Hukum Asuransi Jiwa dan Barang

Soal:

Bagaimana hukumnya asuransi jiwa dan barang-barang pribadi?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Hukum asuransi jiwa tidak boleh. Sebab, orang yang mengasuransikan jiwanya, saat maut datang, ia tidak bisa mengalihkannya kepada perusahaan asuransi. Ini merupakan wujud kesalahan, kebodohan dan kekeliruan berpikir. Juga mengandung ketergantungan kepada pihak perusahaan asuransi, tidak kepada Allah عزّوجلّ. Dengan asuransinya, ia mempunyai keyakinan untuk bergantung diri. Jika ia meninggal, maka pihak asuransi akan menanggung kebutuhan pangan dan biaya hidup bagi keluarganya. (Demikian) ini merupakan bentuk ketergantungan kepada selain Allah عزّوجلّ.

Perkara ini, pada dasarnya berasal dari praktek perjudian (al-maisir). Bahkan sebenarnya, asuransi itu merupakan perjudian. Allah عزّوجلّ menyatukan al-maisir dengan syirik, dan mengundi nasib dengan anak panah dan minuman keras.

Dalam pengelolaan asuransi, jika seorang nasabah membayar premi, bisa jadi ia melakukannya dalam jangka waktu tahunan, sehingga ia menjadi pihak yang merugi. Bila meninggal setelah tidak berapa lama membayar, maka pihak perusahaan asuransi yang merugi (karena membayar klaim nasabah). Dan setiap akad perjanjian yang berputar antara untung dan rugi, merupakan praktek perjudian.[]

Majmu Durus Fatawa al-Haramil-Makki,
dari Fatawa Ulama al Baladil-Haram,
Penyusun: Dr. Khalid bin ‘Abdir-Rahman al-Juraisi,
Cetakan I, Tahun 1420 H-1999 M, hlm. 660, 192.

Disalin Majalah as-Sunnah Ed. 08 Thn. XI_1428H/2007M,  hal.36-37

Download:
Download Word

Baca pula eBook:
Asuransi Ta’awun VS Asuransi Konvensional

Darah Sudah Berhenti, Lendir Putih Belum Ada

Soal:

Padahari terakhir dari masa haid dan sebelum suci, si wanita tidak menjumpai bekas darah. Apakah dia berpuasa pada hari itu, pada hal dia belum mendapati lendir putih, atau apa yang dia lakukan?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Jika kebiasaannya tidak mendapati lendir putih sebagaimana yang terjadi pada sebagian wanita maka dia berpuasa. Tetapi jika kebiasaannya mendapati lendir putih maka tidak berpuasa sampai menjumpai lendir putih.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 16 pertanyaan ke-13..

Masa Haid: Kadang Keluar Darah, Kadang Tidak

Soal:

Jika seorang wanita pada saat kebiasannya (datang bulan) sehari mendapati darah dan sepanjang siang hari selanjutnya tidak mendapati darah, apa yang harus dia perbuat?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Tampaknya, keadaan bersih atau kering yang dialami oleh siwanita pada masa haidnya termasuk haid,karena itu tidak dianggap sebagai keadaan suci (dari haid).Untuk itu, tetap terlarang baginya apa yang terlarang bagi wanita haid.

Sebagian ulama mengatakan: ”Wanita yang mendapati sehari darah dan sehari bersih, maka darahnya adalah haid dan bersihnya adalah thuhr (suci dari haid), sehingga mencapai lima belas hari. Apabila telah mencapai limabelas hari, maka darah sesudahnya adalah istihadhah.” Ini pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 16 pertanyaan ke-12.

Hukum Kotoran Sebelum dan Sesudah Haid

Soal:

Apa hukum kotoran yang keluar dari wanita sebelum haid sehari, atau lebih atau kurang. Bentukkotoran itu seperti benang tipis hitam atau coklat atau semisalnya? Dan apa hukumnya, kalau terjadi setelah haid?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Kotoran ini jika merupakan pengantar haid maka termasuk haid, ditandai dengan rasa badan tak sehat dan sakit perut yang biasanya dialami wanita haid. Adapun kotoran setelah haid, maka hendaklah dia menunggu hingga hilang, karena kotoran yang bersambung dengan haid adalah haid, berdasarkan perkataan Aisyah رضي الله عنها:

لَا تَعْجَلِنَّ حّتَّى تّرَيْنَ القِصَّةَ البَيْضَاءَ

“Jangan tergesa-gesa sebelum kamu melihat lendir putih “.

Wallahu a ‘lam.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 32 pertanyaan ke-38.

Cukup Wudhu’ bila Cairan Keluar dari Rahim

Soal:

Wudhu yang dilakukan karena keluarnya cairan tadi [dari rahim], apakah cukup dengan membasuh anggota tubuh dalam wudhu saja?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya, cukup dengan hal tu  bila cairan itu suci, yaitu yang keluar dari rahim bukan dari kandung kemih.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 31 pertanyaan ke-34.

Hukum Cairan yang Mengenai Pakaian/Tubuh

Soal:

Apa yang perlu dilakukan terhadap cairan yang mengenai tubuh atau pakaian ?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Jika cairan itu suci maka tidak perlu apa-apa. Tetapi jika cairan najis, yaitu yang keluar dari kandung kemih, maka wajib dicuci atau dibersihkan.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 30-31 pertanyaan ke-33.

Hukum Merokok

Soal:

Aku berharap kepada Syaikh untuk menjelaskan tentang hukum merokok dan syisyah (sejenis rokok) dengan menyertakan dalil-dalilnya.

Jawab:

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله menjawab:

Merokok hukumnya haram, demikian pula syisyah. Dalil akan hal ini adalah firman Alloh عزّوجلّ:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa [4]: 29)

Dan juga firman Alloh Ta’ala:

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqoroh [2] : 195) Baca lebih lanjut