Hukum Memelihara Walet dan Pemanfaatan Liurnya

Soal:

Assalamu’alaikum Ustadz, bagaimana hukum memelihara wallet dan bagaimana dengan liurnya, halal atau haram? Jazakumullah khoiron

Azhxxx xxxpung 08526998xxxx

Jawab:

Secara umum, pada asalnya memelihara burung hukumnya adalah boleh, karena hal itu termasuk urusan dunia, dan kaidahnya “Asal dalam masalah dunia adalah boleh sehingga ada dalil yang melarangnya”. Apalagi, ada beberapa dalil yang menunjukkan bolehnya, diantaranya adalah sabda Nabi kepada seorang anak kecil: Ya Abu Umair, apa yang dilakukan oleh Nughoir (burung kecil)?! (HR. Bukhori: 6203 dan Muslim: 2150)

Di antara faedah yang dapat dipetik dari hadits ini adalah bolehnya anak kecil bermain dengan burung, dan bolehnya mengurung burung di sangkar dan sejenisnya. (Lihat Fathul Bari Ibnu Hajar 10/601)

Namun hal itu dengan syarat memberinya makan dan minum serta kebutuhan-kebutuhan lainnya, sebagaimana dikatakan oleh al-‘Iraqi dalam Thorhu Tatsrib berdasarkan hadits tentang wanita yang disiksa di neraka karena sebab kucing “Dia tidak memberinya makan dan minum”. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 13/39, al-Muru’ah Masyhur bin Hasan hlm. 185)

Dari keterangan di atas, dapat dipetik kesimpulan bahwa memelihara burung wallet hukumnya adalah boleh-boleh saja.

Adapun liurnya, maka hukumnya juga halal/boleh, karena liur wallet tidak najis, tidak ada dalil yang menajiskannya, bahkan terdapat dalil yang menunjukkan kesuciannya.

عَنْ عَمْرِو بْنِ خَارِجَةَ قَالَ : خَطَبَناَ النَّبِيُّ بِمِنَى وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَلُعَابُهَا يَسِيْلُ عَلَى كَتِفِيْ

Dari Amr bin Khorijah berkata: Nabi berkhutbah kepada kami di Mina dan beliau berada di atas kendaraannya dan liur kendaraannya mengalir di pundakku.(HR. Tirmidzi 2120, Ibnu Majah 2712, Ahmad 4/186)

Ash-Shon’ani berkata:

“Hadits ini menunjukkan bahwa liur hewan yang boleh dimakan dagingnya adalah suci, bahkan diceritakan bahwa hal itu merupakan kesepakatan ulama, apalagi hal ini sesuai dengan kaidah asal”. (Subulus Salam 1/77).

Kesimpulan, memelihara burung wallet hukumnya boleh dan liurnya hukumnya halal. Wallahu A’lam.

Dijawab oleh ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi حفظه الله di web resmi beliau abiubaidah.com.

E-Book Fatwa Ulama

Alhamdulillah, selanjutnya shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan juga kepada keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga suatu yang pasti, amma ba’du

Dihari Jum’at yang mulia ini kami ketengahkan kehadapan pengunjung setia IbnuMajjah.com sebuah eBook yang berisi ratusan fatwa dari ulama-ulama senior yang menjawab berbagai persoalan kehidupan manusia yang ditanyakan kepada mereka.

Isi eBook ini diambil dari http://fatwa-ulama.com/ yang sekarang tidak dapat diakses lagi, untunglah isi website tersebut telah dikumpulkan oleh al akh Abu Said dalam software buatannya SalafiDB, kemudian kami mengestraknya dan mengcompile dalam bentuk ebook CHM.

Kami berharap isi eBook dapat menjawab berbagai permasalahan yang kita hadapi, dan semoga menjadi amal baik bagi para Masyaikh, pencatat, penerjemah fatwa-fatwa ini, amin…

Download:
Download CHM
mirror Download CHM

Tidak Wudhu’ Sebab Kelauar Cairan, Apa yang dilakukan?

Soal:

Diantara kaum wanita ada yang tidak berwudhu [sebab keluar cairan dari rahim] karena tidak mengetahui hukumnya, apa yang harus dia lakukan?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Dia harus bertaubat kepada Allah عزّوجلّ dan bertanya kepada orang yang berilmu (mengetahui).[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 31 pertanyaan ke-36.

Perbedaan dan Persamaan Antara Imam dan Islam

Bagaimana Mengkompromikan Hadits Tentang Iman Adalah Beriman Kepada Allah & Iman Adalah Bersyahadat

Soal:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya: Bagaimana kita mengkompromikan antara hadits Jibril yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa iman adalah beriman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Akhir dan Taqdir yang baik dan buruk, dengan hadits Wafd Abdul Qais yang di dalamnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iman adalah bersyahadat bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah saja tanpa berbuat syirik kepadaNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menunaikan seperlima bagian harta ghanimah.

