Larangan Baca al-Qur’an di Kuburan

Soal:

Assalamu’alaikum. Mau tanya dalil yang menerangkan la-rangan baca al-Qur’an di kuburan. Terima kasih.

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah membaca al-Qur’an di atas kuburan, demikian pula tidak dilakukan oleh para sahabat beliau رضي الله عنهم. Bahkan ada hadits mengisyaratkan bahwa kuburan bukan tempat membaca al-Qur’an, seperti sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syaithan lari dari ramah yang dibacakan di dalamnya Surat al-Baqarah.” (HR Muslim)

Di dalam hadits ini beliau صلى الله عليه وسلم melarang kita menjadikan rumah-rumah kita sebagai kuburan, ada yang mengatakan “maksudnya sepi dari bacaan al-Qur’an”; hal itu menunjukkan bahwa kuburan bukan tempat untuk membaca al-Qur’an. Kuburan diziarahi dengan cara mengucapkan salam bagi penghuninya dan mengingat kematian.[]

Sumber: Majalah Al-Furqon No.149 Ed. 01 Th. Ke-14, hal.5 Rubrik Soal-Jawab Asuhan Ustadz Abdullah Roy, Lc, MA.

Dalam Sujud Berdoa dengan Ayat al-Qur’an

Soal :
Kami sudah mengetahui, bahwa membaca Al-Qur‘ân ketika sujud tidak dibolehkan, akan tetapi ada beberapa ayat dalam Al-Qur‘ân yang berisi doa.
Bagaimanakah hukum membaca doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur‘ân ketika sujud?

Jawab :
Itu tidak mengapa, apabila dia membawakannya sebagai doa bukan sebagai bacaan Al-Qur‘ân.

Al-Lajnatud-Dâ‘imah lil Buhûts al-Ilmiyyah wal-Iftâ‘

Ketua: Syaikh bin Bâz.
Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur-Razaq ‘Afifi.
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghadyan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ûd.

(Fatâwâ al-Lajnah, 6/441)


Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/ Tahun XII melalui www.majalahassunnah.com

Upah yang Terlarang

Soal:

Sebuah organisasi Islam mendirikan sebuah pusat pendidikan untuk menghapal al-Qur’anul karim. Kemudian mereka meminta kepada saya untuk menjadi salah satu tenaga pendidik di sana. Mereka tahu bahwa saya telah selesai menghapal al-Qur’an dan tajwid. Sebagai imbalan, mereka menawarkan harta kepada saya. Namun pemberian tersebut tidak saya terima, karena saya berkeyakinan itu tidak boleh, berdasarkan beberapa hadits yang melarang hal itu. Bagaimana pendapat Syaikh ?

Jawab:

Engkau boleh menerima gaji tersebut sebagai imbalan engkau mengajarkan al-Qur’an. Karena Nabi صلي الله عليه وسلم pernah menikahkan seorang Sahabat dengan seorang wanita dengan mahar (maskawin) mengajari wanita tersebut al-Qur’an yang dia pahami; Dan juga para Sahabat pernah menerima imbalan dari ruqyah yang mereka lakukan terhadap seorang kafir dengan membacakan al-Fatihah. Dalam masalah ini, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُـمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ

“Upah terbaik yang kalian terima yaitu (upah) dari kitabullah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dilarang adalah menerima upah atau meminta gaji dari semata-mata bacaan al-Qur’an.[1]

وباالله التوفيق وصلى على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

al-Lajnatud Daimah lil Buhutsil ‘ilmiyyah Wal Ifta’

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz;
Wakil: Syaikh Abdurrazzaq Afifi;
Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud


[1] Fatawa al-Lajnatid Daimah lil Buhutsil ‘ilmiyyah Wal Ifta’, 15/95

Disalin dari: Majalah As-Sunnah No. 11/Thn.XIV Rabiul Tsani 1432_2011 hal 52

Adakah Pahalanya?

Soal:

Bagaimanakah hukum menerima gaji dari mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak ? Jika boleh, apakah sang guru masih mendapatkan pahala setelah menerima gaji bulanan ?

Jawab:

Mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an termasuk diantara deretan ibadah terbaik kepada Allah عزّوجلّ, jika niat orang yang melakukannya baik. Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah memberikan motivasi (kepada umatnya) agar mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an dengan sabda beliau صلي الله عليه وسلم :

خَيْرُ كُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Gaji yang diterima guru sebagai imbalannya mengajarkan al-Qur’an tidak menafikan adanya pahala dan ganjaran dari Allah عزّوجلّ jika niatnya ikhlas.[1]

وباالله التوفيق وصلى على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

al-Lajnatud Daimah lil Buhutsil ‘ilmiyyah Wal Ifta’

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz;
Anggota: Syaikh Abdullah bin Gahdyan, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dan Syaikh Bakr bin Abu Zaid


[1] Fatawa al-Lajnatid Daimah lil Buhutsil ‘ilmiyyah Wal Ifta’, 15/99

Disalin dari: Majalah As-Sunnah No. 11/Thn.XIV Rabiul Tsani 1432_2011 hal 52

Berkumpul Membaca Al-Qur'an

Soal:

Apakah boleh berkumpul untuk membaca al-Qur’an baik bersifat kadang-kadang atau setiap hari?

Jawab :

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Jika pengaturan/penertiban pertemuan tersebut tidak dimaksud kecuali untuk mempermudah kaum muslimin yang ingin mempelajari al-Qur’an, maka hal tersebut tidak mengapa. Adapun jika tujuan inti dari penertiban pertemuan tersebut semata-mata beribadah kepada Allah, maka tidak di bolehkan. (Majalah al-Ashaalah I, hal: 49)

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 225.