Haid Setelah Masuk Waktu, Apakah Harus Qadha’?

Soal:

Jika seorang wanita mengalami haid pada pk. 01.00 siang umpamanya dan dia belum mengerjakan shalat Zhuhur, apakah dia harus mengqadha’ shalat Zhuhur ini setelah suci?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa dia tidak harus mengqadha’ shalat ini karena dia tidak meremehkan, juga tidak berdosa karena boleh baginya mengeijakan shalat sampai pada akhir waktunya. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa dia harus mengqadha’ shalat itu, berdasarkan keumuman sabda Nabi shallalahu alaihi wasallam:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصّلاَةَ

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu “.

Dan sikap yang hati-hati lalah mengqadha’ shalat itu, karena hanya satu shalat saja dan tidak ada kesulitan dalam mengqadha’nya.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 18-19 pertanyaan ke-17.

Sholat dan Wudhu Dengan Kuku Buatan

Soal:

Apakah dibolehkan shalat dan ibadah saat memakai kuku buatan, karena kuku selalu pecah akibat kekurangan kalsium dalam tubuh?

Jawab:

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid حفظه الله menjawab:

Alhamdulillah…

Tidak mengapa memasang kuku buatan yang permanen jika sebabnya adalah pecahnya kuku secara alami karena kekurangan kalsium dalam tubuh. Adapun memasangnya dengan tujuan sebagai perhiasan dan mempercantik diri, maka hal itu tidak dibolehkan. Lihat jawaban pada soal 21724. Tidak mengapa shalat dengan kuku tersebut, dengan syarat dicopot ketika berwudu dan mandi junub agar air  sampai ke bagian bawahnya.

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Da’imah, 5/218, “Jika pewarna kuku tersebut memiliki partikel di atas kuku, maka tidak sah berwudu sebelum menghilangkannya, jika tidak memiliki partikel dibolehkan berwudu seperti hina (pacar).”

Jika hal tersebut berlaku bagi pewarna kuku, maka kuku buatan lebih dari itu (tidak boleh dipakai saat berwudu).

Wallahu’alam .[]

Disalin dari IslamHouse.Com yang bersumber dari IslamQa.

Download:
Download Word

Duduk Raka’at Kedua

Soal:

Bagaimanakah posisi duduk tahiyyat pada shalat yang dua raka’at, seperti Shubuh, Jum’at, shalat sunnah, tarawih dan witir? Apakah seperti halnya tahiyyat awal atau tahiyyat akhir pada shalat empat raka’at?

0812251xxxx

Jawab:

Apabila shalat hanya dua raka’at, baik shalat fardhu (seperti halnya shalat Shubuh) maupun shalat sunnah yang hanya ada satu tasyahud (tahiyyat), maka duduk yang disunnahkan ialah duduk iftirasy. Yaitu seperti duduk pada tasyahud awal pada shalat yang lebih dari dua raka’at. Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah رضي الله عنها yang berbunyi:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Dahulu Rasulullah صلى الله عليه وسلم gmengucapkan at-tahiyyat pada setiap dua raka’at dan duduk iftirasy. (HR. Muslim).

Dalam kitab Sifat Shalat Nabi صلى الله عليه وسلم, halaman 156, Syaikh al-Albani menjelaskan: “Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم duduk untuk tasyahud setelah selesai dari raka’at kedua. Apabila shalatnya dua raka’at, seperti Shubuh, maka beliau صلى الله عليه وسلم duduk iftirasy sebagaimana duduk antara dua sujud”.

Baca lebih lanjut

Shalat di Atas Kapal Dengan Duduk?

Soal:

Apakah ada udzur untuk shalat duduk di kapal laut/penumpang yang berangkat sehari semalam? Kalau untuk lakik-laki mungkin bisa berusaha mencari tempat berdiri, tetapi untuk perempuan takut fitnah, apalagi kalau bercadar, tentu saat shalat dibuka. Akan tetapi ada yang bilang wajib berdiri selagi mampu/sehat, tak ada udzur walau di kapal. Jazakumullah.

08577141xxxx

Jawab:

Pada asalnya, shalat wajib yang dilakukan di mana saja harus dengan berdiri, kecuali jika tidak mampu karena sakit, atau karena pusing dan takut tenggelam bagi penumpang kapal, semacamnya, maka boleh dilakukan dengan duduk.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Dari ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه, dia berkata: “Aku dahulu berpenyakit bawasir, lalu aku bertanya kepada Nabi ss tentang shalat, maka beliau menjawab, ‘Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu, maka dengan duduk. Jika engkau tidak mampu, maka dengan berbaring’.”[1]

Baca lebih lanjut

Tempat-Tempat Mengangkat Tangan Dalam Shalat

Soal:

Apakah Nabi صلى الله عليه وسلم pada setiap perpindahan dari satu raka’at ke raka’at berikutnya selalu takbir dengan mengangkat tangan pada saat raka’at ke 2 ke raka’at 3 saja? Dan bagaimana pula bila makmum masbuk untuk menyempurnakan shalat, apakah juga harus mengangkat tangan?