Jawab:

Sebelum pertanyaan ini dijawab saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tidak akan pernah ada pertentangan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Al-Qur’an tidak ada yang saling merusak antara ayat satu dengan ayat yang lain, demikian juga di dalam As-Sunnah. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak ada sesuatupun yang tidak sesuai dengan kenyataan. Karena realita adalah benar, dan Al-Qur’an sunnah adalah benar juga, kebenaran tidak mungkin saling bertentangan. Jika kamu faham kaidah ini maka terjawablah segala musykilah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa/4: 82)

Baca lebih lanjut

Apakah Qiyas Sumber Hukum Agama

Soal:

Apa pendapat syaikh dalam menanggapi maslak qiyas, apakah dia termasuk salah satu sumber selain  Al-Qur’an dan as-Sunnah?

Jawab:

Syaikh Masyhur Hasan Salman خفظه الله menjawab :

Masalah ini adalah permasalahan yang banyak membuat seseorang keliru pemahamannya dan  tergelincir, namun jawaban yang rajih bahwa syariat ini memiliki  illat (sebab dibuatnya hukum-pent)yang  mu’tabarah (dianggap). Sebagaimana yang tertulis dalam surat  Umar kepada Abu Musa Al-As’ari yang berbunyi:

“Kenalilah sesuatu dengan hal-hal yang serupa dengannya maka engkau akan mengetahui kebenaran”

Tetapi Qiyas bukan  sumber yang independen layaknya Al-Qur’an dan As-Sunnah, dia hanyalah sebuah masdar taba’i (dasar yang mengikut) dibawah cakupan Al-Qur’an dan As-sunnah. Kita paham dari Al-Qur’an dan As-sunnah adanya kaedah-kaedah umum dan ketentuan –ketentuan dasar, maupun  kaedah-kaedah fikih. Dengan itulah kita berusaha menyesuaikan hukum-hukum dengan menganalogikannya kepada kasus-kasus yang serupa.

Baca lebih lanjut

Lebih Baik Cerai Daripada Dimadu

Soal:

Ada seorang lelaki yang sudah  berkeluarga, namun dia masih berkeinginan menikah dengan wanita lain, karena dia merasa tidak cukup dengan satu istri dan dia masih mengkhawatirkan dirinya akan terjatuh dalam perbuatan haram. Sementara istri pertamanya menolak keras keinglnan suaminya itu dan dia minta diceraikan jika si suami nekat menikah lagi, padahal wanita ini mengetahui syari’at Allah عزّوجلّ tentang poligami. Apa nasehat syaikh kepada si lelaki ini? Haruskah dia mengikuti penolakan istrinya dan menyerah terhadap ancaman permintaan talak ataukah dia tetap menikah dengan wanita berikutnya dan menceraikan istri pertamanya, karena dia merasa mampu untuk memberikan nafkah dan memperlakukan keduanya dengan adil?

Jawab:

Kami menasehati Saudara untuk menikah karena pernikahan itu akan lebih menjaga kehormatan dan juga mengikuti sunnah. Kami juga manasehatkan saudara untuk tidak menceraikan istri pertama. Untuk istri pertama, kami wasiatkan kepadanya agar bertakwa kepada Allah عزّوجلّ, bersabar dan tidak meminta cerai, insya Allah, Allah عزّوجلّ akan memberikan jalan keluar bagi kalian dari permasalahan ini, sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan membirinya rezki dan arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. ath-Thalaq/65:2-3)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. ath-Thalaq/65:4)

Semoga Allah  عزّوجلّ  memberikan taufiq-Nya untuk kita semua.[] (Fatawa Ulama Baladil Haram, hlm.434)


Disalin dari Majalah As-Sunnah_Baituna No. 05/ Thn. XVI_1433H/2012M rubrik Sakinah, hal.9

Download:
Lebih Baik Cerai Daripada Dimadu
Download Word

Hukum Memukul Istri

Soal:

Bagaimana hukum seorang suami memukul istrinya? Bagaimanakah ketentuan syari’at dalam masalah ini? Mohon penjelasan, jazakumullah khairan!’

Jawab:

Syaikh  Muhammad   bin  Shalih  al-Utsaimin رحمه الله menjawab:

Allah عزّوجلّ berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut (QS. an-Nisa’/4:19)

Juga firman-Nya:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. (QS. al-Baqarah/2:228)

Baca lebih lanjut

Alat Musik Dalam Pandangan Ulama Syafi’i

Sebagian orang mengira alat musik itu haram karena klaim sebagian kalangan saja. Padahal sejak masa silam, ulama madzhab telah menyatakan haramnya. Musik yang dihasilkan haram didengar bahkan harus dijauhi. Alat musiknya pun haram dimanfaatkan. Jual beli dari alat musik itu pun tidak halal. Kali ini kami akan buktikan dari [ulama] madzhab Syafi’i secara khusus karena hal ini jarang disinggung oleh para Kyai dan Ulama di negeri kita. Padahal sudah ada di kitab-kitab pegangan mereka.

