Mahram

Soal:

Ustadz, keponakan bapak si akhwat, yaitu sepupu laki-laki, apakah ia termasuk mahram bagi akhwat tersebut? Syukran.

0813985xxxx

Jawab:

Permasalahan mahram, telah dijelaskan oleh Allah عزّوجلّ; di dalam al-Qur’an, surat an-Nisa’/4 ayat 22-24 (yang artinya):

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah di kawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Baca lebih lanjut

Wanita Haji yang Haid, Sedangkan Mahramnya akan Pulang?

Soal:

Ada wanita yang datang mengerjakan umrah. Setelah tiba di Makkah dia mendapatkan haid padahal mahramnya harus segera berangkat dan tidak ada seorangpun yang dapat menemaninya di Makkah. Apa hukumnya?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Wanita itu berangkat bersama mahramnya dan tetap berada dalam keadaan ihram, kemudian kembali lagi nanti bila telah suci. Ini jika berada di Saudi Arabia, karena bisa dengan mudah untuk kembali dan tidak merepotkan, juga tidak perlu adanya paspor maupun hal-hal lainnya. Akan tetapi, jika berasal dari luar Saudi Arabia dan susah untuk kembali lagi, maka hendaklah dia menahan/membalut darahnya lalu mengerjakan thawaf, sa’i dan tahallul serta menyelesaikan umrahnya ini pada hari keberangkatannya, karena thawafnya ketika itu menjadi darurat, sedangkan sesuatu yang darurat membolehkan apa yang terlarang.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 34-35 pertanyaan ke-41.

Bersentuhan Kulit Membatalkan Wudhu'?

Soal:

Apakah bersentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram membatalkan wudhu’ atau tidak? Manakah yang lebih rajih di antara keduanya? Dan apakah hadits yang mengatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم mencium istrinya kemudian shalat tanpa berwudhu lagi, itu umum berlaku untuk kaum Muslimin juga? Jazakallah khairan.

‘Abdullah, Tangerang, 856912xxxx


Jawab:

Tentang laki-laki menyentuh perempuan apakah membatalkan wudhu’ atau tidak, terdapat 3 pendapat Ulama tentang hal ini:[1]

  1. Membatalkan wudhu’. Ini merupakan pendapat Imam Syafi’i dan Ibnu Hazm. Juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه  dan Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما.
  2. Membatalkan wudhu’ jika dengan syahwat. Ini merupakan pendapat Imam Malik رحمه الله dan Imam Ahmad رحمه الله dalam riwayat yang masyhur darinya.
  3. Tidak membatalkan wudhu’. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah رحمه الله dan muridnya, yaitu Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Juga pendapat Ibnu Abbas, Thawus, Hasan Bashri, ‘Atha’, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Baca lebih lanjut