Hukum Memandang Wanita yang Dipinang

Soal:

Bagaimakah hukum agama mengenai seorang laki-laki memandang (Nazhar) wanita yang akan dipinangnya apabila wanita tersebut dalam keadaan tidak menutup kepala (Jilbab)? Hal ini terjadi berdasarkan rencana yang dibuat oleh keluarga si wanita dan lelaki peminang. Bagaimana jika proses nazhar ini terjadi secara sembunyi-sembunyi? Apakah ada perbedaan antara dua kasus tersebut?

Jawab:

Syaikh al-Fauzan خفظه الله menjawab:

Termasuk sebuah kewajiban bagi seorang wanita adalah menutupi dirinya dari pandangan kaum laki-laki, sehingga tidak ada seorang laki-laki pun yang memandang bagian tubuh wanita yang tidak halal dipandang untuk laki-laki yang bukan mahram. Namun ketika ada seorang laki-laki meminang seorang wanita dan lelaki tersebut memiliki keyakinan yang kuat bahwa lamarannya akan mendapat tanggapan, maka Nabi memberi keringanan untuk memandang bagian tubuh wanita yang biasa terbuka, seperti wajah dan dua telapak tangan, sebagaimana yang termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Adapun cara yang terbaik adalah jika nazhar ini dilakukan tanpa sepengetahuan si wanita. Misalnya mengintai dari suatu tempat yang memungkinkan untuk melihatnya tanpa dia ketahui, sehingga wanita tersebut tidak menunjukkan sifat yang dibuat-buat. Hal ini karena andai si wanita mengetahui, maka ada kemungkinan ia akan menunjukkan sifat yang dibuat-buat atau bahkan menipu dan menampilkan keadaan lain dari keadaan yang sesungguhnya, serta menyembunyikan aib-aib yang ia miliki.

Baca lebih lanjut

Suara Riuh Wanita di Pesta

Soal:

Bagaimakah hukum zaghrathah, yaitu suara riuh rendah kaum wanita pada acara pesta pernikahan untuk mengekpresikan rasa gembira. ketika mempelai putra dipertemukan dengan dengan mempelai putri?

Jawab:

Syaikh al-Fauzan خفظه الله menjawab:

Seorang wanita tidak boleh bersuara keras ketika dia berada di dekat kaum laki-laki, karena suara wanita adalah fitnah, baik berupa zaghrathah ataupun yang lainnya. Di samping itu zaghrathah adalah sebuah perkara yang bukan merupakan tata krama kebanyakan umat lslam, baik dahulu ataupun sekarang. Zaghrathah merupakan sebuah kebiasaan buruk yang seharusnya ditinggalkan, karena menunjukkan kurang memiliki rasa malu. (Al-Muntaqaa Min Fatawa Al-Fauzan 3/301)


Disalin dari: Fatawa Liz Zaujain Kepada Pasangan Suami Istri, terbitan Media Hidayah Jogjakarta, hal. 19-20

Download:
Suara Riuh Wanita di Pesta:

Download Word

Berhias untuk Suami dengan Rambut Warna-Warni

Soal:

Assalamualaikum. Ustadz, apakah boleh kita mewarnai rambut yang hitam menjadi merah, coklat, ungu atau warna-warna yang lain? Dan bolehkah kita berhias untuk suami dengan cara mewarnai rambut? Mohon dijelaskan sejelas-jelasnya. Jazakumullahu khoiron.

(Ummu Abdulloh, Sumbawa, +628191758xxxx)

Jawab:

Syaikh Abdulloh bin Jibrin pernah memfatwakan: “Celupan yang berwarna-warni pada rambut, seperti merah, hijau, putih dan yang lainnya, termasuk mengubah ciptaan Alloh serta meniru orang-orang barat. Kaum muslimin tidak pernah mengenal hal itu sebelum datangnya misionaris dan delegasi wanita kafir. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut… dikecualikan dari hal itu jika rambutnya putih sehingga semuanya beruban, maka boleh baginya menggunakan inai yang berwarna merah karena adanya perintah untuk mengubah uban dengan warna selain hitam.”[] (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin 101/10)


Disalin dari: Majalah Al-Mawaddah Edisi 12 Th. Ke-2 Rojab 1430 H, Rubrik Ulama Berfatwa asuhan Ustadz Abu Bakar al-Atsari خفظه الله, hal.47

Download:
Berhias untuk Suami dengan Rambut Warna-Warni: DOC atau CHM

Baca pula:
Hukum Wanita Memotong Rambut

Batalkah Wudhu Karena Menyentuh Lawan Jenis?

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, apakah bila suami istri yang telah berwudhu bersentuhan wudhunya batal? Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan banyak terimakasih. (Rilla, Bumi Alloh, +62811750xxxx)

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله pernah ditanya apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu? Beliau menjawab: “Pendapat yang benar menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu kecuali jika keluar sesuatu dan kemaluannya. Hal ini berdasarkan hadits shohih (yang artinya): ‘Rosululloh mencium salah seorang isrrinya lalu melaksanakan sholat tanpa mengulang wudhunya.

