Hukum Kotoran Cicak

Soal:

Bagaimana hukum kotoran cicak, termasuk najis ataukah tidak? Karena di surau/masjid kami biasa shalat berjama’ah selalu banyak kotoran cicak. Mohon penjelasannya. Barakallahu fikum.

08132274xxxx

Jawab:

Kotoran cicak atau hewan serupa yang tidak halal untuk dimakan dagingnya adalah najis. Namun karena sangat merepotkan untuk dihindari, maka banyak ulama menyatakan bahwa kenajisan tersebut dimaafkan, sehingga bila memang menyusahkan maka tidak wajib dibersihkan dan tidak pula merusak keabsahan shalat kita. Demikian dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu’, 2/550.

Wallahu a’lam bish-Shawab.[]

Disalin dari Majalah As-Sunnah Th.ke-XVII_1434H/ 2013M, Rubrik Soal-Jawab hal. 6, asuhan Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله.

Hukum Kotoran Sebelum dan Sesudah Haid

Soal:

Apa hukum kotoran yang keluar dari wanita sebelum haid sehari, atau lebih atau kurang. Bentukkotoran itu seperti benang tipis hitam atau coklat atau semisalnya? Dan apa hukumnya, kalau terjadi setelah haid?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Kotoran ini jika merupakan pengantar haid maka termasuk haid, ditandai dengan rasa badan tak sehat dan sakit perut yang biasanya dialami wanita haid. Adapun kotoran setelah haid, maka hendaklah dia menunggu hingga hilang, karena kotoran yang bersambung dengan haid adalah haid, berdasarkan perkataan Aisyah رضي الله عنها:

لَا تَعْجَلِنَّ حّتَّى تّرَيْنَ القِصَّةَ البَيْضَاءَ

“Jangan tergesa-gesa sebelum kamu melihat lendir putih “.

Wallahu a ‘lam.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 32 pertanyaan ke-38.

Hukum Menjual Kotoran Ayam

Soal:

“Ana mau tanya, bagaimana hukum jual beli kotoran ayam, kambing, sapi, atau yang semisalnya untuk dijadikan sebagai pupuk organik, apa diperbolehkan?

Bagaimana jika kotoran tersebut telah diolah, dicampur-campur dengan bahan kimia, sehingga menjadi pupuk baru, apakah boleh dijual?

Syukron, jazaakallaahu khoir

Jawab:

Ustadz Firanda menjawab:

Para Ulama –semoga Allah merahmati mereka– telah bersepakat bahwasanya hewan yang haram untuk dimakan maka kotorannya adalah najis. Namun mereka berselisih tentang najis tidaknya kotoran dari hewan yang boleh dimakan seperti onta, kambing, sapi, ayam dan yang lainnya.

Menurut madzhab yang masyhur dari madzhab As-Syafi’iyyah dan madzhab Al-Hanafiyah maka seluruh kotoran hewan adalah najis baik hewan yang haram untuk dimakan maupun hewan yang halal dimakan. Oleh karenanya mereka mengharamkan pula penjualan kotoran hewan karena hal itu merupakan penjualan benda najis, dan penjualan benda najis hukumnya haram. Imam Al-Mawardi berkata:

وَالْأَبْوَالِ ، فَلَا يَجُوزُ بَيْعُ شَيْءٍ مِنْهَا

“Adapun apa yang merupakan najis ‘aini (najis secara dzatnya) seperti khomr, bangkai, darah, dan kotoran-kotoran, serta kencing maka tidak boleh menjual sesuatupun dari hal-hal ini” (Al-Haawi Al-Kabiir 5/383)

Adapun madzhab Malikiyyah dan Al-Hananbilah juga sebagian pengikut madzhab As-Syafi’iyyah (sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Majmuu’ 2/549 dan Roudhotut Toolibiin 1/125) maka mereka membedakan antara hewan yang halal dan hewan yang haram dimakan. Mereka berpendapat akan thohirnya (tidak najisnya) kotoran hewan yang halal dimakan, adapun hewan yang haram dimakan maka kotorannya adalah najis.

Dalil Madzhab Hanafi dan Madzhab As-Syafi’i

Dalil madzhab Hanafi

Madzhab Hanafi  berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dimana beliau radhiallahu ‘anhu pernah berkata:

أتى النبي صلى الله عليه وسلم الْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَالْتَمَسْتُ الثَّالِثَ فلم أَجِدْهُ فَأَخَذْتُ رَوْثَةً فَأَتَيْتُهُ بها فَأَخَذَ الْحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ وقال هذا رِكْسٌ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air besar, maka beliau memerintahku untuk mendatangkan bagi beliau tiga buah batu. Akupun mendapatkan dua buah batu dan aku mencari batu yang ketiga, namun aku tidak mendapatkannya. Maka akupun mengambil kotoran lalu aku berikan kepada Nabi. Maka Nabipun mengambil kedua batu tersebut dan melempar kotoran tadi dan berkata, “Ini najis” (HR.Al-Bukhari no 155)

Baca lebih lanjut