Menunda Zakat Sampai Bulan Ramadhan

Soal:

Bagaimana hukumnya jika seseorang telah sampai pada satu haulnya mengeluarkan zakat, tapi ia dengan sengaja menunda menyalurkan dan menunggu bulan ramadhan agar mendapat pahala yang berlipat ganda.

Jawab:

Bagaimana pahala berlipat ganda bisa didapatkan bila tidak sesuai dengan tuntunan syari’at, pahala berlipat ganda apabila anda mensedekahkan sesuatu yang belum wajib, dan bersedakah dibulan Ramadhan memang baik, tetapi berzakat di bulan ramadhan tergantung, kalau memang wajibnya sebelum ramadhan tidak boleh anda tunda-tunda, apalagi apabila sampai 2 atau 3 bulan,

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam saja ketika beliau selasai shalat terburu-buru ke rumahnya, sehingga para sahabat bertanya-tanya, lalu Rasulullah mengatakan di rumahku ada satu keping emas dan itu adalah bagian dari uang emas zakat yang belum disalurkan dan saya tidak ingin uang tersebut bermalam dirumah saya, kawatir nanti akan menghalangi saya nanti di akhirat … (HR. Bukhari)

Baca lebih lanjut

Iklan

Imsyak Sahur dalam Tinjauan Syari'at

Soal:

Assalamu’alaikum. Kami sering menjumpai dimasjid-masjid jadwal imsak sahur beberapa menit sebelum subuh. Apakah hal ini dibenarkan? Mohon penjelasannya. Barakallahu fikum. (Hamba Allah. o81xxxx)

Jawab:

Syari’at memberikan batasan waktu makan sahur adalah adzan subuh. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu ajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS. al-Baqarah [2]: 187)

Imam Suyuthi asy-Syafi’i رحمه الله berkata, “Ayat ini adalah dalil tentang bolehnya berkumpul dengan istri, makan, dan minum hingga jelas-jelas fajar, dan hal itu diharamkan bila siang hari.” (al-Iklilfi Istinbath at-Tanzil 1/359)

Baca lebih lanjut

Tetes Darah Keluar di Bulan Ramadhan

Soal:

Apabila keluar dari seorang wanita pada siang hari bulan Ramadhan beberapa tetes darah dan hal ini berlangsung selama bulan Ramadhan sedangkan dia tetap berpuasa, apakah sah puasanya itu?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya, sah puasanya. Adapun tetesan darah ini bukan apa-apa, karena merupakan darah yang keluar disebabkan luka atau sakit (pendarahan). Ali bin Abu Talib radhiyallahu anhu berkata:

“Sesungguhnya tetesan darah yang terjadi ini sebagaimana halnya darah yang keluar dari hidung, bukanlah darah haid”.

Demikian diriwayatkan dari beliau.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 10 pertanyaan ke-3.

45 Fatwa Seputar Puasa dan Hari Raya

Nama eBook: 45 Fatwa Seputar Puasa
Penulis: Para Ulama

Pengantar:

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah semata, kemudian shalawat dan salam bagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم , bagi keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir masa.

Kembali kami memuji Allah سبحانه و تعالى, karena taufik dan kasih sayangnya eBook yang telah lama kami rencanakan ini dapat direalisasikan. eBook ini asalnya adalah fatwa-fatwa para ulama seputar puasa yang sebagian besarnya telah kami posting sebelumnya di blog kita ini soaldanjawab.wordpress.com.

eBook ini berisi 45 fatwa yang berasal dari jawaban para ulama yakni Syaikhul Islam, Syaikh bin Baz, Syaikh al-Albani, Syaikh ibn Utsaimin, syaikh Muqbil, Syaikh ibn Jibrin, Syaikh al-Fauzan, Syaikh al-Munajjid dan Lajnah Daimah. Ke-45 fatwa tersebut adalah:

  1. Membayar Zakat Fithri Sebelum ‘Id
  2. Qadha’ Puasa Karena Menyusui
  3. Qadha’ Puasa Setelah Ramadhan Berikutnya
  4. Berbuka Karena Mengira Matahari Sudah Tenggelam
  5. Hari Raya di Hari Jum’at, Tetapkah Sholat Jum’at
  6. Hukum Cuci Darah Saat Berpuasa
  7. Hukum Menggunakan Pasta Gigi dan Obat Tetes Ketika Puasa
  8. Hukum Menggunakan Penyemprot Mulut Saat Puasa
  9. Hukum Meninggalkan Shalat Id
  10. Hukum Menonton & Bermain Kartu di Bulan Ramadhan Baca lebih lanjut

Puasa Enam Hari Syawal Padahal Punya Qadha Ramadhan

Soal:

Bagaimanakah kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal padahal punya qadha Ramadlan?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin رحمه الله menjawab:

Dasar puasa enam hari Syawal adalah hadits berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadlan lau mengikutinya dengan enam hari Syawwal, maka ia laksanakan puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

Jika seseorang punya kewajiban qadha lalu berpuasa enam hari padahal ia punya kewajiban qadla enam hari, maka puasa Syawwalnya tak berpahala, kecuali jika telah mengqadha Ramadhannya.


Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Fatawa: Amalan di Bulan Syawwal
Lihat pula: Puasa Sunnah Syawwal

Mendahulukan Hutang Puasa

Soal:

Bolehkah berpuasa enam hari di bulan Syawwal sementara dia belum menunaikan hutang puasa Ramadhannya?

Jawab:

Syaikh bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله menjawab:

Ulama berselisih dalam masalah ini. Pendapat yang benar adalah disyari’atkannya mendahulukan hutang puasa daripada puasa enam hari bulan Syawwal dan puasa sunnah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian puasa enam hari di bulan Syawwal, seolah-olah ia berpuasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim)

Maka barangsiapa mendahulukan puasa enam hari bulan Syawwal daripada hutang puasa Ramadhannya, berarti ia belum mengikutkan puasa Ramadhan akan tetapi hanya mengikutkan sebagian puasa Ramadhan. Kemudian perlu diketahui pula, hutang puasa adalah wajib, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sunnah. Maka memperhatikan yang wajib itu lebih utama daripada yang sunnah.


Sumber dan bacaan lebih lanjut:
Fatawa: Amalan di Bulan Syawwal
Lihat pula: Puasa Sunnah Syawwal

Berenang dan Menyelam Saat Puasa

Soal:

Apa hukumnya berenang dan menyelam bagi orang yang berpuasa?

Jawab:

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i رحمه الله menjawab:

Dibolehkan berenang dan menyelam bagi orang yang berpuasa, asalkan tidak  ada sesuatupun yang masuk ke dalam tenggorokannya. Akan tetapi, berenang di lautan berbeda keadaannya. Air asin sangat memungkinkan sekali akan masuk ke dalam tenggorokan. Kami pernah berenang di lautan, dan seorang teman tanpa disadarinya merasakan asin di dalam tenggorokannya. Oleh karena itu,  kami menasehatkan untuk menjauhi hal ini.


Disalin dari Fatwa-fatwa Ramadhan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Hukum Mengucapkan Selamat Datangnya Ramadhan

Soal:

Sering kita mendengar, banyak kaum muslimin yang mengucapkan selamat dengan datangnya bulan Ramadhan. Misalnya mengucapkan “Ramadhan Mubarak.” Apakah perbuatan ini boleh dalam syari’at?

Jawab:

Pertanyaan ini telah dijawab oleh dua ‘ulama besar masa ini:

1. Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله:

Ramadhan merupakan bulan yang agung. Bulan penuh barakah yang kaum muslimin bergembira dengannya. Dan dulu Nabi صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya رضي الله عنهم bergembira dengan datangnya Ramadhan. Dulu Nabi صلي الله عليه وسلم juga memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya tentang datangnya Ramadhan.

Apabila kaum muslimin bergembira dengan datangnya Ramadhan, dan memberikan kabar gembira dengan datangnya bulan Ramadhan, satu sama lain saling mengucapkan selamat dengan datangnya Ramadhan, maka hal ini tidak mengapa, sebagaimana hal ini juga biasa dilakukan oleh para salafush shalih.

