka melakukan ibadah korban khusus atas nama orang yang sudah meninggal dunia dan membiarkan diri dan keluarga mereka. Mereka tidak melakukan ibadah korban atas nama diri dan keluarga mereka.

Adapun melakukan ibadah korban atas nama orang yang sudah meninggal dunia karena wasiat yang diwasiatkannya, maka itu wajib dilaksanakan. Wallahu a’lam.


Disalin dari Majalah As-Sunnah, Ed. 06 Thn. XV_1432/2011, hal 7

Menyembelih Bukan Pada Hari Raya Idul ‘Adhha

Soal:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله ditanya tentang seseorang yang beribadah kepada Allah dengan menyembelih hewan tapi bukan pada saat-saat disyariatkan berkorban. Apakah dia mendapatkan pahala ?

Jawab:

Beliau رحمه الله menjawab :

Telah diketahui bersama bahwa beribadah kepada Allah dengan menyembelih hewan sembelihan bukan pada saat disyariatkan berkorban tidak akan menghasilkan pahala ibadah korban. Namun jika dia bershadaqah dengan daging hewan tersebut, maka dia mendapatkan pahala shadaqah, bukan pahala berkorban. Oleh karena itu, kami mengatakan kepada orang itu, “Jangan beribadah kepada Allah عزّوجلّ dengan sesembelihan kecuali dengan niat beribadah kepada Allah عزّوجلّ dengan menyedaqahkan dagingnya.


Sumber : Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 25/17.

Disalin dari Majalah As-Sunnah, Ed. 06 Thn. XV_1432/2011, hal 7

Hukum Meninggalkan Sholat 'Id

Soal:

Bolehkah seorang muslim meninggalkan shalat ‘id tanpa ada udzur atau sebab syar’i juga melarang wanita menunaikan shalat ‘id bersama orang banyak?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Shalat ‘id hukumya fardhu -kifayah, menurut kebanyakan ulama- sehingga tidak berdosa bagi sebagian orang yang meninggalkannya bila ada sebagian yang lain melaksanakannya. Adapun meng¬hadiri acara shalat ‘id secara bersama-sama hukumnya sun nah muakkadah (yang sangat dianjurkan). Tidak pantas seseorang meninggalkannya kecuali ada udzur atau sebab syar’i (yang bisa diterima agama). Sebagian para ulama berpendapat bahwa shalat’id hukumya fardlu ain seperti shalat jum’at; yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang laki-laki merdeka yang mukallaf (yang sudah terkena beban menjalankan syari’at agama) dan tidak sedang bepergian. Inilah pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran.

Adapun bagi wanita, disunnahkan menghadiri shalat ‘id asalkan terpisah tempatnya dari kaum laki-laki, menutup aurat, dan tidak menggunakan wewangian. Hal ini berdasarkan hadits yang terdapat dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari[1] dan Muslim[2]) dari Ummu ‘Athiyyah, bahwa ia berkata:

نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَالْـحُيَّضَ لِيَشْهَدْنَ الْـخَيرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، وَتَعْتَزِلَ الْـحُيُّضُ الْـمُصَلَّى، وَفِي بَعْضِ أَلْفَاظِهِ: فَقَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: يَا رسول الله لاَ تَجِدُ إِحْدَانَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيهِ، فَقَالَ: لِتُلْبِسَهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِـهَا

“Kami diperintahkan untuk keluar pada -acara shalat- dua hari raya, begitu pula wanita yang belum menikah dan yang sedang haid, agar menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin. Adapun yang sedang haid, menjauh dari tempat pelaksanakan shalat (berada di luar tempat pelaksanaan shalat).” Dalam hadits lain disebutkan dengan lafazh: “Lalu salah seorang dari mereka (kaum wanita) berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab untuk keluar/ Lalu beliau menjawab, “Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbab miliknya. “

Tidak diragukan lagi, bahwa hadits di atas menunjukkan anjuran yang kuat kepada para wanita untuk menghadiri acara shalat pada dua hari raya agar dapat ikut menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin. Wallahu waliyyut taufiq.


[1] Hadits no. 931
[2]
Hadits no. 890

Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 01/I/Ramadhan 1423 H_ 2002 M, hal. 14

Perbedaan Penentuan Hari Raya Dikembalikan Pada Keputusan Pemerintah

Soal:

Bagaimana menurut Islam mengenai perbedaan kaum muslimin dalam berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha? Mengingat jika salah dalam menentukan hal ini, kita akan berpuasa pada hari yang terlarang (yaitu hari ‘ied) atau akan berhari raya pada hari yang sebenarnya wajib untuk berpuasa. Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai masalah yang krusial ini sehingga bisa jadi hujah (argumen) bagi kami di hadapan Allah. Apabila dalam penentuan hari raya atau puasa ini terdapat perselisihan, ini bisa terjadi ada perbedaan dua sampai tiga hari. Jika agama Islam ini ingin menyelesaikan perselisihan ini, apa jalan keluar yang tepat untuk menyatukan hari raya kaum muslimin?

