Keluar Darah Diluar Masa Haid

Soal:

Apakah hukumnya darah yang keluar diluar masa haidh, kebiasaan saya setiap bulan adalah tujuh hari masa haidh, akan tetapi terkadang datang di luar masa haidh, namun dalam kadar yang sangat sedikit dan terus berlalu kondisi ini selama satu atau dua hari. Apakah saya wajib shalat dan puasa di saat itu atau mengqadha?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Darah yang lebih dari kebiasaan ini adalah darah ‘irq yang tidak dihitung sebagai kebiasaan. Maka wanita yang mengetahui kebiasaannya tidak boleh shalat, tidak puasa, tidak menyentuh mushhaf (al-Qur’an), dan tidak disentuh suaminya di farj (kemaluan). Maka apabila ia sudah bersih dan berakhir masa kebiasaannya serta telah mandi maka ia dalam hukum wanita suci, sekalipun ia melihat sedikit dari darah atau kuning atau warna keruh, maka itu adalah istihadhah yang tidak menghalanginya dari shalat dan semisalnya.


Sumber: Kumpulan Fatwa Untuk Wanita di Bulan Ramadhan via IslamHouse.Com dengan penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.

Download:

Download Word

Menunda Mandi Junub atau Haidh

Soal:

Bolehkah menunda mandi junub hingga terbit fajar, dan bolehkan wanita menunda mandi haidh atau nifas hingga terbit fajar?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Apabila wanita sudah bersih/suci sebelum fajar maka ia harus puasa dan tidak mengapa menunda mandi setelah terbit fajar, akan tetapi ia tidak boleh menundanya hingga terbit matahari. Dan laki-laki wajib bersegera mandi sehingga ia bisa mendapatkan shalat fajar berjamaah.


Sumber: Kumpulan Fatwa Untuk Wanita di Bulan Ramadhan via IslamHouse.Com dengan penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.

Download:

Download Word

Hukum Membaca Buku Agama Saat Junub dan Haid

Soal:

Bolehkah saya membaca buku-buku agama seperti kitab-kitab tafsir dan yang lainnya, sedang saya dalam kondisi junub dan di saat haidh?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Orang yang junub dan wanita haidh boleh membaca kitab-kitab tafsir, fiqih, adab agama, hadits, tauhid, dan semisalnya. Sesungguhnya ia dilarang membaca al-Qur`an menurut cara membaca, bukan membaca doa atau mengambil dalil dan semisalnya.


Sumber: Kumpulan Fatwa Untuk Wanita di Bulan Ramadhan via IslamHouse.Com dengan penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.

Download:

Download Word

Yang Berhak Memasukkan Jenazah Ke Liang Lahat

Soal:

Saya pernah mendengar ada ustadz mengatakan bahwa seorang yang telah berkumpul dengan istrinya di malam harinya dilarang masuk ke liang kubur untuk menurunkan jenazah dan menguburkannya, apakah ini ada dasarnya?

Jawab:

Ada beberapa riwayat yang shohih dalam hal ini, sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ شَهِدْنَا بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُدْفَنُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَـمْ يُقَارِفْ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَنَا قَالَ فَانْزِلْ فِي قَبْرِهَا فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا

Dari Anas رضي الله عنه berkata: “Kami mengantarkan jenazah putri Rosululloh صلي الله عليه وسلم ketika dikuburkan, saat itu Rosululloh duduk di pekuburan, aku melihat matanya mengeluarkan air mata, lalu dia صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Apakah ada di antara kalian yang tidak berkumpul dengan istrinya malam ini?” Lalu Abu Tholhah berkata: ‘Saya! Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Turunlah ke kuburnya.’ lalu dia turun, dan menguburkannya” (HR Bukhori 3/122, 162)

Dalam hadits yang lain Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْقَبْرَ رَجُلٌ قَارَفَ اللَّيْلَةَ أَهْلَهُ

Seseorang yang mengumpuli istrinya di malam ini tidak boleh masuk ke liang kubur. (HR. Ahmad 3/229-270, Thohawi 3/202), dishohihkan al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hal 188-189). []


Disalin dari:
Majalah Al-Furqon No.75 Ed.5 Th.7 1428 H/ 2007 M, Rubrik Soal-Jawab asuhan Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM خفظه الله, hal.7

Download:
Yang Berhak Memasukkan Jenazah Keliang: PDF atau DOC

Fatwa terkait:
Aktivitas Ketika Junub

eBook dan tulisan terkait:

  1. Ringkasan Cara Pelaksanaan Jenazah
  2. Doa Ketika Memasukkan Jenazah Ke Liang Kubur

Aktivitas Ketika Junub

Soal:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh.

