Mandi Haid Setelah Fajar Apakah Puasa Sah?

Soal:

Seorang wanita yang haid atau nifas bila suci sebelum fajar, tetapi belum mandi kecuali setelah fajar, apakah sah puasanya atau tidak?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya, sah puasa wanita haid yang suci sebelum fajar dan belum mandi kecuali setelah terbit fejar Juga wanita nifas, karena pada saat itu dia termasuk wanita yang beriiak ikut berpuasa, keadaannya serupa dengan orang yang wajib mandi jinabat, tatkala fajar terbit dia masih dalam keadaan junub dan belum mandi, maka puasanya adalah sah. Berdasarkan firman Allah azza wa jalla:

فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benanghitam, yaitu fajar”. (Al Baqarah: 187).

Jika Allah mengizinkan untuk menggaulinya hingga nyata fajar, berarti mandi tidak terjadi kecuali setelah terbit fajar. Dan berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha:

أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ أَهْلِهِ وَهَوَ صَائِمٌ

“Bahwa Nabi shallalahu alaihi wasallam suatu pagi pernah dalam keadaan junub karena menggauli isterinya,sedangkan beliau pun berpuasa”

Artinya: bahwa Nabi shallalahu alaihi wasallam tidak mandi junub kecuali setelah terbit fajar.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 10-12 pertanyaan ke-4.

Duduk Raka’at Kedua

Soal:

Bagaimanakah posisi duduk tahiyyat pada shalat yang dua raka’at, seperti Shubuh, Jum’at, shalat sunnah, tarawih dan witir? Apakah seperti halnya tahiyyat awal atau tahiyyat akhir pada shalat empat raka’at?

0812251xxxx

Jawab:

Apabila shalat hanya dua raka’at, baik shalat fardhu (seperti halnya shalat Shubuh) maupun shalat sunnah yang hanya ada satu tasyahud (tahiyyat), maka duduk yang disunnahkan ialah duduk iftirasy. Yaitu seperti duduk pada tasyahud awal pada shalat yang lebih dari dua raka’at. Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah رضي الله عنها yang berbunyi:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Dahulu Rasulullah صلى الله عليه وسلم gmengucapkan at-tahiyyat pada setiap dua raka’at dan duduk iftirasy. (HR. Muslim).

Dalam kitab Sifat Shalat Nabi صلى الله عليه وسلم, halaman 156, Syaikh al-Albani menjelaskan: “Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم duduk untuk tasyahud setelah selesai dari raka’at kedua. Apabila shalatnya dua raka’at, seperti Shubuh, maka beliau صلى الله عليه وسلم duduk iftirasy sebagaimana duduk antara dua sujud”.

Baca lebih lanjut

Sholat Qobliyah Subuh setelah Sholat Subuh

Soal:

Assalamu’alaikum, Suatu ketika saya tidak sempat melaksanakan sholat dua roka’at sebelum Subuh (Qobliyah Subuh), bolehkah saya melakukannya setelah sholat Subuh langsung, padahal ini adalah waktu yang dilarang? 081XX191XX02

Jawab:

Wa’alaikumussalam, di antara waktu yang dilarang untuk melaksanakan sholat adalah setelah sholat Subuh sampai matahari terbit setinggi tombak. Akan tetapi apabila seseorang mempunyai udzur sehingga belum sempat melaksanakan Qobliyah Subuh, maka dibolehkan untuk meng-qodho-nya setelah sholat Subuh, hal ini lantaran dia melaksanakan sholat ini, (Qobliyah Subuh) karena suatu sebab khusus, dan juga karena didasari oleh sebuah hadits.

عَنْ قَيْسٍ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي فَقَالَ مَهْلًا يَا قَيْسُ أَصَلَاتَانِ مَعًا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قَالَ فَلَا إِذَنْ

Baca lebih lanjut

Kapan Tambahan Adzan Subuh Diucapkan

Adzan Saat Shalat JUM’AT
dan Tatswib Saat SUBUH

Soal:

Assalamu’alaikum. Kami mendapati pada sebagian masjid ada yang menjadikan adzan untuk shalat Jum’at sekali dan ada yang dua kali, sebagaimana ada juga yang menjadikan tatswib pada adzan pertama sebelum subuh dan ada yang saat adzan subuh. Kami mohon penjelasan tentang perbedaan ini. Manakah yang benar dan bagaimana menyikapinya?! Jazakumullahu khairan. (Hamba Allah, via sms)

Jawab:

Masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan ulama sejak dahulu hingga sekarang. Sebab itu, sebelum kami mengetengahkan jawaban atas pertanyaan ini, perlu kiranya kami menghimbau kepada saudara-saudara kami untuk menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah seperti ini dengan bijak, yaitu sikap lapang dada. Masalah ini juga hendaknya menjadikan kita untuk lebih memperluas wacana tentang perselisihan ulama, karena sebagaimana kata Imam Qatadah, “Barangsiapa yang tidak mengetahui perselisihan ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih.”[1]

Adapun mengenai pertanyaan Saudara, terdapat dua permasalahan yang perlu dijelaskan:

MASALAH PERTAMA: TATSWIB[2]

Tatswib adalah ucapan seorang muadzin اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ (artinya: “Shalat lebih baik dari-pada tidur”). Tatswib hukumnya sunnah pada adzan shalat Subuh saja[3], selain shalat Subuh tidak disyari’atkan. Hanya, kapankah tatswib diucapkan? Apakah pada adzan pertama sebelum subuh ataukah adzan subuh setelah terbit-nya fajar? Masalah ini diperselisihkan ulama:

Pendapat Pertama

Tatswib disyari’atkan pada adzan pertama sebelum subuh. Ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Hanbali[4] dan dipilih oleh ash-Shan’ani[5] dan Syaikh Albani[6]. Dalil mereka adalah sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Tidak Shalat Fajar Karena Kelelahan

Soal:

Syaikh ‘Utsaimin  ditanya berkaitan dengan seorang pemuda yang mustaqim, namun ia sering merasa kelelahan dalam pekerjaannya, bahkan ia tidak bisa shalat Fajar (Subuh) tepat pada waktunya karena kelelahan dan terasa berat?

Jawab:

Ia berkewajiban untuk meninggalkan pekerjaan tersebut yang menjadi penyebab mengakhirkan shalat Fajar. Sebab hukum sarana itu sama dengan tujuannya. Apabila ia mengetahui bahwa seandainya dengan tidak memforsir diri itu ia akan mampu untuk melaksanakan shalat fajar, maka ia berkewajiban untuk tidak memforsir diri, sehingga ia mampu melaksanakan shalat Fajar tepat waktunya bersama kaum muslimin. (Majmu’ Fatawa Bin ‘Utsaimin, XII/122)


Disalin dari: Fatwa-fatwa Bagi Pegawai, terbitan at-Tibyan Solo, hal. 40-41

Download:
Tidak Shalat Fajar Karena Kelelahan: DOC atau CHM

Tambahan Adzan Subuh Kapan di Ucapkan?

Soal:

Ketika adzan fajar, apakah lafadz اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ diucapkan pada adzan yang pertama atau adzan yang kedua?

Jawab:

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Lafadz اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ diucapkan pada adzan yang pertama (sebelum masuk waktu subuh ~pent), sebagaimana masalah ini sangat jelas disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih riwayat an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah. Hadits ini mempunyai syahid dari hadits ‘Abdullah Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, bahwasanya tatswib (lafadz اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ) di zaman Rasulullah صلي الله عليه وسلم diucapkan pada azan pertama. Ini ditinjau dari segi periwayatan hadits.

Sunnah ini menjadi lebih kuat jika dipelajari dan dicermati tentang hikmah yang terkandung pada makna kalimat ini “Shalat itu lebih baik daripada tidur”, karena sesungguhnya adzan yang pertama berfungsi membangunkan orang yang sedang tidur, dan agar mereka yang akan berpuasa dapat bersahur. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، وَكَانَ رَجُلًا أَعْمَى لَا يُنَادِي حَتَّى يُقَالَ لَهُ أَصْبَحْتَ أَصْبَحْتَ

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kamu hingga adzannya ‘Abdullah bin Ummi Maktum (Abdullah Ibnu ‘Umar berkata: ~pent) dan dia (‘Abdullah Ibnu Maktum orang yang buta, ia tidak mengumandangkan adzan hingga dikatakan padanya: ‘telah masuk waktu subuh, telah masuk waktu subuh”‘ (Bukhari dan Muslim).[1]

Dengan demikian tepatlah seorang yang mengumandangkan adzan yang pertama untuk mengucapkan اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ karena sebagian orang masih tidur, maka dikatakan kepada mereka ucapan tersebut yang artinya “shalat itu lebih baik daripada tidur”.

Adapun setelah mereka terbangun dari tidurnya dan berbondong-bondong menuju ke masjid, apa perlunya mengucapkan “ash-shalatu khairum minan naum”?. Karena orang-orang yang tidur telah bangun dari tidur mereka. Berdasarkan apa yang disebutkan di atas, maka penempatan lafazh tersebut pada adzan yang kedua menafikan dan mengesampingkan hikmah/ tujuan disyari’atkannya kalimat tersebut. Atas dasar ini maka terpadulah secara periwayatan hadits ataupun secara analisa bahwa kalimat اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ ditempatkan pada adzan yang pertama dan bukan yang kedua. Namun sangat disayangkan sekali kita jumpai kaum muslimin di zaman ini menyelisihi Sunnah ini. Oleh sebab itu sudah sepatutnya bagi para da’i yang mengajak manusia kembali kepada Sunnah Rasul صلي الله عليه وسلم, untuk membimbing dan mengarahkan umat kepada yang lebih baik, agar mereka siap menerima Sunnah ini seperti sediakala pada masa kehidupan Rasulullah صلي الله عليه وسلم.


[1] Lihat Shahiih al-Bukhari no. 617 dan Shahiih Muslim no. 1092, Buluughul Maraam Hadits no. 189-190, hal. 48)

Sumber :
Biografi Syaikh al-Albani, penyusun Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 248-249.