Karena memang bulan ini adalah bulan yang agung, penuh barakah, dan muslimin gembira dengannya, sebab bulan ini bulan penghapusan kesalahan, pemaafan dosa, dan bulan untuk berlomba dalam kebaikan dan amal shalih.

2. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan خفظه الله:

Mengucapkan selamat datangnya bulan Ramadhan tidak mengapa. Karena dulu Nabi صلي الله عليه وسلم memberikan berita gembira kepada para shahabatnya akan datangnya bulan Ramadhan, memberikan semangat kepada mereka untuk memperbanyak amal shalih padanya. Allah سبحانه و تعالي telah berfirman :

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ

“Katakanlah dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka dengan itu bergembiralah kalian.” (QS. Yunus[10]: 58)

Jadi ucapan selamat dan kegembiraan dengan datangnya bulan Ramadhan menunjukkan semangat yang besar terhadap kebaikan. Dulu para salafush shalih juga biasa mengucapkan selamat satu sama lain dengan datangnya bulan Ramadhan dalam rangka mencontoh Nabi صلي الله عليه وسلم. Sebagaimana dalam hadits dari shahabat Salman dalam kisah yang panjang, di dalamnya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

أيها الناس‏‏ قد أظلكم شهر عظيم مبارك

“Wahai umat manusia, telah datang kepada kalian bulan agung yang penuh barakah …”. [1]


[1] HR. Al-Baihaqi. Hadits dengan lafazh ini dha’if, bahkan dalam kitab Dha’if At-Targhib wa At-Tarhib Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله menyatakannya sebagai hadits munkar.

Namun terdapat hadits lain dengan lafazh:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, syahrun mubarak … ” (HR. An-Nasa`i)

Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Sunan An-Nasa`i

Sumber: assalafy.org dengan judul Hukum Mengucapkan Selamat Dengan Datangnya Bulan Ramadhan

Hukum Suntikan Ketika Berpuasa

Soal:

Bagaimana hukum menggunakan suntikan pada urat leher dan otot, serta apa perbedaan diantara keduanya bagi orang yang berpuasa?


Jawab :

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menjawab:

Yang benar, sesungguhnya kedua hal itu tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa khusus pada jarum infus, yang berfungsi sebagai pengganti makanan saja. Demikian pula tidak membatalkan puasa, jika seseorang mengambil darahnya untuk dibawah ke laboratorium, karena pengambilan darah ini bukan seperti berbekam.

Adapun bekam, maka yang benar menurut pendapat para ulama, sesungguhnya orang yang dibekam dan yang membekam, keduanya telah batal puasanya. Sesuai sabda Nabi صلي الله عليه وسلم yang berbunyi:

أَفْطَرَ اَلْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

“Orang yang membekam dan dibekam harus berbuka.”[1]


[1] Terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini, lihat hadits-haditsnya di Bulughul Maram, Kitab Shiyam. Lihat pula e-book Hukum-hukum Puasa bab ‘Yang Boleh Dilakukan Orang yang Puasa’

Disalin dari 28 Fatwa-fatwa Puasa oleh Syaikh bin Baz, ebooknya dari Maktabah Abu Salma al-Atsari, hal.33.

Hukum Menggunakan Pasta Gigi dan Obat Tetes Ketika Berpuasa

Soal:

Bagaimana hukum menggunakan pasta gigi, dan obat tetes pada telinga, hidung, juga mata bagi orang berpuasa? Jika orang yang berpuasa merasakan obat tersebut di tenggorokannya, apa yang harus dikerjakannya?

Jawab :

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menjawab:

Membersihkan gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa, ia seperti siwak. Tetapi seseorang harus berhati-hati, jangan sampai ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokannya, jika ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan tanpa disengajanya, maka tidak apa-apa dan ia tak perlu mengqadha’ puasa

Demikian pula obat tetes pada mata dan telinga, seseorang tidak menjadi batal puasanya karena hal itu, ini menurut pendapat para ulama yang paling sahih.

Baca lebih lanjut