Bolehkah makan saat kita sedang junub atau apa yang tidak boleh kita lakukan saat kita sedang junub sedang kita belum mandi wajib. (08527406xxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh.

Seorang yang dalam keadaan junub disyaria’atkan untuk mandi janabah, karena dia harus melakukan ibadah wajib (seperti sholat) yang disyaratkan di dalamnya suci dari hadats kecil dan besar. Apabila seseorang yang sedang junub belum mandi, maka tidak ada perkara yang dilarang kecuali apa yang dilarang oleh Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya, di antara larangan itu adalah:

1. Sholat, sebagaimana sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلم:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُورٍ

“Sholat tidak akan diterima tanpa bersuci.” (HR. Muslim 1/204)

2. Menyentuh mushhaf al-Qur’an, sebagaimana sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلم:

لاَيَـمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR. Daruquthni 1/122, Baihaqi 1/88, Thobroni 9/33, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa’al-Gholil 122)

3.  Membaca al-Qur’an, sebagaimana dalam hadits:

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُقْرِئُنَا اَلْقُرْآنَ مَا لَـمْ يَكُنْ جُنُبًا

Dari Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata: “Adalah Rosululloh صلي الله عليه وسلم membacakan kepada kami al-Qur’an kecuali ketika junub. (HR. Abu Dawud 229, Nasa’i 1/144, Tirmidzi 146, Ibnu Majah 594, Ibnu Hibban 799, Ahmad 1/83)[1]

4.  Tinggal di masjid, adapun sekedar lewat karena suatu kebutuhan maka boleh, sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

“….jangan masuk masjid sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. an-Nisa[4]: 43)

Adapun perbuatan lain selama tidak ada dalil larangannya maka boleh dilakukan walaupun sedang junub seperti makan, minum, berdzikir (selain membaca al-Qur’an) dan lainnya, Allohu a’lam.[][2]


[1] Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi, Ibnu Hajar, dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban, juga dihasankan oleh Syaikh Bin Baz رحمه الله (dalam Hasyiyahnya terhadap Bulughul Marom hlm. 124), Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله (dalam Syarh Bulughul Marom hadits no. 101), Akan tetapi hadits ini di dho’ifkan oleh al-Albani رحمه الله dalam Irwa al-Gholil 2/241. Pada sanad hadits ini ada perowi bernama Abdulloh bin Salamah diperselisihkan oleh para ulama tentang kelemahan hafalannya, dan pendapat yang kuat adalah yang mengatakan hadits ini Hasan karena dikuatkan oleh hadits lain yang semakna, Allohu A’lam (Lihat keterangan penguat hadits ini dalam Taudhihul Ahkam dalam Syarh hadits no. 101)
[2]
Masalah nomor 2 dan 4 termasuk masalah yang diperselisihkan ulama, dan insya Alloh yang kami paparkan di atas adalah yang rojih dan yang lebih berhati-hati.

Sumber:
Majalah Al-Furqon, No.80 Ed.10 Th. Ke-7 Jumada ula 1429/2008, Rubrik Soal-Jawab hal.4-5

Bolehkah Mandi Junub Merangkap Jum'at

Soal:

Apakah dibolehkan melaksanakan mandi  junub sekaligus merangkap mandi untuk shalat Jum’at, mandi setelah habis masa haidh dan masa nifas?

Jawaban:

Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’ menjawab:

Barang siapa yang diwajibkan baginya untuk melaksanakan satu mandi wajib atau lebih, maka cukup baginya melaksanakan satu kali mandi wajib yang merangkap mandi-mandi wajib lainnya, dengan syarat  dalam mandi itu ia meniatkan untuk menghapuskan kewajiban-kewajiban mandi lainnya, dan juga berniat untuk dibolehkannya shalat dan lainnya seperti Thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Setiap perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan bagian sesuai dengan yang diniatkannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Karena yang hendak dicapai dari mandi hari Jum’at bisa sekaligus tercapai dengan mandi junub jika bertetapan harinya.[1]


[1] Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 5/328

Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita.
Sumber: islamhouse.com yang menyalinnya dari www.muslim.or.id