Terlebih dahulu kita lihat bahwa nyanyian yang dihasilkan dari alat musik itu haram. Al Bakriy Ad Dimyathi رحمه الله berkata dalam I’anatuth Tholibin (2: 280),

بخلاف الصوت الحاصل من آلات اللهو والطرب المحرمة – كالوتر – فهو حرام يجب كف النفس من سماعه

“Berbeda halnya dengan suara yang dihasilkan dari alat musik dan alat pukul yang haram – seperti ‘watr’ -, nyanyian seperti itu haram. Wajib menahan diri untuk tidak mendengarnya.”

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami رحمه الله disebutkan ,

ء(طُنْبُورٍ وَنَحْوِهِ ) مِنْ آلَاتِ اللَّهْوِ وَكُلِّ آلَةِ مَعْصِيَةٍ كَصَلِيبٍ وَكِتَابٍ لَا يَحِلُّ الِانْتِفَاعُ بِهِ

Thunbur dan alat musik semacamnya, begitu pula setiap alat maksiat seperti salib dan kitab (maksiat), tidak boleh diambil manfaatnya.” Jika dikatakan demikian, berarti alat musik tidak boleh dijualbelikan. Jual belinya berarti jual beli yang tidak halal.

Baca lebih lanjut

Hukum Bekerja di Hotel

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, apa hukum bekerja di hotel, karena ada sebagian ikhwan yang melarangnya karena terlalu banyak maksiat. Jazakalloh. (Kukuh, Batam, 08x39136xxxx)

Jawab:

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rosululloh, keluarga, dan sahabatnya.

Pekerjaan yang salah satunya adalah bekerja di hotel adalah salah satu urusan dunia, bukan urusan ibadah. Sedangkan para ulama telah menggariskan satu kaidah umum dalam setiap urusan dunia:

الْأَصْلُ فِيْ الْعَادَاتِ الْإِبَاحَةُ

“Hukum asal pada setiap urusan dunia ialah mubah.”

Bila demikian, dapat diketahui bahwa hukum asal bekerja di perhotelan atau yang lain-nya adalah halal. Berdasarkan prinsip ini lebih jauh para ulama menegaskan bahwa orang yang mengharamkan suatu hal dari urusan dunia, maka ia berkewajiban untuk mendatangkan dalil yang menjadi dasar hukum haram tersebut. Bila ia tidak berhasil mendatangkan dalil, maka klaim haram tersebut tidak dapat diterima alias tertolak.

Baca lebih lanjut

Hukum Bayi Tabung

Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf dalam makalahnya di majalah al-Mawaddah Vol.48_1433H/2012M Rubrik Kajian Kita 1 hal.10-11 dan 27 dengan Judul ‘Usaha Mendapatkan Momongan’, ketika membahas Polemik Bayi Tabung, beliau berkata:

Para ulama telah membahas masalah ini [Bayi Tabung] secara detail. Kami nukilkan di sini kesimpulan hasil putusan muktamar ulama fikih (Mujamma’ Fiqh Islami) di Makkah, bulan Jumada Tsaniyyah 1405 H.

“Insemenasi buatan di dalam rahim ada 2 cara, dan di luar rahim ada 4 cara. Keenam cara atau macam tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sperma suami diambil, lalu diinjeksikan pada tempat yang sesuai dalam rahim sang istri, sehingga sperma itu akan bertemu dengan sel telur yang dipancarkan istri dan berproses dengan cara alami, sebagaimana dalam hubungan suami istri. Setelah pembuahan terjadi, dengan izin Allah, dia akan menempel pada rahim sang istri. Cara ini ditempuh, jika sang suami memiliki problem sehingga spermanya tidak bisa sampai pada tempat yang sesuai dalam rahim. Ini merupakan cara yang diperbolehkan syariat, dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan umum membuka aurat di depan yang bukan mahram, terutama dokter laki-laki. Ini dilakukan setelah dipastikan bahwa sang istri terpaksa melakukan proses ini supaya bisa hamil.
  2. Sperma seorang suami dan sel telur istrinya diambil, lalu diletakkan pada sebuah tabung sehingga sperma tadi bisa membuahi sel telur istrinya dalam tabung tersebut. Kemudian pada saat yang tepat, sperma dan sel telur yang sudah berproses itu dipindahkan ke rahim sang istri, pemilik sel telur, supaya bisa berkembang layaknya janin-janin yang lain. Ketika masa mengandung sudah berakhir, sang istri akan melahirkannya sebagai seorang anak biasa, lelaki ataupun wanita. Inilah bayi tabung yang telah dihasilkan oleh penemuan ilmiah yang Allah mudahkan. Proses melahirkan seperti ini telah menghasilkan banyak anak, baik lelaki maupun perempuan atau bahkan ada yang lahir kembar. Berita keberhasilan ini telah tersebar melalui berbagai media massa. Cara ini ditempuh ketika sang istri mengalami masalah pada saluran sel telurnya. Hukum insemenasi cara ini adalah boleh menurut tinjauan syariat, ketika sangat terpaksa, dengan tetap menjaga ketentuan-ketentuan  umum yang di atas sudah terpenuhi.[1]
  3. Baca lebih lanjut