Saling Memberi Hadiah di Hari Raya, Apakah Bid’ah

Soal:

Apakah diperbolehkan memberikan kepada anggota keluarga sebagian hadiah pada waktu hari raya Adha dan hari raya fitri dan terus menerus melakukan hal itu setiap tahun, ataukah hal itu bid’ah?

Jawab:

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid حفظه الله menjawab:

Alhamdulillah.

Tidak mengapa memberikan hadiah waktu hari raya fitri dan adha untuk keluarga dan kerabat. Karena ia adalah hari gembira dan bahagia. Dianjurkan di dalamnya menyambung (kerabat), berbuat baik, melapangkan dalam makanan dan minuman. Ini bukan termasuk bid’ah. Bahkan ia adalah perkara mubah, kebiasaan baik termasuk syiar hari raya. Oleh karena itu dilarang memberikan hadiah dan memperlihatkan kegembiraan dan kebahagiaan di hari-hari bid’ah yang tidak ada (ajaran) perayaan seperti awal tahun, hari kelahiran, atau pertengahan sya’ban karena hal ini menjadikannya hari raya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Pada hari raya ini orang-orang saling tukar hadiah, yakni mereka memasak makanan dan mengundang sebagian kepada sebagian lainnya. Mereka berkumpul dan bergembira. Kebiasaan ini tidak mengapa karena hari raya. Sampai Abu Bakar radhiallahu’anhu ketika masuk ke rumah Rasulullah sallallahu’alai wa sallam mendapatkan dua wanita kecil bernyanyi di hari raya beliau menghadiknya. Maka Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mengatakan, ‘Biarkan dia berdua.’ Beliau tidak mengatakan, ‘Dia dua wanita kecil. Tapi mengatakan, ‘Biarkan dia berdua, karena (sekarang) hari raya. Ini sebagai dalil bahwa ajaran (Islam) menunjukkan kemudahan terhadap para hamba. Yang mana dibukakan kepada mereka kegembiraan dan kebahagiaan di hari raya walillahil hamdu (segala puji hanya bagi Allah). (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/276)

Baca lebih lanjut

Sholat Hari Raya di Masjid atau di Lapangan?

Soal:

Di tempat saya, shalat led dilaksanakan di masjid padahal menurut Sunnah dilaksanakan di lapangan. Apakah lebih baik ikut shalat di lapangan atau tetap ikut shalat di masjid? Padahal kalau shalat di lapangan tempatnya jauh. 628383800xxxx

Jawab:

Jika pertanyaannya, mana yang lebih baik, maka tentu jawabannya adalah lebih baik shalat di lapangan. Karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga melakukannya di lapangan.

Sahabat Ibnu ‘Abbas  رضي الله عنهما meriwayatkkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

Dari Ibnu ‘Abbas  رضي الله عنهما bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pada saat Idul Fitri atau Idul Adha keluar (menuju ke lapangan), lalu beliau jg mendirikan shalat ‘led sebanyak dua rakaat, dan beliau صلى الله عليه وسلم tidak melakukan shalat lain sebelum dan setelahnya. (Riwayat Muslim, no. 884)

Baca lebih lanjut

Hukum Meninggalkan Sholat 'Id

Soal:

Bolehkah seorang muslim meninggalkan shalat ‘id tanpa ada udzur atau sebab syar’i juga melarang wanita menunaikan shalat ‘id bersama orang banyak?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Shalat ‘id hukumya fardhu -kifayah, menurut kebanyakan ulama- sehingga tidak berdosa bagi sebagian orang yang meninggalkannya bila ada sebagian yang lain melaksanakannya. Adapun meng¬hadiri acara shalat ‘id secara bersama-sama hukumnya sun nah muakkadah (yang sangat dianjurkan). Tidak pantas seseorang meninggalkannya kecuali ada udzur atau sebab syar’i (yang bisa diterima agama). Sebagian para ulama berpendapat bahwa shalat’id hukumya fardlu ain seperti shalat jum’at; yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang laki-laki merdeka yang mukallaf (yang sudah terkena beban menjalankan syari’at agama) dan tidak sedang bepergian. Inilah pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran.

Adapun bagi wanita, disunnahkan menghadiri shalat ‘id asalkan terpisah tempatnya dari kaum laki-laki, menutup aurat, dan tidak menggunakan wewangian. Hal ini berdasarkan hadits yang terdapat dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari[1] dan Muslim[2]) dari Ummu ‘Athiyyah, bahwa ia berkata:

نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَالْـحُيَّضَ لِيَشْهَدْنَ الْـخَيرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، وَتَعْتَزِلَ الْـحُيُّضُ الْـمُصَلَّى، وَفِي بَعْضِ أَلْفَاظِهِ: فَقَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: يَا رسول الله لاَ تَجِدُ إِحْدَانَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيهِ، فَقَالَ: لِتُلْبِسَهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِـهَا

“Kami diperintahkan untuk keluar pada -acara shalat- dua hari raya, begitu pula wanita yang belum menikah dan yang sedang haid, agar menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin. Adapun yang sedang haid, menjauh dari tempat pelaksanakan shalat (berada di luar tempat pelaksanaan shalat).” Dalam hadits lain disebutkan dengan lafazh: “Lalu salah seorang dari mereka (kaum wanita) berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab untuk keluar/ Lalu beliau menjawab, “Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbab miliknya. “

Tidak diragukan lagi, bahwa hadits di atas menunjukkan anjuran yang kuat kepada para wanita untuk menghadiri acara shalat pada dua hari raya agar dapat ikut menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin. Wallahu waliyyut taufiq.


[1] Hadits no. 931
[2]
Hadits no. 890

Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 01/I/Ramadhan 1423 H_ 2002 M, hal. 14

Hari Raya Jatuh Pada Hari Jum’at

Soal:

Apabila hari raya ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’at tetap dilaksanakan atau tidak?

Jawab:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menjawab:

Saat hari raya Idul Fitri atau ‘Idul Adha tiba, kaum muslimin disyariatkan melakukan shalat ‘Id di lapangan. Bila ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, bagi yang paginya ikut shalat’Id siangnya dibolehkan tidak ikut shalat Jum’at, tetapi diganti dengan shalat zhuhur seperti biasanya. Hal itu berdasarkan hadits-hadits berikut.

  • Dari Zaid bin Arqam رضي الله عنه, ia berkata, “Nabi pernah shalat ‘Id dan memberi keringanan (kepada para sahabat untuk tidak) shalat Jum’at, kemudian beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Baca lebih lanjut