Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadhan

Soal:

Apakah keutamaan bersedekah pada bulan Ramadhan?


J
awab:

Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab:

Bersedekah pada bulan Ramadhan lebih utama (afdlal) daripada bersedekah pada bulan-bulan lainnya. Pada bulan itu beliau صلي الله عليه وسلم sangat dermawan, sangat mudah mengeluarkan sedekah ibarat angin yang bertiup kencang. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah manusia yang paling dermawan dan lebih dermawan pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya untuk mengajari al-Quran pada setiap malam pada bulan itu. Kedermawanan Rasulullah صلي الله عليه وسلم pada saat itu lebih baik daripada angin sepoi-sepoi (angin yang bertiup terus-menerus dan bermanfaat). Dalil ini menunjukkan keutamaan sedekah bulan Ramadhan di mana pada bulan ini banyak orang yang miskin berpuasa. Bila seorang berbuat baik kepada mereka berarti ia membantu ketaatan kepada Allah terhadap mereka. Amal itu dilipatkan pahalanya karena kemuliaan waktu dan tempatnya sebagaimana amal-amal dilipatkan pahalanya pada dua masjid Makkah dan Madinah (masjid Nabawi) yaitu shalat di dua masjid tersebut berpahala 1000 kali lipat dibanding shalat di tempat lainnya.[]

Disalin dari Majalah Fatawa Vol III/ No.10_1428 H/2007 M, hal. 49-50.

Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan

Soal:

Apakah keutamaan hari-hari 10 akhir bulan Ramadhan?


J
awab:

Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab:

Hari-hari ini memiliki keutamaan yang besar dan agung. Pada hari-hari itu Nabi صلي الله عليه وسلم lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dibandingkan malam-malam sebelumnya. Beliau melakukan i’tikaf pada malam akhir Ramadhan dan tidak keluar dari masjid selain menunaikan hajatnya. Banyak kaum muslimin berharap dapat menjumpai lailatul qadar pada 10 hari terakhir bulan mubarak itu.[]

Disalin dari Majalah Fatawa Vol III/ No.10_1428 H/2007 M, hal. 49.

Hukum Bersiwak di Bulan Ramadhan

Soal:
Apakah hukum bersiwak pada bulan Ramadhan?


J
awab:

Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab:

Siwak merupakan sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم yang dianjurkan. Banyak keutamaan bersiwak. Bersiwak pernah dilakukan maupun diperintahkan Nabi Bersiwak sangat baik terutama pada tempat-tempat yang dibutuhkan seperti sebelum wudhu, ketika akan shalat, ketika membaca al-Quran, ketika bau mulut mulai berubah, atau ketika bangun tidur sebagaimana biasa dilakukan Nabi صلي الله عليه وسلم.

Bersiwak disunahkan pada semua waktu termasuk saat Ramadhan. Yang benar adalah seseorang disunahkan bersiwak tiap hari di bulan Ramadhan pada pagi hari dan sore dan tidak benar anggapan bahwa seseorang disunahkan hanya bersiwak pada sore hari saja. Bahkan para sahabat melihat Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersiwak terus menerus sampai tak terhitung jumlahnya dalam keadaan berpuasa. Bersiwak itu hukumnya sunah, boleh dikerjakan oleh yang berpuasa ataupun tidak berpuasa. Akan tetapi dalam hal ini seorang harus berhati-hati ketika menggosok gigi dengan miswak (alat siwak) agar tidak melukai gusi yang dapat mengakibatkan pendarahan.[]

Disalin dari Majalah Fatawa Vol III/ No.10_1428 H/2007 M, hal. 49.

Metode Hisab Untuk Penetapan Awal Bulan Ramadhan?

Soal:

Di beberapa negeri-negeri Islam, ada orang-orang yang sengaja memulai puasa hanya dengan berpatokan kepada kalender, tanpa berpegang kepada ru’yah hilal[1] Bagaimana hukum hal tersebut?

Jawab:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menjawab:

Nabi صلي الله عليه وسلم telah memerintahkan kaum muslimin untuk (memulai) puasa berdasarkan ru’yah hilal dan berbuka (untuk ‘idul fithri) juga berdasarkan ru’yah hilal. Jika pada sore hari menjelang maghrib di akhir bulan tersebut cuaca mendung (sehingga tidak dapat melihat bulan), maka hendaknya menyempurnakan bilangan hari menjadi tiga puluh hari. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; tidak bisa membaca dan berhitung. Satu bulan itu begini, begini, dan begini.” Beliau mengisyaratkan dengan semua jari-jari tangannya, lalu pada kali yang ketiga beliau menyembunyikan ibu jarinya, (yakni bahwa satu bulan itu dua puluh sembilan atau tiga puluh hari).” (Hadits muttafaq ‘alaih)[2]

Baca lebih lanjut

Hukum Menggauli Istri Saat Puasa Ramadhan

Soal:

Sebagaimana telah diketahui, orang yang menjima’ istrinya pada siang hari Ramadhan, (dia dikenai sanksi yaitu) diwajibkan membebaskan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau memberikan makan enam puluh fakir miskin. Pertanyaannya:

  1. Jika ada seorang suami yang menggauli istrinya lebih dari sekali pada hari yang berbeda pula, apakah dia wajib mengganti setiap satu hari dengan puasa dua bulan berturut-turut, ataukah cukup berpuasa dua bulan saja sebagai kafarah (denda) dari beberapa hari yang ia langgar karena menyetubuhi istrinya?
  2. Jika si pelaku tidak mengetahui bahwa orang yang menggauli istri terkena hukuman di atas, (dan) dia hanya berkeyakinan, puasa sehari yang rusak karena menggauli istri itu bisa diganti dengan sehari saja. Bagaimana hukumnya ?
  3. Apakah sang istri terkena sanksi sebagaimana sanksi sang suami ?
  4. Baca lebih lanjut

Qadha' Puasa Karena Menyusui?

Soal:

Seorang wanita hamil tidak berpuasa pada pertengahan bulan Ramadhan, ia melaksanakan keringanan yang diberikan kepadanya berdasarkan hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم.

إِنَّ اللهَ وَضَعَ الصَّوْمَ عَنِ الْـحَمْلِ وَ الْـمَرْضِعَ

“Sesungguhnya Allah meletakkan (tidak mewajibkan) berpuasa bagi wanita hamil dan menyusui.”

Dengan niat tidak akan mengqadha’ tetapi hanya akan membayar fidyah saja, sebagaimana fatwa dari ‘Abdullah bin Abbas . Pada pertengahan kedua Ramadhan ia mengalami nifas (karena melahirkan bayinya,pent) yang tentunya ia diharamkan berpuasa selama masa nifas tersebut. Apakah wajib baginya mengqadha’ puasa yang ditinggalkannya karena nifas? Jika ia menganggap dirinya sebagai seorang yang menyusui anak pada masa nifas, apakah gugur kewajiban mengqadha’ puasa yang ditinggalkan karena nifas, berdasarkan hadits diatas?

Jawab :

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Jika bertepatan dengan nifasnya, ia menyusui bayinya, maka jawabannya “sebagaimana tidak diwajibkan baginya mengqadha’ ketika ia hamil, demikian pula ketika dia menyusui, ia hanya wajib membayar fidyah. (al-Ashaalah, 15/16, hal : 120).

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 246.

Tulisan Terkait:
Hukum-hukum Puasa