Hukum Penggunaan Salep dan Obat Tempel saat Berpuasa

Di dalam kulit terdapat pembuluh-pembuluh darah yang akan menyerap sesuatu yang diletakkan di atas kuli, melalui pembuluh kapiler, penyerapan ini berjalan sangat lambat.

Sebagian obat dapat sampai keseluruh tubuh melalui obat yang ditempelkan diatas kulit. Melalui penempelan obat tersebut, kemudian masuk ke dalam kulit secara pelan-pelan dan terus menerus dalam beberapa jam, hari, bahkan lebih. Hal tersebut bertujuan agar jumlah obat tersebut senantiasa tetap di dalam darah.

Obat yang ditempel sangat bermanfaat untuk memasukkan obat yang diserap tubuh dengan cepat. Karena obat jenis ini apabila digunakan dengan cara lain, haruslah digunakan terus menerus. Oleh karena itu, obat-obat yang mungkin pemberiannya melalui penempelan, hanya obat yang berdosis kecil setiap harinya, seperti nitrogliserin patch untuk penderita angina, nikotin yang di tempelkan untuk membantu berhenti dari merokok, dll.

Baca lebih lanjut

Hukum penggunaan Obat Tetes Hidung saat berpuasa

Para ulama sepakat bahwa orang berpuasa apabila memasukkan cairan obat, atau yang semisalnya selama tidak melampai hidung, tidak membatalkan puasa dan tidak wajib mengganti puasanya. Ini dianalogikan dengan menghirup air ketika berwudu’ saat puasa.

Tetapi ulama berselisih pendapat, apabila obat yang dimasukkan hingga melampai hidung, sehingga masuk ke tenggorokan bahkan ke kerongkongan. Apakah hal itu membatalkan puasa, sehingga wajib mengganti puasanya atau tidak?.

Pendapat pertama : membatalkan puasa

Berdalil dengan hadist Laqith bin Shabrah bahwa ia berkata, Ya Rasulullah beritahukan padaku tentang wudhu’!”. Beliau bersabda “ Berlebih-lebihanlah ketika berwudhu’. Dan berlebih-lebihanlah menghirup air, kecuali engkau sedang berpuasa”.

Mereka mengatakan, bahwa ini menunjukkan bahwa hidung akses menuju lambung. Oleh karena itu menggunakan obat tetes hidung dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca lebih lanjut

Hukum Menggunakan Oksigen ketika Berpuasa

Jumlah manusia yang membutuhkan oksigen tambahan setiap harinya selalu bertambah, seperti : pasien paru-paru, bronchitis kronis, kanker paru-paru, pasien gagal jantung.

Ada tiga jenis oksigen tambahan yang digunakan untuk pengobatan, antara lain oksigen tabung, oksigen cair yang apabila disemprotkan kembali ke wujud aslinya yang berupa gas, dan oksigen dari udara langsung.

Tidak ada permasalahan tentang batalnya puasa menggunakan oksigen dari tabung dan udara bebas, karena keduanya berupa gas. Hanya saja sebagian ulama mempermasalahkan hukum menggunakan oksigen cair. Tetapi sesungguhnya oksigen cair apabila dilepaskan dari tempatnya, akan kembali ke bentuk aslinya yaitu berupa gas.

Baca lebih lanjut

Hukum Menghirup Minyak Wangi Saat Berpuasa

Menghirup minyak wangi tidak membatalkan puasa, karena ia dibutuhkan oleh banyak orang. Seandainya membatalkan puasa, pastilah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya, sebagaimana beliau menjelaskan hukum yang dibutuhkan masyarakat secara umum lainnya. Tidak ada satu hadispun yang disandarkan pada beliau dalam masalah ini, menunjukkan bolehnya menghirup minyak wangi bagi orang puasa.

Asal hukum segala sesuatu adalah boleh. Sebagaimana mencium bau tidak bisa di hindari setiap orang, dan juga tidak masuk ke kerongkongan. Mencium parfum tidak menghilangkan hakikat puasa, karena bukan makan dan minum, menghirupnya bukan berarti memasukkan makanan atau minuman, tetapi ia seperti bernafas, telah dimaklumi bahwa bernafas bukanlah hal yang membatalkan puasa.

Baca lebih lanjut

Keguguran, Apakah Harus Puasa?

Soal:

Ada seorang wanita yang tertimpa peristiwa kecelakaan pada permulaan kehamilannya dan mengalami pendarahan serius sehingga janin yang dikandungnya keguguran. Apakah boleh baginya tidak berpuasa atau harus meneruskan puasa? Jika tidak berpuasa, apakah berdosa?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Kami katakan bahwa wanita yang hamil tidak haid, sebagaimana kata Imam Ahmad rahimahullah: “Kaum wanita dapat mengetahui kehamilan dengan berhentinya haid”. Dan haid, menurut para ilmuwan, diciptakan oleh Allah azza wa jalla mempunyai hikmah sebagai sumber makanan bagi janin dalam perut si ibu. Maka jika terjadi kehamilan, terputuslah haid. Namun, ada pula wanita yang masih mengalami haid menurut kebiasaannya sebagaimana halnya sebelum kehamilan, maka haidnya dihukumi sebagai haid yang sah karena tetap terjadi padanya dan tidak terpengaruh oleh kehamilan. Dengan demikian, haid ini menghalangi segala hal yang dihalangi oleh haid wanita yang tidak hamil dan mengharuskan apa yang diharuskannya serta menggugurkan apa yang digugurkannya. Pada pokoknya, darah yang keluar dan wanita hamil ada dua macam:

Baca lebih lanjut

Mandi Haid Setelah Fajar Apakah Puasa Sah?