Pada dasarnya tidak ada yang membatalkan wudhu kecuali terdapat dalil yang jelas lagi shohih yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu. Dan seseorang pada dasarnya dianggap telah menyempurnakan wudhunya sesuai dengan dalil syar’i. Dan sesuatu yang telah ditetapkan dalil syar’i tidak bisa digugurkan kecuali dengan dalil syar’i pula. Jika ada yang bertanya, bagaimana dengan firman Alloh عزّوجلّ: Baca lebih lanjut

Wanita Sholat Jum’at

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz yang ana horrnati, ana mau tanya. Sholat Jum’at hukumnya tidak wajib bagi wanita, tetapi bila seorang wanita keluar untuk sholat Jum’at, apakah wajib baginya untuk mengulangi sholat Zhuhur di rumahnya? Syukron. (Shofiyyah Ummu Asya, Ampenan-MATARAM,+628199953xxxx)

Jawab:

Lajnah Da’imah lil Ifta ditanya: “Apa hukum pelaksanaan sholat Jum’at bagi wanita? Apakah sholat itu dilakukan sebelum atau sesudah kaum pria, ataukah bersama-sama mereka?

Dan jawabannya ialah: “Sholat Jum’at tidak wajib bagi kaum wanita. Akan tetapi, jika seorang wanita melaksanakan sholat Jum’at bersama imam sholat Jum’at maka sholatnya sah. Dan jika ia ingin melaksanakan sholat seorang diri di rumah maka yang harus ia kerjakan adalah sholat Zhuhur sebanyak empat roka’at. Sholat Zhuhur itu dilaksanakan setelah masuknya waktu sholat atau setelh matahari condong ke barat. Dan seorang wanita tidak boleh melaksanakan sholat jum’at seorang diri.” Baca lebih lanjut

Metode Berdakwah Bagi Wanita

Soal:

Apakah metode terbaik dalam berdakwah bagi wanita?

Jawab :

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Saya katakan kepada para wanita: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ “Tetaplah kalian di rumah-rumah kalian!”.[1] Kalian tidak punya urusan dalam berdakwah. Saya mengingkari (tidak menyetuji ~pent) penggunaan kata dakwah dikalangan kawula muda, bahwa mereka termasuk yang berhak berdakwah. Seolah-olah kata “dakwah” sebuah metode/trend masa kini. Dimana setiap orang yang baru saja mengetahui sedikit ilmu agama, dengan serta merta menjadi seorang da’i. Urusan ini tidak sampai disitu saja, bahkan istilah dakwah ini menyentuh pula para muda mudi dan para ibu rumah tangga. Akibatnya, dalam banyak kesempatan merekapun meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab rumah tangga, suami, dan anak-anak mereka, karena mengemban sesuatu yang bukan tugas mereka, yaitu berdakwah. Pada dasarnya seorang wanita harus berdiam di rumah. Tidak disyari’atkan keluar dari rumahnya kecuali untuk suatu kepentingan yang sangat mendesak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi صلي الله عليه وسلم:

وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَـهُنَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِي الْمَسَاجِدِ

“…..Dan di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka daripada shalat di masjid-masjid.”

Sementera kita menyaksikan dizaman ini sebuah fenomena yang merebak dikalangan wanita, mereka memperbanyak keluar ke masjid-masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Apalagi di hari Jum’at untuk shalat Jum’at. Padahal rumah mereka lebih baik bagi mereka. Terkecuali ada sebuah masjid disana terdapat seorang imam yang ‘alim yang mengajarkan sebagian ilmu agama kepada para jama’ah, lalu seorang wanita keluar untuk shalat di masjid tersebut, dan mendengar dengan seksama ilmu yang disampaikannya, maka yang demikian itu adalah tidak mengapa. Adapun seorang wanita yang menyibukkan dirinya dengan berdakwah (maka kami katakan ~pent), hendaklah ia tinggal dirumahnya dan membaca kitab-kitab yang telah disiapkan oleh suami, saudara, atau sanak keluarganya. Kemudian tidak mengapa jika suatu hari ia mengajak dan mengundang para wanita untuk hadir di rumahnya atau ia yang keluar, kerumah salah seorang di antara mereka. Yang demikian itu lebih baik daripada keluarnya sekelompok wanita kepadanya. Adapun keluarnya seorang wanita atau melakukan perjalanan jauh yang terkadang tanpa ditemani oleh mahramnya dengan berdalihkan “dakwah”, ini adalah salah satu dari bid’ah-bid’ah zaman ini. Masalah ini tidak hanya khusus bagi wanita saja, bahkan juga bagi para pemuda yang menjadikan hobby mereka berbicara dalam masalah dakwah, sementara ilmu mereka masih sangat dangkal. (Al-Ashaalah 18, hal : 74-75).


