Hukum Memanfaatkan Agunan

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seseorang hutang kepada si A dengan jaminan sawah, dengan perjanjian bahwa si A akan memanfaatkan sawah yang digadaikan tersebut lalu sebagian persennya diberikan kepada si penghutang. Semua itu dengan persetujuan si penghutang. Saya mohon jawaban Ustadz, karena ada yang mengatakan sistem tersebut adalah riba, padahal model seperti itu sudah marak di daerah kami. (Abdullah)


Jawab:

Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan saha-batnya. Amin.

Praktik pergadaian sawah sebagaimana yang dijelaskan dalam pertanyaan ini adalah riba. Karena kreditor (pemilik uang) dengan jelas mendapatkan keuntungan dari piutang yang diberikan. Padahal para ulama telah menegaskan bahwa:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan, maka itu adalah riba.”[1]

Baca lebih lanjut

Memanfaatkan Harta Riba

Soal:

Apakah boleh bagi seseorang mengambil sebagian dari harta ayahnya untuk di manfaatkan dalam berdagang, padahal ia mengetahui bahwa ayahnya bekerja-sama dengan Bank-bank riba ?

Jawab :

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Kewajiban sorang muslim yang telah mencapai usia dewasa adalah berupaya semaksimal mungkin untuk terlepas diri dari pemanfaatan harta riba atau dari memakannya, kecuali dia benar-benar butuh dan dalam kondisi yang sangat darurat. Adapun memperluas pemanfaatan harta yang haram tersebut tidak di perbolehkan. Wallahu a’lam (Majalah al-Ashaalah I, hal : 48)

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 224-225.

Baca juga:
Kuliah dari Harta Ayah Hasil Riba
Waspada dan Tobat dari Riba
Hukum Jual Beli Mata Uang dan Saham

Kuliah Dari Harta Ayah Hasil Riba

Soal:

Saya seorang pemuda yang masih belajar, ayah saya seorang kaya yang mengamalkan riba dan beberapa jenis jual-beli yang di haramkan. Bagaimana sikap saya dalam masalah ini?. Apalagi dialah yang memberi saya nafkah, dan telah berulang kali saya terangkan padanya, bahwa riba itu haram, namun tidak membuahkan hasil.

Jawab :

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Bahwasanya belajar yang di isyaratkan oleh penanya bukanlah belajar yang hukumnya wajib. Itu hanyalah sebuah sarana di zaman ini untuk memperoleh rizki. Jika demikian permasalahannya, di mana ia hidup di bawah tanggungan ayahnya, sedang ia yakin bahwa ayahnya mengamalkan riba, maka wajib baginya melakukan segala upaya agar terlepas dari penghidupan yang tegak di atas kemaksiatan tersebut. Meskipun urusan ini mengharuskannya meniggalkan bangku kuliah, karena belajar (pada kuliah tersebut) bukanlah fardhu ‘ain. Dan wajib baginya berusaha mencari rizki yang halal dengan jerih payah dan keringatnya sendiri. Itu lebih baik dan lebih kekal. Dia pun bisa meninggalkan kuliahnya sementara waktu, lalu berusaha mencari rizki untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan meninggalkan ketergantungannya dari nafkah ayahnya, namun,

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ

“… Seandainya ia dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,.. ” (QS. al-Baqarah[2]: 173)

di bawah nafkah ayahnya, maka ia tidak berhak secara leluasa meminta kepada ayahnya, ia hanya mengambil (dari ayahnya) sebatas apa yang dapat menegakkan tubuhnya saja, dan agar dia pun tidak meminta-minta kepada manusia.

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 227-228.

Baca juga:
Waspada dan Tobat dari Riba
Hukum Jual Beli Mata Uang dan Saham