Perwakilan Wali

Soal:

Dapatkah wali nikah diwakilkan walau tidak ada halangan, atau ada halangan karena wali nikah tuli? Mohon Redaksi untuk membahasnya, disertai dalil-dalilnya.

Endan, Plered, Purwakarta

Jawab:

Izin wali dalam pernikahan merupakan syarat sah suatu akad nikah. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui perwalian dan derajatnya dalam pernikahan. Sehingga, bila wali wanita tidak ada, maka diganti wali berikutnya.

Pendapat yang rajih dalam permasalahan ini, ialah pendapat madzhab Syafi’iyyah yang menyatakan bahwa urutan wali bagi wanita dalam pernikahan sebagai berikut.

  1. Baca lebih lanjut

Menunda Menikah Demi Kuliah

Soal:

Apa hukum menunda pernikahan dengan alasan kuliah, padahal dia sudah siap nikah -insya Alloh-. Aisyah-Solo

Jawab:

Pertanyaan semisal pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله, dan inilah jawabannya,[1] beliau رحمه الله mengatakan:

“Menunda pernikahan sebab menyelesaikan studi hukumnya adalah menyelisihi perintah Nabi صلى الله عليه وسلم, karena Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda:

إِذَا أَتَاكُمْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ

Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.

Baca lebih lanjut

Cerai atau Bukan?

Soal:

Memberi peringatan istri dengan kata-kata “Kita pisah dulu saja”, apakah sudah termasuk cerai?

081336933xxx

Jawab:

Perlu diketahui bahwa tentang lafazh talak (cerai), para Ulama membagi menjadi dua:

1. Lafazh sharih (nyata; tegas) yaitu: lafazh yang ketika diucapkan dipahami sebaga talak dan tidak ada makna lain Contoh: “Engkau saya talak” “Engkau ditalak (dicerai)” dan semacamnya yang menggunakan kata “talak”. Jika seorang suami mengucapkan lafazh sharih talak ini, maka talak pun terjadi, baik dia bersendau-gurau, main-main, atau tidak berniat. Dalilnya adalah hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tiga (perkara), bersungguh-sungguh pada tiga (perkara itu) berarti sungguh-sungguh, dan main-main pada tiga (perkara itu) berarti sungguh-sungguh, yaitu nikah, talak, dan rujuk.[1]

Baca lebih lanjut

Hukum Membaca Al-Fatihah Saat Akad Nikah

Soal:

Masyarakat kami memiliki kebiasaan membaca surat Al Fatihah pada saat akad nikah. Sampai-sampai sebagian orang menamai akad nikah dengan pembacaan Al Fatihah. “Aku membacakan surat Al Fatihahku kepada si Fulanah” berarti akad nikah. Apakah ini disyariatkan?

Jawab:

Syaikh ibn Utsaimin رحمه الله menjawab:

Hal ini tidak disyariatkan bahkan merupakan perbuatan bid’ah, Surat Al Fatihah atau berbagai surat yang lainnya tidak boleh dibaca kecuali pada tempat-tempat yang telah ditetapkan oleh syariat. Jika dibaca di selain tempat- tempat tersebut dengan maksud beribadah, maka hal tersebut dinilai sebagai perbuatan bid’ah.

Kami melihat banyak orang membaca Al Fatihah pada setiap kesempatan. Sampai-sampai saya mendengar ada orang yang berkata, “Bacalah Al Fatihah untuk mayit, untuk ini, untuk itu!”

Ini semua merupakan perkara bid’ah yang mungkar. Al Fatihah dan berbagai surat lainnya tidak boleh dibaca dalam segala keadaan, segala tempat dan waktu kecuali jika hal tersebut disyariatkan berdasarkan dalil AI Kitab dan Sunnah Rasul-Nya. Jika tidak, maka hal tersebut adalah bid’ah dan pelakunya harus diingkari. (Fatawa Nur ‘Ala Ad Darbi Ibnu ‘Utsaimin 1/309)


Disalin dari: Fatawa Liz Zaujain Kepada Pasangan Suami Istri, terbitan Media Hidayah Jogjakarta, hal. 25-26.

Download:
Membaca Al-Fatihah Saat Akad Nikah:
Download Word

Suara Riuh Wanita di Pesta

Soal:

Bagaimakah hukum zaghrathah, yaitu suara riuh rendah kaum wanita pada acara pesta pernikahan untuk mengekpresikan rasa gembira. ketika mempelai putra dipertemukan dengan dengan mempelai putri?