[1] QS. Al-Ahzab[33]: 33

Sumber:
Biografi Syaikh al-Albani, penyusun Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 253-254.

Bolehkah Wanita Menjadi Hakim

Soal:

Apakah boleh seorang wanita menjadi qadhi (hakim)?

Jawab:

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Tidak dibolehkan seorang wanita menjadi qadhi.

Barangsiapa beranggapan bahwa “kehakiman” (pengadilan) sebagai pemberitaan hukum syari’at berarti ia telah berbuat suatu pelecehan. Karena pengadilan lebih banyak perannya dari sekedar memberikan “fatwa”. Tidak setiap orang yang memberi fatwa statusnya sebagai hakim/qadhi, demikian sebaliknya tidak setiap qadhi statusnya sebagai pemberi fatwa. Terkadang makna keduanya menyatu. Sesungguhnya seorang qadhi sama dengan seorang hakim, ia diperintahkan untuk melaksanakan fatwa, sedangkan seorang pemberi fatwa tidak memiliki kekuasaan untuk melaksanakan fatwanya. Dan sungguh Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah mengabarkan, bahwa suatu kaum yang mengangkat seorang wanita untuk mengurusi urusan mereka, tidak akan beruntung sebagaimana dalam Shahiih al-Bukhari dari hadits Abu Bakrah رضي الله عنه. (al-Ashaalah 17, hal : 70).


Sumber :
Biografi Syaikh al-Albani, penyusun Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 247.

Upah Tukang Sisir (Salon)

Soal:

Bagaimana hukumnya tukang sisir wanita ?

Jawab:

Tukang sisir bagi kaum wanita, jika dia menyisir dengan model yang mubah (diperbolehkan), maksudnya dia memperbaikinya dan menghiasinya dengan model yang tidak menyerupai wanita-wanita kafir dan tidak menyerupai kaum lelaki, maka itu boleh. Namun, jika dia menyisirnya dengan model yang melanggar aturan syariat, maka pekerjaan itu menjadi haram dan hasilnya pun haram.[1]

وباالله التوفيق وصلى على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

al-Lajnatud Daimah lil Buhutsil ‘ilmiyyah Wal Ifta’

Ketua: Syaikh Abdul, Aziz bin Abdullah bin Baz;
Wakil: Syaikh Abdurrazzaq Afifi;
Anggota: Syaikh Abdullah bin Gahdyan, Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.


[1] Fatawa al-Lajnatid Daimah lil Buhutsil ‘ilmiyyah Wal Ifta’, 15/76

Disalin dari: Majalah As-Sunnah No. 11/Thn.XIV Rabiul Tsani 1432_2011 hal 52

Hukum Wanita Memotong Rambut

Soal:

Apa hukum seorang wanita memotong rambutnya?

Jawab:

Imam al-Albani رحمه الله menjawab:

Seorang wanita yang memotong rambutnya harus dilihat dari faktor pendorongnya, jika ia memotongnya dengan tujuan menyerupai wanita-wanita kafir atau fasik, maka tidak boleh ia memotongnya dengan niat tersebut.

Adapun jika ia menyenangkan suaminya, maka saya tidak melihat adanya larangan atas perbuatan memotongnya dengan maksud meringankan beban rambutnya atau untuk menyenangkan suaminya, maka saya tidak melihat adanya larangan atas perbutan tersebut. Di dalam shohih Muslim:

أَنَّ نِسَاءَ النَّبِـيِّ صلى الله عليه وسلم كُنَّ يَأْخُذْنَ مِنْ شُعُوْرِهِنَّ حَتَّى تَكُوْنَ كَالْوَفْرَةِ

“Bahwasanya isteri-isteri Nabi صلي الله عليه وسلم mengambil (memotong) rambut-rambut mereka hingga seperti wafroh.” (Majalah al-Ashaalah: I : 47-48)

Sumber :

Biografi Syaikh al-Albani, penerjemah Ustadz Mubarok Bamuallim, Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal 224.

Sebutan Bunda

Soal:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Ustadz, Apakah ada larangan seorang anak memanggil ibunya dengan sebutan bunda? Apakah sebutan bunda hanya untuk orang non muslim tertentu saja? Wassalamu ‘alaikum. (Wantita|via email)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Hukum asal segala sesuatu yang tidak ada kaitan dengan ibadah adalah boleh. Dan kami tidak mengetahui adanya larangan dalam hal ini. Adapun perkataan bahwa panggilan tersebut merupakan kekhususan orang non muslim tertentu, maka perlu ditinjau lagi. Menurut pengetahuan kami, hal itu bukan kekhususan bagi non muslim. Kesimpulannya, hukum tersebut dikembalikan kepada hukum asal yaitu boleh. Wallohu a’lam. (Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM خفظه الله)

Sumber:
Majalah Al-Furqon ed 11 th ke-9 Jumadil Tsani 1432, Rubrik Soal-Jawab