Wanita Perdarahan dan Sholat

Soal:

Ada orang bertanya: “Saya mempunyai ibu berusia 65 tahun dan selama 19 tahun ini bellau sudah tidak mendapatkan anak. Beliau mengalami pendarahan selama 3 tahun, dan tampaknya hal itu adalah penyakit. Karena dia akan menghadapi puasa, maka mohon dengan hormat apa nasehat yang perlu Syaikh sampaikan untuknya? Dan apa yang mesti ia lakukan?”

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Wanita seperti ini, yang mendeiita pendarahan, hukumnya yaitu meninggalkan shalat dan puasa selama seperti masa kebiasaan terdahulu sebelum terjadi hal yang menimpa dirinya tersebut. Jika menurut kebiasaannya haid datang pada awal setiap bulan selama enam hari, umpamanya, maka hendaklah dia menunggu pada awal setiap bulan selama enam hari tidak shalat dan tidak pula puasa. Bila habis masa itu, ia harus mandi, shalat dan berpuasa.

Baca lebih lanjut

Wajib Sholat Bila Suci Sebelum Habis Waktu

Soal:

Seorang wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat, apakah wajib baglnya mengqadha’ shalat itu jika telah suci, demikian pula jika telah suci sebelum habis waktu shalat?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama: Jika wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat wajib baginya, jika telah suci, mengqadha’ shalat yang pada waktunya dia haid bila dia belum mengerjakannya sebelum datangnya haid. Berdasarkan sabda Rasulullah:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصّلاَةَ

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu “.

Jadi, seandainya seorang wanita bisa mengerjakan sekadar satu rakaat dari waktu shalat kemudian dia kedatangan haid sebelum mengerjakannya, maka jika dia suci nanti, wajib mengqadha ‘nya.

Baca lebih lanjut

Haid Setelah Ihram Umroh ?!

Soal:

Seorang pria bertanya: Saya bersama Isteri berangkat dari Yanbu’ untuk menunaikan umrah. Ketika kami tiba di Jeddah isteri mengalami haid. Maka saya menyempurnakan umrah sendirian tanpa isteri. Apa hukumnya bagi isteri saya?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Hukumnya bagi isteri Anda, supaya menunggu sampai suci kemudian melaksanakan umrah. Karena Nabi Shallallahu alaihi wasallam tatkala Sofiah radhiyallahu anha sedang haid bdiau bersabda “Apakah dia penghambat kita?”. Ketika disampaikan kepada beliau bahwa dia telah melakukan thawaf ifadhah, beliaupun beraabda: “Kalau demikian, hendaklah ia berangkat”.

Sabda beliau: “Apakah dia penghambat kita?” menunjukkan bahwa wajib bagi wanita untuk menunggu jika  mendapati haid sebelum thawaf ifadhah sehingga suci, kemudian thawaf. Demikian halnya thawaf umrah seperti thawaf ifadhah, karena merupakan salah satu rukun umrah. Jika wanita yang menunaikan mendapati haid sebelum thawaf maka dia menunggu sampai suci kemudian thawaf.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 40-41 pertanyaan ke-47.

Suci dari Nifas dan Ibadah Haji

Soal:

Jika wanita nifas telah suci sebelum 40 hari, apakah sah hajinya? Dan jika belum suci, apa yang dia perbuat padahal dia berniat menunaikan ibadah haji?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Apabila telah suci sebelum 40 hari, maka mandi kemudian shalat dan mengerjakan segala apa yang dikerjakan oleh wanita suci lainnya termasuk thawaf karena tidak ada batas minimal buat nifas.

Namun, apabila belum suci maka sah pula hajinya, tetapi tidak boleh thawaf di Masjidil Haram sebelum suci. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang wanita haid melakukan thawaf dan hukum nifas seperti haid dalam masalah ini.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 43-44 pertanyaan ke-52.

Wanita Haid: Membaca Qur’an dalam Hati?

Soal:

Bagaimana seorang wanita yang haid mengerjakan shalat dua rakaat ihram? Dan bolehkah wanita haid membaca ayat Al Qur’an dalam hati?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama: Seyogyanya kita ketahui bahwa tidak ada shalat untuk ihram, tidak diriwayatkan dari Nabi shallalahu alaihi wasallam bahwa beliau mensyari’atkan kepada umatnya shalat untuk ihram baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun persetujuan.

