Apa Perbedaan Zakat dengan Pajak?

Soal:

Apa perbedaan zakat dengan pajak?

Jawab:

Perbedaan zakat dengan pajak jelas sekali. pertama : Zakat yang mewajibkan adalah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan pajak yang mewajibkan adalah manusia atau pemerintah setempat. Kemudian Zakat diambil dari harta tertentu, yang disini diperhatikan sisi-sisi keadilan karena agama ini adalah rahmat untuk seluruh manusia, tidak dari semua harta diambil, melainkan ada batasan tertentu dan persentase tertentu yang tidak akan menyebabkan si pemberi zakat menjadi fakir miskin.

Berbeda dengan pajak, karena yang menerapkan adalah manusia dan manusia ilmunya terbatas. Menurutnya sudah adil, tapi pada hakikatnya banyak yang tidak adil dari penetapan pajak tersebut. Sedangkan zakat, Allah yang menerapkan. Allah yang menciptakan makhluk, maka Allah yang lebih tahu kemaslahatan makhluk tersebut.

Baca lebih lanjut

Perbedaan dan Persamaan Antara Imam dan Islam

Bagaimana Mengkompromikan Hadits Tentang Iman Adalah Beriman Kepada Allah & Iman Adalah Bersyahadat

Soal:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya: Bagaimana kita mengkompromikan antara hadits Jibril yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa iman adalah beriman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Akhir dan Taqdir yang baik dan buruk, dengan hadits Wafd Abdul Qais yang di dalamnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iman adalah bersyahadat bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah saja tanpa berbuat syirik kepadaNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menunaikan seperlima bagian harta ghanimah.

Jawab:

Sebelum pertanyaan ini dijawab saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tidak akan pernah ada pertentangan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Al-Qur’an tidak ada yang saling merusak antara ayat satu dengan ayat yang lain, demikian juga di dalam As-Sunnah. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak ada sesuatupun yang tidak sesuai dengan kenyataan. Karena realita adalah benar, dan Al-Qur’an sunnah adalah benar juga, kebenaran tidak mungkin saling bertentangan. Jika kamu faham kaidah ini maka terjawablah segala musykilah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa/4: 82)

Baca lebih lanjut

Menyikapi Perbedaan ‘Iedul Fithri

Soal:

Assalamu’alaikum. Kalau di tempat saya, ‘Iedul fithri besok, sedangkan saya ikut pemerintah yang lebaran besoknya lagi. Bagaimana puasa dan shalat ‘led saya?. 628569369xxxx

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Kalau memang saudara ikut pemerintah, maka saudara tetap berpuasa sebagaimana biasa, walaupun masyarakat sekitar saudara sudah berbuka dan melaksanakan shalat ‘led. Sementara untuk shalat led, saudara ikut kaum Muslimin di tempat terdekat yang shalat lednya mengikuti pemerintah.

الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ اَلنَّاسُ, وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي اَلنَّاسُ

“Hari raya ‘iedul fithri adalah hari yang padanya masyarakat luas berhenti dari puasanya, dan hari raya ‘iedul adhha adalah hari yang padanya masyarakat luas menyembelih kurban.” (HR. at-Tirmizi, no 802)[]


Disalin dari Majalah as-Sunnah, Ed. Khusus No. 03-04 Thn XVI 1433H/2012M, Rubrik Soal-Jawab hal.6 Asuhan Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri خفظه الله.

Download:
Download Word atau Download PDF

Perbedaan Penentuan Hari Raya Dikembalikan Pada Keputusan Pemerintah

Soal:

Bagaimana menurut Islam mengenai perbedaan kaum muslimin dalam berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha? Mengingat jika salah dalam menentukan hal ini, kita akan berpuasa pada hari yang terlarang (yaitu hari ‘ied) atau akan berhari raya pada hari yang sebenarnya wajib untuk berpuasa. Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan mengenai masalah yang krusial ini sehingga bisa jadi hujah (argumen) bagi kami di hadapan Allah. Apabila dalam penentuan hari raya atau puasa ini terdapat perselisihan, ini bisa terjadi ada perbedaan dua sampai tiga hari. Jika agama Islam ini ingin menyelesaikan perselisihan ini, apa jalan keluar yang tepat untuk menyatukan hari raya kaum muslimin?

