Shalat Jum’at Musafir

Soal:

Apakah orang yang musafir dibolehkan tidak melakukan shalat Jum’at?

Abdullah

Jawab:

Telah dimaklumi, shalat Jum’at hukumnya wajib atas setiap muslim kecuali wanita, hamba sahaya, anak kecil, orang sakit dan musafir. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau berkata: “Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali empat; hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit”.[1]

Baca lebih lanjut

Shalatnya Orang yang Bekerja Diluar Kota

Soal:

Assalamu’alaikum. Saya adalah seorang pegawai yang bekerja di luar kota. Jarak antara rumah saya dengan tempat kerja sekitar 70-80 km, kurang lebih 2 jam perjalanan sepeda motor. Saya bekerja selama 4 hari yaitu Senin sampai dengan Kamis, dan selama 4 hari tersebut saya mukim di tempat kerja. Pertanyaannya:

  1. Apakah saya tetap wajib menjalankan shalat berjama’ah di masjid?
  2. Sejauh mana saya boleh mengqashar shalat saya?

Wassalamu’alaikum. (Abu Ayun)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

  1. Antum tetap disyari’atkan menjalankan shalat berjama’ah di masjid baik ketika mukim maupun bepergian, karena keumuman dalil perintah shalat berjama’ah. Nabi صلى الله عليه وسلم dahulu bepergian untuk berperang dan lain-lain, sedang beliau tetap melaksanakan shalat berjama’ah bersama sahabatnya.
  2. Seseorang disunnahkan mengqashar shalat ketika safar. Adapun jarak safar maka dikembalikan ke-urf (kebiasaan) masyarakat. Jika jarak tersebut dianggap safar maka boleh qashar, namun jika tidak maka tetap menyempurnakan shalat. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Majalah al-Furqon No.130, Ed.03, Th. Ke-13_1434/2013, Rubrik Soal-Jawab hal.4, Asuhan Ustadz Abdullah Roy, Lc. MA حفظه الله

Download:
Download Word

Musafir atau Bukan?

Soal:

Kami bekerja di Saudi, tetapi sekarang tidak berniat untuk menetap. Insya Allah setelah semua tujuan tercapai, seperti haji dan beberapa hal lain, kami akan pulang. Apakah kami bisa dihukumi sebagai orang yang safar, sehingga istri dapat mengqashar shalat, dan saya pun mengqasharnya jika tertinggal shalat jamaah? Mohon ustadz memberikan jawaban atas masalah kami lewat email ini. Jazakumullahu khairan.

Abu Salman al-Kendaly, Riyadh, KSA
alkendaly@yahoo.co.id

Jawab:

Banyak pertanyaan seperti ini. Permasalahannya kembali kepada ketentuan dan batasan safar, serta kapan seseorang dianggap telah bermukim dan menjadikan tempat tinggainya tersebut sebagai negerinya.

Para ulama berselisih tentang batasan jarak safar. Dan yang rajih, yaitu kembali kepada anggapan dan kebiasaan umumnya, tanpa batasan waktu tertentu.

Baca lebih lanjut

Musafir: Utama Berbuka atau Puasa

Soal:

Seorang laki-laki terbiasa puasa hari Senin dan Kamis serta hari-hari lainnya yang disunnahkan puasa, apakah yang lebih utama baginya saat safar: apakah yang utama baginya puasa atau berbuka?

Jawab:

Syaikh Abdullah bin Jibrin رحمه الله menjawab:

Diriwayatkan pada hadits Hamzah bin Amar رضي الله عنه bahwa ia selalu puasa dan banyak melakukan safar. Ia bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : Apakah ia puasa dalam perjalanan ? Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya:

إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

“Jika engkau menghendaki maka engkau puasa dan jika engkau menghendaki maka engkau berbuka.”[1]

Seperti inilah Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan pilihan kepadanya. Hadits ini menunjukkan bahwa apabila musafir mampu puasa dan tidak ada kesulitan atasnya, ia boleh puasa, baik puasa wajib atau puasa sunnah. Karena sesungguhnya berbuka dalam safar penyebabnya adalah karena memberatkan dan begitulah biasanya dalam perjalanan. Firman Allah سبحانه و تعالى:

وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

…dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah[2]: 185) Baca lebih lanjut