Apakah Suami Wajib Mengeluarkan Zakat Perhiasan Istri?

Soal:

Haruskah suami mengeluarkan zakat untuk perhiasan istrinya?

Jawab:

Syaikh bin Baz  رحمه الله menjawab:

Dia tidak harus mengeluarkan zakatnya, namun jika dia mau membantu dan istrinya ridla maka tidak masalah. pada dasarnya kewajiban zakat perhiasan itu atas dirinya, karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dialah yang berkewajiban mengeluarkan zakatnya dan bukan suaminya.[]

Disalin dari Risalah Pilihan, Karya Syekh Bin Baaz, hal. 131.

Hukum Tidak Membayar Zakat Istri dan Anak

Soal:

Bagaimana hukumnya seorang suami yang tidak pernah membayarkan zakat [Fitrah] untuk istri dan anak-anaknya? anak dan istri ini di tinggal sudah 4 tahun dan tidak diberi nafkah, sedangkan anak tiri dibayarkan zakatnya, sehingga istri mencari nafkah sendiri dan untuk anak-anaknya, mohon penjelasannya.

Jawab:

Mari kita mengintrospeksi diri masing-masing, setiap orang diberikan amanah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang lemah yang ada disekitar kita, anak, istri ini adalah amanah dari Allah, kita para lelaki adalah pemimpin, bila kita menyalahkan pemimpin-pemimpin kita maka salah kan diri kita masing-masing, apakah kita telah adil, bijak memimpin anak, istri dan keluarga, Allah tidak menginginkan anda melakukan seperti ini dan mengatakan :

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

Baca lebih lanjut

Malas Shalat

Soal:

Bagaimana pandangan dalam Islam jika seorang isteri taat kepada Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Sedangkan suami dan anak-anaknya tidak. Mohon jawaban dimuat pada edisi Juni 2013. Syukran katsira.

08180363xxxx

Jawab:

Isteri mengetahui suami dan anak-anaknya malas atau bahkan meninggalkan shalat, berkewajiban untuk mengingkari mereka. Tentunya dengan cara-cara yang bijak dan lembut. Ingatkan tentang hukum shalat, pahala mendirikan shalat dan dosa orang yang meninggalkan shaiat dengan sengaja. Sebagaimana mendakwahi mereka juga dapat dilakukan dengan memberikan hadiah atau lainnya bila mereka mendirikan shaiat. Yang demikian itu karena setiap muslim -terlebih isteri atau ibu- berkewajiban untuk berperan aktif dalam mengingkari kemungkaran dan memerintahkan kebaikan. Baca lebih lanjut

Berhias untuk Suami dengan Rambut Warna-Warni

Soal:

Assalamualaikum. Ustadz, apakah boleh kita mewarnai rambut yang hitam menjadi merah, coklat, ungu atau warna-warna yang lain? Dan bolehkah kita berhias untuk suami dengan cara mewarnai rambut? Mohon dijelaskan sejelas-jelasnya. Jazakumullahu khoiron.

(Ummu Abdulloh, Sumbawa, +628191758xxxx)

Jawab:

Syaikh Abdulloh bin Jibrin pernah memfatwakan: “Celupan yang berwarna-warni pada rambut, seperti merah, hijau, putih dan yang lainnya, termasuk mengubah ciptaan Alloh serta meniru orang-orang barat. Kaum muslimin tidak pernah mengenal hal itu sebelum datangnya misionaris dan delegasi wanita kafir. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut… dikecualikan dari hal itu jika rambutnya putih sehingga semuanya beruban, maka boleh baginya menggunakan inai yang berwarna merah karena adanya perintah untuk mengubah uban dengan warna selain hitam.”[] (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin 101/10)


Disalin dari: Majalah Al-Mawaddah Edisi 12 Th. Ke-2 Rojab 1430 H, Rubrik Ulama Berfatwa asuhan Ustadz Abu Bakar al-Atsari خفظه الله, hal.47

Download:
Berhias untuk Suami dengan Rambut Warna-Warni: DOC atau CHM

Baca pula:
Hukum Wanita Memotong Rambut

Suami Suka Pacaran

Soal:

Assalamu’alaikum. Saya ibu dan 3 anak yang sudah menikah selama 9  tahun. Suami saya memiliki hobi pacaran dan main game, sementara  hutang menumpuk banyak. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk menyadarkan suami, dan bicara baik-baik sampai saya kabur dan rumah. Tapi semua itu tak ada pengaruhnya sama sekali. Apa yang harus saya lakukan? Berdosakah bila saya minta cerai? Kedua orang tua saya dan mertua adalah keluarga berantakan. (Fulanah, Bumi Alloh, +628194700xxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmarullohi wabarokatuh.

Ukhti, bila seorang suami sering pacaran maka sungguh amat berbahaya. Keluarga jadi tidak terurus dan pantas bila hutangnya banyak, apalagi senang main game. Waktu yang mestinya untuk mencari nafkah digunakan untuk bermain game dan pacaran. Bisa jadi ketika bermain game ia main judi juga. Inilah kesalahan suami. Ia harus berhenti dan perbuatan jahatnya itu, apalagi sudah berkeluarga dan punya anak.

Sebaiknya Ukhti tidak usah kabur dan rumah karena tindakan itu tidak akan membuat ia menjadi jera. Adapun bila Ukhti minta cerai maka itu boleh-boleh saja, melihat kondisi suami yang sudah begitu parahnya dan susah dinasihati. Namun yang menjadi persoalan, mampukah Ukhti hidup sendiri dengan menanggung tiga anak tersebut seandainya suami tidak peduli dengan anaknya? Apalagi orang tua dan mertua demikian rupa keadaannya.

Baca lebih lanjut