Jawab:

Al-Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ menjawab:

Para ulama telah sepakat bahwa terbitnya hilal di setiap tempat itu bisa berbeda-beda dan hal ini dapat diketahui dengan pasti secara inderawi dan logika. Akan tetapi, para ulama berselisih pendapat mengenai teranggapnya atau tidak hilal di tempat lain dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan. Dalam masalah ini ada dua pendapat. Pendapat pertama adalah yang menyatakan teranggapnya hilal di tempat lain dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan walaupun berbeda matholi’ (wilayah terbitnya hilal). Pendapat kedua adalah yang menyatakan tidak teranggapnya hilal di tempat lain. Masing-masing dari dua kubu ini memiliki dalil dari Al Kitab, As Sunnah dan Qiyas. Dan terkadang dalil yang digunakan oleh kedua kubu adalah dalil yang sama. Sebagaimana mereka sama-sama berdalil dengan firman Allah:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Begitu juga firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: “Hilal (bulan sabit) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. Al Baqarah [2]: 189)

Mereka juga sama-sama berdalil dengan hadits Nabi صلي الله عليه وسلم:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari)

Perbedaan pendapat menjadi dua kubu semacam ini sebenarnya terjadi karena adanya perbedaan dalam memahami dalil. Kesimpulannya bahwa dalam masalah ini masih ada kelapangan untuk berijtihad. Oleh karena itu, para pakar fikih terus berselisih pendapat dalam masalah ini dari dahulu hingga saat ini.

Tidak mengapa jika penduduk suatu negeri yang tidak melihat hilal pada malam ke-30, mereka mengambil ru’yah negeri yang berbeda matholi’ (beda wilayah terbitnya hilal). Namun, jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat, maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya. Namun, jika penguasa di negeri tersebut bukanlah muslim, hendaklah dia mengambil pendapat majelis ulama di negeri tersebut. Hal ini semua dilakukan dalam rangka menyatukan kaum muslimin dalam berpuasa Ramadhan dan melaksanakan shalat ‘ied.

Semoga Allah memberi kita taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.


Fatawa no. 388, Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua: Abdur Rozaq ‘Afifi
Wakil Ketua: Abdullah bin Ghodyan
Anggota: Abdullah bin Mani’

Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Berpuasa dan Berhari Raya Ikut Siapa?

Perbedaan Kaum Muslimin dan Ahmadiyah

Soal:

Apakah perbedaan antara kaum Muslimin dan para pengikut Ahmadiyyah?

Jawab :

Perbedaan antara keduanya bahwa kaum muslimin adalah mereka yang hanya menyembah Allah Ta’ala dan mengikuti Rasul-Nya Muhammad صلي الله عليه وسلم dan beriman bahwa dia sصلي الله عليه وسلم adalah penutup nabi-nabi yang tidak ada nabi setelahnya, adapun pengikut ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad adalah kafir bukan termasuk golongan muslimin karena mereka mengira bahwa Mirza ghulam Ahmad adalah seorang nabi setelah Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, dan barang siapa berkeyakinan dengan keyakinan ini [1] maka dia adalah kafir menurut kesepakatan seluruh ulama kaum muslimin, berdasarkan firman Allah سبحانه و تعالي:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi” (Q.S. Al-Ahzab: 40).

dan berdasarkan hadits shahih bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Saya adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah-ku” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Daud.)

(Fatwa Lajnah Daimah, ketua Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله, wakil ketua Syaikh Abdur Razzaq Afifi, anggota Syaikh Abdullah bin Ghadyan dan Syaikh Abdullah bin Qa’ud. Jld. II hal. 221)


[1] pendek kata Pengikut ahmadiyyah adalah kelompok yang mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi yang mendapatkan wahyu dan berkeyakinan bahwa tidak shah keislaman seseorang sampai dia beriman kepadanya, dan Mirza adalah kelahiran abad ke 13, sedang Allah telah memberitahukan bahwa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah penutup para nabi, dan kaum muslimin semua telah sepakat tentang masalah ini, oleh karena itu barang siapa yang mengakui bahwa setelah nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم ada nabi lain yang menerima wahyu dari Allah maka dia adalah kafir karena dia telah mendustakan Al-Qur’an, dan mendustakan hadits-hadits shahihah yang datang dari Rasulullah sصلي الله عليه وسلم yang menunjukkan bahwa dia صلي الله عليه وسلم adalah penutup para nabi dan dia (pengikut ahmadiyah) juga telah menyimpang dari kesepakatan seluruh kaum muslimin. (hal. 220 )

Baca pula:
Tiga Landasan Utama Manhaj Salaf
Siapakah Mirza Ghulam Ahmad?
Ahmadiyah, Warisan Penjajah!

Sumber:
Al-Sofwah