Tidak Meng-Qodho Karena Tidak Tahu

Soal:

Assalamu’alaikum. Saya ingin tanya. Beberapa tahun lalu, saya tidak puasa karena haid. Setelah itu, saya tidak mengqadhanya kerena tidak tahu hukumnya. Apakah harus saya ganti atau bagaimana ? Terimakasih atas jawabannya.

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Kalau memang penyebab dari tidak mengqadha’ adalah ketidaktahuan, maka setelah tahu dia berkewajiban untuk mengaqadha’nya. Pelaksanaan qadha’ ini tidak harus dilakukan secara terus-menerus, tapi boleh dilakukan dengan cara diselang-seling. Misalnya, dia meninggalkan puasa selama tujuh hari, maka dalam pelaksanaan qadha’ tidak harus 7 hari langsung tanpa putus-putus, tapi boleh pekan ini sehari, pekan berikutnya dua hari dan lain sebagainya.

Jika dia lupa jumlah puasa yang ditinggalkannya, maka dia harus berupaya mengingat-ingatnya semampunya lalu meng-qadha’ sejumlah yang dia ingat.[]


Disalin dari Majalah as-Sunnah, Ed. Khusus No. 03-04 Thn XVI 1433H/2012M, Rubrik Soal-Jawab hal.8 Asuhan Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri خفظه الله.

Download:
Download Word atau Download PDF

Qadha atau Fidyah?

الحامل والمرضع، فإن الحامل والمرضع من أهل الأعذار إذا كان صومها يشق مع الحمل أو مع الإرضاع بحيث لا تستطيع أن ترضع ولدها أو أنها تتعب تعباً شديداً مع الصيام وإرضاع ولدها فإن لها أن تفطر

Syaikh Dr Abdul Aziz ar Rais mengatakan, “Wanita hamil dan menyusui itu termasuk orang yang mendapat keringanan dalam hal puasa.

Jika puasa dalam kondisi hamil atau menyusui itu memberatkannya. Yang dimaksud dengan memberatkannya adalah tidak bisa menyusui atau merasa capek luar biasa jika berpuasa sambil tetap menyusui anak. Dalam kondisi demikian, boleh bagi wanita hami dan menyusui untuk tidak berpuasa.

وأصح أقوال أهل العلم كما ذهب إلى هذا القاسم بن محمد وإسحاق بن راهويه وجمعٌ من أهل العلم وأفتى به اثنان من صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم أنها تُفطر ولا تقضي وتُطعم عن كل يوم مسكيناً هذا أصح أقوال أهل العلم

Baca lebih lanjut

Puasa Enam Hari Syawal Padahal Punya Qadha Ramadhan

Soal:

Bagaimanakah kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal padahal punya qadha Ramadlan?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin رحمه الله menjawab:

Dasar puasa enam hari Syawal adalah hadits berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadlan lau mengikutinya dengan enam hari Syawwal, maka ia laksanakan puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

Jika seseorang punya kewajiban qadha lalu berpuasa enam hari padahal ia punya kewajiban qadla enam hari, maka puasa Syawwalnya tak berpahala, kecuali jika telah mengqadha Ramadhannya.


Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Fatawa: Amalan di Bulan Syawwal
Lihat pula: Puasa Sunnah Syawwal

Mendahulukan Hutang Puasa

Soal:

Bolehkah berpuasa enam hari di bulan Syawwal sementara dia belum menunaikan hutang puasa Ramadhannya?

Jawab:

Syaikh bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله menjawab:

Ulama berselisih dalam masalah ini. Pendapat yang benar adalah disyari’atkannya mendahulukan hutang puasa daripada puasa enam hari bulan Syawwal dan puasa sunnah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian puasa enam hari di bulan Syawwal, seolah-olah ia berpuasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim)

Maka barangsiapa mendahulukan puasa enam hari bulan Syawwal daripada hutang puasa Ramadhannya, berarti ia belum mengikutkan puasa Ramadhan akan tetapi hanya mengikutkan sebagian puasa Ramadhan. Kemudian perlu diketahui pula, hutang puasa adalah wajib, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sunnah. Maka memperhatikan yang wajib itu lebih utama daripada yang sunnah.


Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Fatawa: Amalan di Bulan Syawwal
Lihat pula: Puasa Sunnah Syawwal

Mengqadha Puasa Ramadhan Setelah Puasa Syawwal

Soal:

Jika seorang pemudi mengerjakan puasa enam hari bulan Syawwal untuk mengqadha (mengganti) puasa Ramadhan yang terluput, apakah puasa enam hari itu hanya (sebagai ganti puasanya yang terluput itu) saja, ataukah sekaligus dihitung sebagai puasa syawwal?

Jawab:

Syaikh Ibnu Jibrin رحمه الله menjawab:

Telah diriwayatkan dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ بِسِتٍّ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lalu berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa selama setahun.”[1]

Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan wajibnya menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu, karena puasa Ramadhan ini hukumnya wajib. Setelah yang wajib digenapkan, barulah ditambah puasa sunnah enam hari pada bulan Syawwal

Jadilah puasa yang dialkukan itu seperti puasa satu tahun penuh. Dalam hadits yang lain:

“Puasa Ramadhan sama dengan berpuasa sepuluh bulan dan puasa enam hari pada bulan Syawwal sama dengan berpuasa selama dua bulan”

Maksudnya, setiap satu kebaikan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kali. Oleh karena itu, barang siapa yang berpuasa pada sebagian hari dan meninggalkan sebagian hari yang lain karena sakit, safar (bepergian), haid atau nifas, maka wajib mengganti puasa yang tertinggal itu pada bulan Syawwal atau pada bulan-bulan lain. Dalam penggantian puasa yang tertinggal tersebut, dia harus mendahulukannya dari puasa sunnah, apakah puasa enam hari pada bulan Syawwal atau puasa sunnah lainnya. Jika telah mengganti puasa yang tertinggal, barulah dia mengerjakan puasa sunnah Syawwal untuk mendapatkan keutamaan dan pahala. Jadi, puasa yang dilakukan untuk mengganti puasa Ramadhan yang terluput itu tidak sekaligus menjadi puasa sunnah.


[1] Diriwayakan oleh imam Muslim di dalam kitab shahihnya

Disalin dari: Majalah Fatawa Vol. 02/I/Syawwal 1423 H_ 2002 M, hal. 10-11

Lihat pula: Puasa Sunnah Syawwal

Hukum Memutuskan Puasa Qadha’ dan Sunnah

Soal:

Apakah seorang yang berpuasa qadha’ atau sunah boleh memutuskan puasanya?


J
awab:

Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab:

Apabila ia berpuasa qadha’ tidak boleh memutuskannya dan wajib menyempurnakannya. Adapun bila berpuasa sunah boleh memutuskan puasanya itu, tidak ada kewajiban untuk menyempurnakan puasa sunah. Pernah suatu hari Nabi صلي الله عليه وسلم masuk rumah dalam keadaan berpuasa sunah lalu menjumpai makanan yang dihadiahkan para sahabat lalu beliau makan. Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunah tidak wajib disempurnakan.[]

Disalin dari Majalah Fatawa Vol III/ No.10_1428 H/2007 M, hal. 49.