Baca lebih lanjut

Darah Sudah Berhenti, Lendir Putih Belum Ada

Soal:

Padahari terakhir dari masa haid dan sebelum suci, si wanita tidak menjumpai bekas darah. Apakah dia berpuasa pada hari itu, pada hal dia belum mendapati lendir putih, atau apa yang dia lakukan?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Jika kebiasaannya tidak mendapati lendir putih sebagaimana yang terjadi pada sebagian wanita maka dia berpuasa. Tetapi jika kebiasaannya mendapati lendir putih maka tidak berpuasa sampai menjumpai lendir putih.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 16 pertanyaan ke-13..

Masa Haid: Kadang Keluar Darah, Kadang Tidak

Soal:

Jika seorang wanita pada saat kebiasannya (datang bulan) sehari mendapati darah dan sepanjang siang hari selanjutnya tidak mendapati darah, apa yang harus dia perbuat?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Tampaknya, keadaan bersih atau kering yang dialami oleh siwanita pada masa haidnya termasuk haid,karena itu tidak dianggap sebagai keadaan suci (dari haid).Untuk itu, tetap terlarang baginya apa yang terlarang bagi wanita haid.

Sebagian ulama mengatakan: ”Wanita yang mendapati sehari darah dan sehari bersih, maka darahnya adalah haid dan bersihnya adalah thuhr (suci dari haid), sehingga mencapai lima belas hari. Apabila telah mencapai limabelas hari, maka darah sesudahnya adalah istihadhah.” Ini pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 16 pertanyaan ke-12.

Suci Sebelum Asar, Apakah Wajib Sholat Zhuhur

Soal:

Jlka wanita haid atau nifas telah suci sebelum waktu Asar, apakah dia harus melakukan shalat Zhuhur bersama shalat Asar, atau hanya shalat Asar saja?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pendapat yang kuat dalam masalah ini yaitu tidak wajib baginya kecuali shalat Asar saja. Karena tidak ada dalil yang mewajibkan shalat Zhuhur, dan pada dasarnya seseorang itu dibebaskan dari tanggungan.

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم pemah bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Asar sebelum matahari terbenam, maka dia telahmendapatkan shalat Asar itu “.

Nabi tidak menyebutkan bahwa dia telah mendapatkan shalat Zhuhur.Kalaupun shalat Zhuhur itu wajib, Nabi pasti akan menjelaskannya. Wanitapun kalau haid setelah masuk waktu Zhuhur tidak wajib kecuali mengqadha’ shalat Zhuhur tanpa shalat Asar, padahal shalat Zhuhur dijama’ dengan shalat Asar, tidak ada perbedaan antara hal ini dengan bentuk yang dipertanyakan. Dengan demikian, pendapat yang kuat yaitu tidak wajib baginya kecuali shalat Asar saja, berdasarkan nash dan qiyas (analogi). Begitupula seandainya dia suci sebelum habis waktu Isya’, maka yang wajib baginya hanya shalat Isya’ saja sedangkan shalat Maghrib tidak wajib.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 13-14 pertanyaan ke-9.

Suci Sebelum 40 Hari Wajibkah Sholat dan Puasa?

Soal:

Bagi wanita nifas, bila telah suci sebelum empat puluh hari, apakah wajib baginya berpuasa dan shalat?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya, bilamana wanita nifas telah suci sebelum empat puluh hari maka wajib baginya berpuasa bila pada bulan Ramadhan, dan wajib shalat, serta boleh bagi suami untuk menggaulinya karena dia dalam keadaan suci, tidak ada lagi sesuatu yang mencegah dari kewajiban berpuasa maupun kewajiban shalat dan boleh digauli.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 10 pertanyaan ke-2.

Keluar Warna Kuning di Masa Nifas

Soal:

Apakah hukumnya keluar warna kuning saat nifas dan semasa empat puluh hari, apakah saya shalat dan puasa?

Jawab:

Syaikh bin Baz رحمه الله menjawab:

Yang keluar dari wanita setelah melahirkan hukumnya seperti hukum nifas, sama saja ia adalah darah biasa atau berwarna kuning atau keruh, karena ia keluar di waktu yang biasa hingga sempurna empat puluh hari. Maka yang sesudahnya, jika ia berupa darah biasa dan tidak terputus maka ia adalah darah nifas dan jika tidak maka ia adalah darah istihadhah atau semisalnya.


Sumber: Kumpulan Fatwa Untuk Wanita di Bulan Ramadhan via IslamHouse.Com dengan penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali.

Download:

Download Word