Jawab:

Al-Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ menjawab:

Para ulama telah sepakat bahwa terbitnya hilal di setiap tempat itu bisa berbeda-beda dan hal ini dapat diketahui dengan pasti secara inderawi dan logika. Akan tetapi, para ulama berselisih pendapat mengenai teranggapnya atau tidak hilal di tempat lain dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan. Dalam masalah ini ada dua pendapat. Pendapat pertama adalah yang menyatakan teranggapnya hilal di tempat lain dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan walaupun berbeda matholi’ (wilayah terbitnya hilal). Pendapat kedua adalah yang menyatakan tidak teranggapnya hilal di tempat lain. Masing-masing dari dua kubu ini memiliki dalil dari Al Kitab, As Sunnah dan Qiyas. Dan terkadang dalil yang digunakan oleh kedua kubu adalah dalil yang sama. Sebagaimana mereka sama-sama berdalil dengan firman Allah:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Begitu juga firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: “Hilal (bulan sabit) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. Al Baqarah [2]: 189)

Mereka juga sama-sama berdalil dengan hadits Nabi صلي الله عليه وسلم:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari)

Perbedaan pendapat menjadi dua kubu semacam ini sebenarnya terjadi karena adanya perbedaan dalam memahami dalil. Kesimpulannya bahwa dalam masalah ini masih ada kelapangan untuk berijtihad. Oleh karena itu, para pakar fikih terus berselisih pendapat dalam masalah ini dari dahulu hingga saat ini.

Tidak mengapa jika penduduk suatu negeri yang tidak melihat hilal pada malam ke-30, mereka mengambil ru’yah negeri yang berbeda matholi’ (beda wilayah terbitnya hilal). Namun, jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat, maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya. Namun, jika penguasa di negeri tersebut bukanlah muslim, hendaklah dia mengambil pendapat majelis ulama di negeri tersebut. Hal ini semua dilakukan dalam rangka menyatukan kaum muslimin dalam berpuasa Ramadhan dan melaksanakan shalat ‘ied.

Semoga Allah memberi kita taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.


Fatawa no. 388, Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua: Abdur Rozaq ‘Afifi
Wakil Ketua: Abdullah bin Ghodyan
Anggota: Abdullah bin Mani’

Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Berpuasa dan Berhari Raya Ikut Siapa?

Menentukan Hari Raya dengan Ilmu Hisab

Soal:

Terdapat perselisihan yang cukup sengit di antara ulama kaum muslimin mengenai penentuan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Sebagian dari mereka beramal dengan hadits, “Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya“. Namun, ulama lainnya berpegang teguh dengan pendapat ahli falak (ahli ilmu perbintangan). Para ulama ini mengatakan, “Sesungguhnya ahli falak adalah pakar dalam ilmu perbintangan yang memungkinkan mereka untuk mengetahui awal bulan qomariyah (tanggal 1 bulan hijriyah).” Oleh karena itu, para ulama tadi mengikuti kalender (sesuai dengan ilmu perbintangan).

Jawab:

Al-Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ menjawab:

Pertama: pendapat yang kuat yang wajib diamalkan adalah yang sesuai dengan sabda Nabi صلي الله عليه وسلم:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya. Apabila kalian tertutup mendung, genapkanlah bulan tersebut” (HR. Bukhari dengan berbagai lafazh).

Hadits ini menunjukkan bahwa awal dan akhir bulan Ramadhan ditentukan dengan melihat hilal. Dan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah umum tetap kekal dan berlaku hingga hari kiamat.

Kedua: Allah ta’ala tentu mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, ini berarti Allah juga mengetahui nanti akan muncul ilmu falak dan ilmu-ilmu yang lainnya. Namun, Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم menjelaskan maksud ayat ini kepada kita:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari)

Dari penjelasan ini menunjukkan bahwa awal dan akhir puasa Ramadhan ditentukan dengan melihat hilal dan tidaklah dikaitkan dengan ilmu hisab/ilmu perbintangan,  padahal Allah telah mengetahui nanti ada ilmu perbintangan semacam ini.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim kembali dan percaya pada syariat Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah صلي الله عليه وسلم yaitu menentukan awal dan akhir puasa dengan melihat hilal. Pendapat inilah sebagaimana ijma’ (kesepakatan) dari para ulama. Barangsiapa yang menyelisihi dalam hal ini dan beralih kepada ilmu hisab, maka perkataannya syadz (pendapat yang nyleneh) dan pendapat ini tidaklah perlu diperhatikan.

Semoga Allah memberi kita taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.


Pertanyaan Kedua, Fatawa no. 2036 Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdur Rozaq ‘Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghodyan

Sumber: murlim.or.id

Hari Raya Jatuh Pada Hari Jum’at

Soal:

Apabila hari raya ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’at tetap dilaksanakan atau tidak?

Jawab:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menjawab:

Saat hari raya Idul Fitri atau ‘Idul Adha tiba, kaum muslimin disyariatkan melakukan shalat ‘Id di lapangan. Bila ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, bagi yang paginya ikut shalat’Id siangnya dibolehkan tidak ikut shalat Jum’at, tetapi diganti dengan shalat zhuhur seperti biasanya. Hal itu berdasarkan hadits-hadits berikut.

  • Dari Zaid bin Arqam رضي الله عنه, ia berkata, “Nabi pernah shalat ‘Id dan memberi keringanan (kepada para sahabat untuk tidak) shalat Jum’at, kemudian beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Baca lebih lanjut