Rohaeti, 0813144xxxx

Jawab:

Yang biasa dilakukan Nabi صلى الله عليه وسلم dalam masalah mengangkat tangan saat shalat, yaitu pada waktu takbiratul ihram, pada waktu akan ruku’ dan bangkit dari ruku’, dan pada waktu berdiri dari raka’at ke dua. ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah bertakbir untuk ruku’, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya dan mengatakan: sami’allahu liman hamidah Rabbana wa lakal hamdu.[1]

Baca lebih lanjut

Kewajiban Mendekat ke Sutrah

Soal:

Bagaimana hukumnya mendekati sutrah ketika sedang shalat? Bagaimana jika tidak dilakukan karena kadang terlalu jauh untuk mendekati sutrah?. Jazakallahu khairan katsira.

Adi, Surabaya

Jawab:

Seseorang yang hendak mengerjakan shalat, ia diperintahkan untuk menghadap sutrah (pembatas), dan dilarang melakukan shalat tanpa menghadap sutrah. Yang dimaksud dengan sutrah pada shalat, itu benda yang ada di hadapan orang yang shalat, untuk menutupinya dari apa-apa yang lewat di depannya. Sutrah ini dapat berupa tembok, tiang, atau lainnya. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَتُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ

Janganlah engkau melakukan shalat kecuali menghadap sutrah.[1]

Demikian juga diperintahkan agar mendekati sutrah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعَ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

Baca lebih lanjut

Shalat Jum’at Musafir

Soal:

Apakah orang yang musafir dibolehkan tidak melakukan shalat Jum’at?

Abdullah

Jawab:

Telah dimaklumi, shalat Jum’at hukumnya wajib atas setiap muslim kecuali wanita, hamba sahaya, anak kecil, orang sakit dan musafir. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau berkata: “Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali empat; hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit”.[1]

Baca lebih lanjut

Wanita Haid Sholat Sunnah Ihram

Soal:

Bagaimana seorang wanita yang haid mengerjakan shalat dua rakaat ihram? Dan bolehkah wanita haid membaca ayat Al Qur’an dalam hati?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama: Seyogyanya kita ketahui bahwa tidak ada shalat untuk ihram, tidak diriwayatkan dari Nabi shallalahu alaihi wasallam bahwa beliau mensyari’atkan kepada umatnya shalat untuk ihram baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun persetujuan.

Baca lebih lanjut

Waktu Sholat Sunnah Subuh

Soal:

Apakah shalat sunnah rawatib qabliyah Subuh sama dengan shalat sunnah fajar?

Mohammad Dedi
Kec. Cipocok Jaya, Kab. Serang, Banten

 

Jawab:

Ya, sama. Rawatib adalah bentuk jama’ dari ratibah. Artinya, tetap, terus-menerus. Qabliyah, artinya sebelum.

Shalat sunnah rawatib qabliyah Subuh, merupakan istilah para ulama. Artinya, shalat sunnah yang tetap yang dilakukan sebelum Subuh. Karena shalat ini dilakukan pada waktu fajar, yaitu setelah adzan Subuh dan sebelum iqamat Subuh, maka dinamakan shalat sunnah fajar. Tidak ada perbedaan antara keduanya. Namun di dalam hadits-hadits, shalat ini disebut dengan rak’atal fajr (dua raka’at waktu fajar, sebelum Subuh), sebagaimana disebutkan hadits-hadits di bawah ini:

‘Aisyah radhiyallâhu’anha berkata:

لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ

Tidaklah Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjaga sesuatu dari shalat-shalat sunnah lebih daripada penjagaan Beliau terhadap rak’atal fajr (dua raka’at waktu fajar). (HR Bukhari, no. 1163)

Dari ‘Aisyah, dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, Beliau bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْـــرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Rak’atal fajr (dua raka’at waktu fajar), lebih baik daripada dunia dan segala yang ada padanya”. (HR Muslim, no. 725)[]


Sumber majalah-assunnah.com yang menyalin-nya dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (08-09)/Tahun VIII, Rubrik: Soal-Jawab.

Download:  Download Word

Suci Sebelum Asar, Apakah Wajib Sholat Zhuhur

Soal:

Jlka wanita haid atau nifas telah suci sebelum waktu Asar, apakah dia harus melakukan shalat Zhuhur bersama shalat Asar, atau hanya shalat Asar saja?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pendapat yang kuat dalam masalah ini yaitu tidak wajib baginya kecuali shalat Asar saja. Karena tidak ada dalil yang mewajibkan shalat Zhuhur, dan pada dasarnya seseorang itu dibebaskan dari tanggungan.

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم pemah bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Asar sebelum matahari terbenam, maka dia telahmendapatkan shalat Asar itu “.

Nabi tidak menyebutkan bahwa dia telah mendapatkan shalat Zhuhur.Kalaupun shalat Zhuhur itu wajib, Nabi pasti akan menjelaskannya. Wanitapun kalau haid setelah masuk waktu Zhuhur tidak wajib kecuali mengqadha’ shalat Zhuhur tanpa shalat Asar, padahal shalat Zhuhur dijama’ dengan shalat Asar, tidak ada perbedaan antara hal ini dengan bentuk yang dipertanyakan. Dengan demikian, pendapat yang kuat yaitu tidak wajib baginya kecuali shalat Asar saja, berdasarkan nash dan qiyas (analogi). Begitupula seandainya dia suci sebelum habis waktu Isya’, maka yang wajib baginya hanya shalat Isya’ saja sedangkan shalat Maghrib tidak wajib.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 13-14 pertanyaan ke-9.