Jawab:

Syaikh al-Fauzan خفظه الله menjawab:

Seorang wanita tidak boleh bersuara keras ketika dia berada di dekat kaum laki-laki, karena suara wanita adalah fitnah, baik berupa zaghrathah ataupun yang lainnya. Di samping itu zaghrathah adalah sebuah perkara yang bukan merupakan tata krama kebanyakan umat lslam, baik dahulu ataupun sekarang. Zaghrathah merupakan sebuah kebiasaan buruk yang seharusnya ditinggalkan, karena menunjukkan kurang memiliki rasa malu. (Al-Muntaqaa Min Fatawa Al-Fauzan 3/301)


Disalin dari: Fatawa Liz Zaujain Kepada Pasangan Suami Istri, terbitan Media Hidayah Jogjakarta, hal. 19-20

Download:
Suara Riuh Wanita di Pesta:

Download Word

Ziaroh Ba’da Walimah

Soal:

Ada seorang ikhwan menikah. Setelah menikah, di pagi harinya melakukan ziaroh/berkunjung ke kerabat dan tetangga, kemudian ada ikhwan lain mengatakan hal itu tidak disunnahkan, dan ada ikhwan lain yang mengatakan bahwa itu Sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم, saya bingung mana yang benar, tolong dijelaskan.

Jawab:

Imam al-Albani رحمه الله berkata: “Disunnahkan bagi pengantin setelah menikah, di pagi harinya untuk mengunjungi kerabatnya yang telah mendatanginya di rumahnya, (disunnahkan bagi pengantin) mengucapkan salam kepada mereka, dan mendo’akan mereka, dan membalas apa yang mereka lakukan, sebagaimana hadits Anas bin Malik رضي الله عنه beliau berkata:

أَوْلَـمَ رَسُولُ اللهِ إِذَ بَنَى بِزَيْنَبَ، فَأَشْبَعَ الْمُسْلِمِيْنَ خُبْزًا وَلَـحْمًا، ثُـمَّ خَرَجَ إِلَى أُمَّهَاتِ الْـمُؤْمِنِيْنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِنَّ، وَدَعَا لَـهـُنَّ، وَسَلَّمْنَّ عَلَيْهِ وَدَعَوْنَ لَهُ، فَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ صَبِيْحَةَ بِنَائِهِ

Rosululloh صلي الله عليه وسلم  mengadakan walimah nikah ketika menikahi Zainab رضي الله عنها, beliau صلي الله عليه وسلم memberi kaum muslimin makan roti dan daging sampai kenyang, kemudian beliau صلي الله عليه وسلم keluar mengunjungi istri-istrinya, beliau صلي الله عليه وسلم mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka pun mengucapkan salam kepadanya, beliau mendo’akan mereka, mereka pun mendo’akannya, itu dilakukan (Rosululloh صلي الله عليه وسلم) pagi hari setelah pernikahannya. (HR. Imam Nasai 66/2, dishohihkan oleh al-Albani رحمه الله dalam Adab az-Zifaf hlm. 66).[]


Disalin dari:
Majalah Al-Furqon No.75 Ed.5 Th.7 1428 H/ 2007 M, Rubrik Soal-Jawab asuhan Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM خفظه الله, hal.7

Download:
Ziaroh Ba’da Walimah: PDF atau DOC

eBook dan tulisan terkait:

  1. Bekal Pernikahan
  2. Seks dalam Islam

Hukum Menikah Dengan Kerabat

Soal:

Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa menikah dengan sepupu atau kerabat akan menyebabkan lahirnya anak-anak yang cacat. Pendapat ini mencemaskan banyak gadis sehingga menyebabkan mereka menolak untuk menikah dengan kerabat yang menyebabkan timbulnya permasalahan antar kerabat tersebut. Apakah pendapat di atas benar? Bagaimana pandangan Islam tentang hal ini?

Jawab:

Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab:[1]

Itu ini tidak benar, menikah dengan sepupu atau orang yang masih kerabat tidaklah menyebabkan lahirnya keturunan yang cacat, memiliki kemampuan akal yang rendah atau mengalami berbagai penyakit yang lain. Ini merupakan pendapat yang berbahaya dan isu yang tidak benar.

Memang terdapat sebagian ulama yang menganjurkan untuk menikah dengan wanita yang bukan kerabat. Mereka berpendapat demikian karena anggapan bahwa jika menikah dengan wanita yang bukan kerabat maka kemungkinan untuk memperoleh keturunan itu lebih besar. Namun anggapan ini adalah suatu yang belum dapat dipastikan dan itu hanya merupakan pendapat sebagian ulama.

Namun demikian bukan berarti bahwa keturunan yang diperoleh dari perkawinan antar kerabat akan cacat. Sejauh yang saya ketahui pernyataan seperti ini tidak dilontarkan oleh seorang ulama pun. Di samping itu, ini merupakan pendapat yang tidak berdasar. Berdasarkan fakta bahwa Nabi menikahkan putrinya Fathimah dengan sepupu beliau sendiri, yaitu Ali bin Abi Thalib dan banyak sahabat yang menikah dengan kerabat mereka sendiri.


[1] Al Muntaqa mi Fatawa Al Fauzan 5/256

Sumber:
Fatawa Liz Zaujain
Kepada Pasangan Suami Istri, Terbitan Media Tarbiyah, hal. 17-18