Soal:

Seorang wanita yang haid atau nifas bila suci sebelum fajar, tetapi belum mandi kecuali setelah fajar, apakah sah puasanya atau tidak?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya, sah puasa wanita haid yang suci sebelum fajar dan belum mandi kecuali setelah terbit fejar Juga wanita nifas, karena pada saat itu dia termasuk wanita yang beriiak ikut berpuasa, keadaannya serupa dengan orang yang wajib mandi jinabat, tatkala fajar terbit dia masih dalam keadaan junub dan belum mandi, maka puasanya adalah sah. Berdasarkan firman Allah azza wa jalla:

فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benanghitam, yaitu fajar”. (Al Baqarah: 187).

Jika Allah mengizinkan untuk menggaulinya hingga nyata fajar, berarti mandi tidak terjadi kecuali setelah terbit fajar. Dan berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha:

أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ أَهْلِهِ وَهَوَ صَائِمٌ

“Bahwa Nabi shallalahu alaihi wasallam suatu pagi pernah dalam keadaan junub karena menggauli isterinya,sedangkan beliau pun berpuasa”

Artinya: bahwa Nabi shallalahu alaihi wasallam tidak mandi junub kecuali setelah terbit fajar.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 10-12 pertanyaan ke-4.

Orang yang Melihat Hilal

Soal:

As-Salamu ‘alaikum. Dalam ilmu fiqih dijelaskan bahwa rakyat harus turut ikut berhari-raya dengan pemerintah. Bagaimana hukumnya apabila kita yakin ada yang melihat bulan sabit (hilal) Syawal pada malam setelah tanggal 29 Ramadhan atau malam ke-30, padahal pemerintah telah menetapkan bahwa Ramadhan diikmal (digenapkan) menjadi 30 hari karena menuruti pemerintah hilal Syawal tidak terlihat? Apakah kita tetap ikut pemerintah atau kita berhari raya besoknya (puasa 29 hari) karena telah melihat hilal dengan yakin? Bagaimana hukumnya seorang Ustadz yang menjadi imam dan atau khatib shalat ‘led bersama orang yang puasa 29 hari padahal dia berkeyakinan hari raya jatuh setelah ikmal Ramadhan 30 hari, dan ketika shalat atau khutbah ‘id itu dia berpuasa? Bagaimana juga hukumnya seorang ustadz yang jadi khatib dan atau imam ‘id 2 kali pada 2 hari yang berbeda karena kebetulan ada perbedaan hari raya pada saat itu? Syukran, jazaakumullaahu khairan. Was-Salaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 62813742xxxxx

Jawab:

Baca lebih lanjut

Imsyak Sahur dalam Tinjauan Syari'at

Soal:

Assalamu’alaikum. Kami sering menjumpai dimasjid-masjid jadwal imsak sahur beberapa menit sebelum subuh. Apakah hal ini dibenarkan? Mohon penjelasannya. Barakallahu fikum. (Hamba Allah. o81xxxx)

Jawab:

Syari’at memberikan batasan waktu makan sahur adalah adzan subuh. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu ajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS. al-Baqarah [2]: 187)

Imam Suyuthi asy-Syafi’i رحمه الله berkata, “Ayat ini adalah dalil tentang bolehnya berkumpul dengan istri, makan, dan minum hingga jelas-jelas fajar, dan hal itu diharamkan bila siang hari.” (al-Iklilfi Istinbath at-Tanzil 1/359)

Baca lebih lanjut

Haid dan Nifas, Bolehkah Makan di Siang Hari

Soal:

Wanita haid dan wanita nifas, apakah keduanya boleh makan dan minum pada siang hari bulan Ramadhan?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya,mereka boleh makan dan minum pada siang hari bulan Rarnadhan. Namun, lebih baik hal itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi jika ada anak-anak dirumah, karena hal itu bisa menimbulkan masalah bagi mereka.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 13 pertanyaan ke-8.

Tetes Darah yang Keluar Masa Haid dan Diluar Masa Haid

Soal:

Ada wanita yang kadang kala mendapatkan sedikit bekas darah atau beberapa tetes darah yang sedikit sekali yang terjadi secara terputas-putus dalam satu hari, sekali waktu dia dapatkan pada masa haid tetapi tidak keluar dan sekali waktu dia dapatkan bukan pada masa haid. Bagaimana hukum puasanya pada dua kondisi tersebut?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Baru saja dijawab pertanyaan serupa ini. Akan tetapi ada hal lain, jadi pada masa haid dan dia menganggapnya dari jenis haid yang biasa dia kenal, maka darah itu adalah darah haid.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 12-13 pertanyaan ke-7.