Tidak ada Riwayat dari Rasulullah

Soal:

Apa alasannya bahwa tidak ada hadits yang diriwayatkan dari Rusulullah صلى الله عليه وسلم yang menunjukkan batalnya wudhu karena cairan [yang keluar dari rahim] tersebut, padahal para sahabat wanita senantiasa berusaha meminta fatwa dalam urusan agama?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Karena cairan ini tidak menimpa semua wanita.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 31 pertanyaan ke-35.

Cukup Wudhu’ bila Cairan Keluar dari Rahim

Soal:

Wudhu yang dilakukan karena keluarnya cairan tadi [dari rahim], apakah cukup dengan membasuh anggota tubuh dalam wudhu saja?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ya, cukup dengan hal tu  bila cairan itu suci, yaitu yang keluar dari rahim bukan dari kandung kemih.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 31 pertanyaan ke-34.

Perlukah Wudhu’ Lagi?

Soal:

Sahkah wanita ini (keluar terus cairan dari farji-nya) mengerjakan shalat malam setelah lewat tengah malam dengan wudhu Isya’?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Tidak. Jika lewat tengah malam wajib baginya berwudhu lagi. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak perlu berwudhu dan ini pendapat yang kuat.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 30 pertanyaan ke-30.

Waktu-waktu Sholat

Soal:

Apakah sah wanita tadi [terus keluar cairan dari farjinya] mengerjakan shalat Dhuha dengan wudhu untuk shalat Subuh?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Tidak sah, karena shalat Dhuha sudah tertentu waktunya, maka perlu berwudhu lagi untuk shalat Dhuha setelah masuk waktunya. Sebab, wanita ini hukumnya seperti wanita istihadhah, dan Nabi صلى الله عليه وسلم telah memerintahkan kepada wanita istihadhah supaya berwudhu untuk setiap shalat.

  • Waktu Zhuhur: mulai dari tergelincirnya matahari sampai waktu Asar.
  • Waktu Asar: mulai dari masuknya waktu Asar sampai matahari berwama kekuning-kuningan, dan daruratnya sampai terbenam matahari.
  • Waktu Maghrib: mulai dari terbenarn matahari sampai hilangnya sinar merah.
  • Walau Isya’: mulai·dari hilangnya sinar merah setelah terbenam matahari sampai pertengahan malam.[]

Disalin dari 52 Persoalan Sekitar Haid, Oleh Syaikh ibn Utsaimin, Terjemah Muhammad Yusuf Harun, Terbitan Yayasan al-Sofwa Jakarta, hal. 29-30 pertanyaan ke-29.